Asteriska dan Obrolan Singkat di Filosofi Kopi

Malam itu, kedai Filosofi Kopi tampak ramai. Orang lalu lalang, sebagian lain duduk melingkari meja membicarakan bermacam hal. Di bawah ruangan dengan lampu berwarna kuning hangat tersebut, tampak barista cekatan melayani pesanan. Filosofi Kopi sendiri mendesain dapur mereka dengan konsep open kitchen, sehingga saya dapat melihat secara langsung seorang barista bekerja di dapur. Sementara itu, di luar, beberapa pengunjung harus rela berdiri karena tidak kebagian kursi. Termasuk saya, meski tak begitu lama karena beruntung ada seorang pria tua berkewarganegaraan asing yang menawari kursi.

Saya mendapat informasi, malam itu Asteriska akan bernyanyi mengisi sebuah acara rutin yang digelar oleh Filosofi Kopi bertajuk Sidewalk Folk. Tepat pukul delapan, seorang pria yang wajahnya seringkali muncul dalam banyak film dan iklan membuka acara. Ya, dia adalah Rio Dewanto, aktor sekaligus pemilik Filosofi Kopi.

Kemudian, seorang perempuan mengenakan baju hitam lengan pendek dipadankan dengan kain yang ia belitkan menutupi kakinya, menaiki venue kecil berukuran tak lebih dari dua meter. Asteriska tampak anggun malam itu. Sosok yang menggemari tari hoolahoop sejak tahun 2013 ini telah mengeluarkan album pertamanya berjudul Distance.

Saya tak bisa banyak berkomentar tentang albumnya, karena jujur malam itu adalah kali pertama saya menyaksikannya bernyanyi tanpa Barasuara. Namun usai lagu pertamanya di malam itu, suara dan komposisi nada yang dikeluarkan kawannya melalui gitar akustik berhasil membuat saya duduk hingga acara selesai. Dalam beberapa lagu, saya seperti sedang duduk di sebuah bar di sudut kota New York, mendengarkan Ella Fitzgerald dengan sampanye di tangan kiri. Usai acara, saya memutuskan menghampirinya, berbicara sedikit sekali tentang lagunya (ya, karena awalnya tidak berniat mewawancarainya) juga hal-hal yang tidak berkaitan dengan musik.

***

 

‘Distance’ bercerita tentang apa?

Tentang hubungan jarak jauh, long distance relationship. Sebenarnya tidak sedih, itu lebih seperti perasaan personal long distance, seperti aku kangen, semua LDR itu pasti merasakan yang namanya kangen banget sampe desperate tapi saya harus kuat, at the end kalau mereka berdua sama-sama kuat pasti bisa.

 

Curhat?

Curhat, curhat tidak sih, jadi cuma aku kembangkan biar lebih kena.

 

Proses pembuatan album ‘Distance’ berapa lama?

Lumayan cepat kayaknya, cuma enam bulan.

 

Lagu paling disuka di album ‘Distance’ ini?

Banyak, “Distance” sih.

 

Saat ini begitu banyak nama-nama baru di lapangan folk, ada Jason Ranti, Sisir Tanah, Vira Talisa dan Sky Sucahyo. Bagaimana Asteriska melihat mereka?

Semakin banyak semakin bagus, toh setiap orang juga mau itu dikatakan sama-sama folk pasti ciri khasnya berbeda-beda juga. Jadi dengan seperti itu semakin luas, oh folk itu tidak hanya itu ternyata, yang seperti ini bisa juga dikatakan folk. Jadi semakin banyak semakin bagus. Dan nama-nama tadi itu, meski aku tidak terlalu mendengarkan, tapi aku sempat dengar beberapa dari nama-nama yang tadi disebutkan menurut aku menarik sih, Seperti Sky Sucahyo, dia suaranya unik.

 

Saya sempat memantau Twitter Asteriska, tampaknya Anda mengikuti dinamika yang terjadi selama Pilkada DKI Jakarta. Bagaimana pandangannya?

Sebenarnya tidak terlalu mengikuti. Aku tuh orangnya cuek banget dengan yang namanya politik, tapi makin ke sini tuh mulai terganggu karena itu masalah kenyamanan juga. Kebetulan keluargaku berasal dari beragam agama, tidak cuma satu agama doang, jadi kayak ada rasa kasihan juga. Keluargaku yang agamanya maksudnya kan di sini kayak ada sisi ektremis, nah di keluargaku yang tidak ada di sisi ektremis ini kayak kasihan gitu kalau ternyata yang menang ini orang-orang ektremis. Indonesia bisa bahaya banget, karena kan mungkin kenapa Indonesia dulu itu sangat disukai banyak negara karena kita unik. Banyak keberagaman. Tapi sekarang, aku sudah tidak melihat keberagaman itu, sayang aja sih. Jadi aku cuma bisa berkoar-koar di Twitter, tapi aku sebenernya punya unek-unek seperti ayo dong balik ke Bhineka Tunggal Ika, balik ke Pancasila, kita tuh unik banget karena kita beragam. Jadi sebenarnya bukan karena aku memihak salah satu untuk Pilkada ini, aku cuma pengen yang bisa memimpin Indonesia khusunya Jakarta tidak memihak satu agama doang, satu komunitas atau apapun, harus yang benar-benar bisa memihak segala-galanya.

 

Bagaimana tanggapan Asteriska tentang Jakarta di bawah kepemimpinan Basuki T. Purnama atau Ahok?

Kalau aku melihatnya dari yang sudah dikerjain, banyak banget. Bisa kita lihat dari mulai yang sudah dikerjakan sama Pak Ahok itu Taman Kalijodo, terus kalau dikatakan masih banjir ya masihlah, tapi kan namanya juga proses, dan aku yakin banget titik-titik yang sudah tidak banjir banyak sekali, transportasi much much better.

 

Presiden RI Joko Widodo sempat mengeluarkan statement bahwa agama jangan dicampuradukkan dengan politik, setuju?

Banget! Nah, aku adalah orang yang enggak terlalu suka agama. Maksudnya, setiap orang itu punya urusan masing-masing, kayak aku juga di keluarga ada yang punya agama tertentu dan aku tidak mengikuti ritual mereka. Aku punya kepercayaan sendiri, tapi penting sih buat orang untuk memberikan kebebasan beragama. Sayang di Indonesia tidak ada kebebasan itu.

 

Apakah Asteriska percaya, di tengah banyaknya medium distraksi zaman sekarang, musik menjadi perubahan sosial yang dapat membawa ke arah positif?

Sebenarnya bisa, tapi butuh waktu lama dan prosesnya panjang. Aku akui contohnya Barasuara berhasil, maksudnya salah satu lagu Barasuara ada yang diambil dari penggalan alkitab. Yang bikin lagu itu bukan orang kristen, tapi memang karena dia modern, terus tahu kalimat itu bukan untuk kristenisasi tapi universal untuk semua mahkluk, segala agama. Ketika anak-anak membawakan “Menunggang Badai”, yang suka Barasuara ikutan nyanyi pasti ganti-gantian berlinang mata, apalagi ketika di satu hall nyanyi tidak mungkin itu satu agama aku yakin di satu hall itu berbagai agama tapi mereka ikut nyanyi dan tidak peduli kalau itu adalah kutipan dari alkitab.

 

 

Foto: Adil Nursalam

 

Iksal R. Harizal

Bercita-cita memiliki rumah dan ladang untuk berkebun di pegunungan, ditemani wanita yang pandai memasak nasi goreng.