Yongboyong Travel: Pilihan Tepat untuk Menonton Konser Musik

Kebanyakan, konser musik dengan musisi internasional berlangsung di Jakarta. Betulkah? Tentu, mengingat ibu kota pasti menjadi pilihan utama karena anggapan soal tempatnya yang strategis serta sentral. Lalu apa jadinya, kalau misalkan kita bukan berasal dari daerah istimewa tersebut, misalkan Bandung? Berbagai cara dapat dilakukan untuk menempuh jaraknya, apalagi kalau hasrat sudah terlanjur ‘basah.’

Taruhlah kita punya kendaraan seperti mobil. Bagaimana kalau tak mengenal rute Jakarta yang terkadang memusingkan itu? Atau dengan sepeda motor. Apakah efisien jika harus memakainya lalu melintasi jalur tradisional (Bandung-Cianjur-Puncak-Jakarta)? Mungkin tidak. Kendaraan umum pun bisa-bisa saja, tapi tak akan langsung sampai di tujuan. Berangkat dari kepusingan tersebut, coba kenali travel konser musik asal Bandung bernama “Yongboyong.”

Logo Kotak

Ya, Yongboyong adalah jasa travel khusus bagi penonton konser asal Bandung dan sekitarnya yang akan melayani para penumpang untuk sampai tepat di lokasi venue berada. Berdiri di tahun 2010, mereka yang mencetuskan bernama Djunizar Ega Kusuma dan Andre Febri Syam.

Ditemui di kedai kopi bilangan Jln. Katamso pada Minggu (10/4), mereka bercerita banyak soal usaha travelnya tersebut. Ditemani oleh Alma Arif, salah satu punggawa Yongboyonh, beserta snack cimol kering (moring) yang ia bekali pada kawan-kawan, obrolan berlangsung secara akrab dan selalu dihiasi guyonan segar.

Mula-mula, Ega bercerita tentang mengapa terbesit dalam pikiran untuk mendirikan travel musik. “Awalnya saya dan Andre pergi ke konser Hatebreed pada tahun 2010 dengan menyewa mobil. Ongkos mobil tuh ternyata mahal ya, pas pulangnya kita kepepet nggak ada uang untuk bensin karena dompet terbatas. Kebetulan, pulangnya ada beberapa teman yang mau ikut dan akhirnya kita berpikiran untuk menagih uang bensin patungan. Di awal malu-malu, tapi akhirnya minta juga,” ungkap Ega.

Sip bersama penumpang
Ega bersama para penumpang Yongboyong tengah beristirahat.

Andre menyambungkan dengan latar belakang lainnya. “Kita juga pernah menonton konser, kalau nggak salah Hammersonic lupa tahun berapa, naik travel biasa. Kita ngerasain susahnya naik ‘travel biasa’ tuh ya mesti turun di pinggir jalan, terus nggak bisa nonton acara sampai beres karena harus mengejar jadwal travel umum yang nggak sampai malem. Ditambah lagi dari Senayan sampai salah satu tempat travel, kita jalan kaki. Intinya repot. Lewat hal itu pula, akhirnya kita benar-benar matang ingin membuat travel musik.”

Semuanya mengalir begitu saja. Akhirnya waktu demi waktu berjalan, dan Yongboyong kian konsisten dalam melayani para penumpang untuk sampai ke tujuan; mulai dari awal sampai akhir. Mereka tak harus berpikir keras untuk menciptakan sebuah usaha, karena semuanya berawal dari kegelisahan pribadi saat berangkat menonton konser. “Pada saat itu, di Bandung juga masih jarang ada travel musik seperti Yongboyong,” tambah Andre.

Nama Yongboyong kian besar dan makin dikenal orang. Selain Ega dan Andre, Alma juga turut berkomentar soal ini. “Banyak orang-orang yang memberi apresiasi gitu, tapi ada juga yang mengkritik salah satunya kalau pembagian snack ga merata sampai ke penumpang paling belakang. Hal tersebut diamini pula oleh kedua rekannya, bahwa saat ini mereka selalu kebanjiran request untuk pergi menonton konser ke Jakarta.

Rombongan Mac Demarco
Rombongan penumpang Yongboyong Travel yang menyambi konser Mac Demarco pada awal 2015 lalu.

