Yongboyong Travel, 2017, dan Apa Maunya Mereka

Konser musik di Ibu Kota bakal selalu menggila seperti biasa. Peminatnya banyak, membludak, datangnya dari penjuru Tanah Air. Khusus untuk Bandung dan sekitarnya, Yongboyong diketahui sebagai travel bagi mereka untuk menuju Jakarta sebagai penebus hasrat atas dirinya yang ingin menonton aksi pujaan langsung dengan mata kepala sendiri.

Memasuki 2017, usia Yongboyong telah mencapai umur 7 tahun. Berbagai kisahnya pernah ditulis oleh Surnalisme pada tahun 2016 lalu. Seolah tak henti-henti mencanangkan inovasi di ranah antar jemput Bandung – Jakarta, dua pendiri bernama Djunizar Ega Kusuma dan Andre Febri Syam kembali berkesempatan untuk bercerita banyak tentang apa yang telah mereka lakukan pada beberapa waktu ke belakang.

“Di tahun 2016, menurut saya event musik Jakarta lebih variatif. Banyak yang menyegarkan dan lebih variatif saja, seperti Tame Impala sampai Morrissey. Kita lihat, banyak tipikal penonton pada setiap konsernya. Morrissey lebih seru, Hammersonic tumben-tumbennya agak sepi,” kata Ega, coba mengingat-ingat kondisi saat itu.

Beberapa gelaran musik internasional seperti M83, Tame Impala, Morrissey dan lainnya yang diliput oleh Surnalisme, tak lepas dari tumpangan Yongboyong. Sejumlah lapisan masyarakat, berhasil mereka boyong pada setiap perjalanan mulai dari penikmat biasa, pewarta, sampai musisi terkenal. Selain acara musik Ibu Kota yang menurut Ega berwarna, konon Yongboyong juga banyak menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak pada 2016 silam.

“Kerja samanya gencar, seperti partnership dengan promotor atau join sama teman-teman. Semuanya berjalan dengan cukup baik, relasi kita juga semakin banyak,” ucap pendiri Yongboyong lainnya, Andre. Ya, kiprah Yongboyong, khususnya dua founder mereka, termasyhur bahkan sampai bawah tanah; di mana calo-calo tiket konser bersemayam.

Kemajuan pesat buat Yongboyong dapat dilihat pada tahun 2016, saat mereka mulai melakukan sejumlah aktivasi bersama produk lain, baik dari promotor sampai produk-produk tertentu. Partnership tanda ceklis, tempat penjualan tiket juga dicentang. Jadi, apalagi yang diinginkan oleh Yongboyong di tahun 2017 bila semuanya sudah terpenuhi?

“Kita mau fokus buat kerjasama ke beberapa pihak baru, serta memperbanyak relasi entah dari promotor atau pelanggan, pokoknya segala kenyamanan yang bisa membantu mood keberangkatan. Yang terpenting, kita harus prepare untuk tetap ada serta menjaga konsistensi,” ujar Ega optimis, bagaikan frontman grup musik glam rock era ‘80-an.

 

“Menonton musik = trip,” kampanye produk Yongboyong

1493402871704Harap jangan dianggap miring, karena trip di sini bukanlah kebiasaan pemabuk-pemabuk kelas teri yang menghabiskan duit orang tua untuk membeli LSD. Perlu diluruskan, bahwa trip yang ditawarkan Yongboyong adalah kebahagiaan berbalut canda tawa di dalam bus, dengan mulut tetap mengunyah kudapan-kudapan menggemaskan ala ruang tamu keluarga pada umumnya.

“Sebelumnya, kalau nonton konser kayak yang cuma datang saja. Kita ingin menanamkan sesuatu yang enjoy gitu, walaupun enggak tahu band-nya apa, tapi bisa dijadikan ajang refreshing. Kami ingin lebih mendekatkan diri ke penonton dan membuat mereka nyaman, sehingga nge-branding konser musiknya melalui hal itu,” tutur Ega.

Secara sederhana, tujuan Yongboyong adalah tetap menyediakan jasa travel musik yang membawa calon penonton menuju konser impian mereka. Namun, konsep brand campaign ini tak lepas dari upaya mereka untuk menciptakan nuansa intim nan syahdu, tak seperti travel pada umumnya yang kaku dan berbicara pada penumpang sebelah hanya ketika “permisi, numpang lewat”.

 

Ragam penonton sampai harapan

“Selalu ada penonton yang unik, apalagi kalau konser metal. Seorang pelanggan Yongboyong yang namanya Mbak Retno misalkan, dia datang ke Hammersonic untuk menonton Asking Alexandria dan Revenge the Fate. Dengar cerita orang, banyak yang nge-fans sama dia,” ujar Andre. Sosok bernama Retno ini, kerap menghibur kepenatan Andre serta Ega tatkala mengorganisir Yongboyong di saat keberangkatan maupun perjalanan.

Kisah-kisah menarik lainnya, pernah diceritakan oleh Surnalisme pada artikel terdahulu. Semua yang terhimpun di sini, mampu menjadi bukti bahwa Yongboyong andal dalam menjalankan tugasnya sebagai travel musik sekaligus pemersatu khalayak Bandung yang ingin menonton konser di Jakarta.

Meski mulai menapaki puncak, namun Ega mengaku mereka memiliki kekurangan yang kentara bila dirasa-rasa. Kasus terlambat keberangkatan yang pernah terjadi saat konser M83 dan sejumlah prahara lainnya, bakal ia serta kru Yongboyong perbaiki agar lebih baik lagi.

“Belajar dari 2016, kita ingin memperbaiki banyak kesalahan seperti masalah keterlambatan. Soal armada, kita juga mau selektif dan ingin merekrut staf untuk absensi dan konsumsi. Yongboyong juga bakal meng-hire freelance designer, kita pengen lebih dikenal lagi lewat digital strategy yang baik,” kata Andre, memaparkan visi dan misi dalam memantapkan kiprah Yongboyong ke depan.

 

Ingin langsung menggapai Yongboyong? Tempuh jalur-jalur berikut:

Telepon/WA    : 08221554436

Instagram        : @yongboyonggroup

LINE               : @TBP4111R

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Dokumen Yongboyong

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)