Meski usaha ini terhitung sedikit, tapi ada juga beberapa travel yang sejenis dengan Yongboyong. “Tidak ada persaingan juga sih meskipun sedikit, karena mereka masih teman kita juga. Kalau kuota penumpang Yongboyong sedikit begitupun mereka, biasanya kita langsung join untuk menyatukan penumpang,” jelas Andre.

Tak mungkin Yongboyong berdiri tanpa ada satu atau dua kisah yang tersirat. Diakui oleh Ega, banyak sekali cerita lucu sampai menyebalkan yang pernah terjadi sejauh mata memandang. “Kita jadi tahu bahwa banyak calo tiket di sekitaran konser yang bisa menjual harga di bawah standar. Uniknya lagi, terkadang mereka bukan cuma menjual tiket saja, tapi juga kartu pers. Itu kan udah menyalahi banget, tapi cukup unik juga,” ujar pria berkacamata ini. Hal-hal lain menyoal penumpang juga banyak mereka beberkan.

“Kita pernah panik gara-gara ada penumpang yang ketinggalan buat diantar pulang gara-gara dia menghilang dulu entah ke mana, meski akhirnya beres juga permasalahan. Lalu pernah juga Ega mengantar salah satu penumpang yang di awal kita mengira rumahnya dekat, ternyata jauh di pinggir Bandung,” jelas Andre. Pengalaman-pengalaman unik tersebut, masih terus terekam di benak tiga sahabat penggerak usaha travel ini—minus Barly Isham, salah satu tim Yongboyong yang berhalangan hadir karena satu dan lain hal.

“Penumpang juga ada tipe-tipenya, dilihat dari jenis pertunjukan yang bakal disambangi. Biasanya kalau konser metal, walaupun bajunya hitam-hitam, mereka itu santun, pemalu, dan lebih terbuka buat diajak ngobrol. Beda lagi kalau konser musik kekinian. Biasanya tampilannya necis-necis, kadang-kadang pulangnya pada mabuk. Dulu Alma dan Andre yang punya pengalaman nganter penumpang mabuk sampai ke rumahnya,” ungkap Ega.

Andre Pembicara, Keberangkatan Metallica
Andre saat tengah menyambut penumpang di dalam bus.

Meski begitu, pelayanan Yongboyong tak mengenal lelah. Dari pagi sampai pagi lagi, dan semenyebalkan apapun para penumpang, tapi tetap: pelanggan adalah raja. Treatment yang mereka terapkan buat siapapun itu penumpangnya, dinilai ramah dan bersahaja. “Niat kita sebenarnya sederhana, ingin memboyong para penikmat musik buat ‘naik haji’ dalam menonton konser,” ujar Andre.

Bukan tak mungkin, kalau mereka terus berinovasi dalam bisnisnya. Selain musik, Yongboyong nyatanya juga pernah membuka jasa travel untuk keberangkatan pertandingan sepakbola Liverpool kontra Indonesia beberapa waktu silam. “Kita juga kedepannya ingin melebarkan sayap ke travel haji dan umroh,” seloroh Alma, diiringi gelak tawa rekan-rekan lainnya. Ia juga menginginkan agar usahanya ini membuka cabang misalkan di Garut dan beberapa daerah lainnya

Yongboyong Travel punya banyak rencana segar, bahkan sampai ingin membawa penumpang buat menonton konser di luar Indonesia sekalipun. “Kalau ke kota-kota lain bisa diusahakan. Sekarang juga kita sedang mempelajari, bagaimana membawa warga Indonesia buat menyaksikan konser setidaknya ke Laneway Festival di Singapura,” tegas Andre.

kru
(Dari kiri ke kanan) Djunizar Ega Kusuma, Alma Arif, dan Andre Febri Syam yang merupakan kru dari Yongboyong Travel. Minus Barly Isham yang tengah berhalangan hadir.

Dinilai langka keberadaannya, Yongboyong menjadi sebuah komoditas usaha unik sebagai travel musik. Ia menaruh harga yang sewajarnya, tak berusaha mengeksklusifkan diri mentang-mentang jarangnya usaha seperti ini. Tertarik untuk mengatasi solusi repot gara-gara kesulitan transportasi dalam menonton konser musik? Untuk warga Bandung dan sekitarnya, cobalah Yongboyong Travel.

Untuk menjangkau Yongboyong Travel, raih kontaknya di bawah ini:

+628221554436

Instagram        : @yongboyonggroup

LINE@           : @TBP4111R

 

Foto: Karel, dokumentasi pribadi

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)