Candu Baru Pulau Dewata Bernama Zat Kimia

Teks Oleh: Made Yana*

Jumat (3/11) lalu, saya berkesempatan untuk menghampiri perhelatan An Intimacy edisi ke-14 di Spasial, Jalan Gudang Selatan no. 22, Bandung. Jujur, sebenarnya kepala saya sedikit pusing akibat baru saja pulang dari luar kota dan cuaca kota ini tiba tiba hujan saat perjalanan menuju venue. Itu membuat niat saya untuk pulang dan beristirahat semakin kuat, namun saya enggan melewatkan acara ini. Terlebih para penampil yang mengisi An Intimacy ini sangat menarik.

Ada satu band yang benar-benar ingin saya lihat performanya. Apalagi beberapa hari ke belakang, disaat band ini pentas di Jakarta, saya sempat mengintip aktivitas mereka di Insta Stories. Dan kesan pertama yang didapat, band ini bukan main apiknya. Perkenalkan mereka adalah Zat Kimia. Sebuah unit rock alternatif dari Pulau Bali yang diperkuat Ian Joshua Stevenson (gitar, vokal), Edi Pandi (bas), Nobertus Rizki (drum) dan Bimo Haryputra (gitar).

Ketika itu mereka berempat naik panggung pukul 9 malam, membawakan semua materi dari debut album, Candu Baru. Benar saja, apa yang pikirkan tentang band ini. Penampilan live mereka bagus dan rapi. Menjadikan set mereka yang hampir satu jam tidak terasa. Setelah mereka beres menuntaskan aksinya, saya akhirnya berkesempatan untuk mewawancarai mereka. Mulai tentang album, makna nama, lirik  dan bagaimana tanggapan mereka tentang pergerakan musik arus pinggir Pulau Dewata yang semakin beragam.

Surnalisme (S) : Hallo, bisa perkenalkan siapa saja kalian ?

Zat Kimia (ZK): Kami Zat Kimia, berasal dari Bali. Adapun para personilnya yaitu saya  Josh, Edi, Kiki dan Bimo.

S: Kenapa memutuskan memakai nama Zat Kimia? Apakah kalian terinspirasi dari zat-zat yang digunakan ketika bermain musik?

ZK: Zat Kimia apa itu maksudnya? (tertawa). Kami enggak suka menggunakan yang aneh–aneh kok. Satu–satunya zat kimia yang kita konsumsi itu cuman kopi doang (tertawa lagi). Kenapa harus zat kimia ya? Enggak ada alasan tertentu sih, nama Zat Kimia ini awalnya dari judul lagu kita dan terdengar bagus gitu namanya jadi ya akhirnya kita pake jadi nama band, tanpa ada filosofi tertentu dibelakangnya.

S: Dari beberapa artikel yang saya baca, Zat Kimia ini terbentuk hampir satu dekade dan akhirnya baru serius membuat album di delapan bulan ke belakang. Ada apa memangnya?

ZK: Cari personilnya sih yang lama (tertawa), Saya (Ian) dan Edi awalnya membentuk Zat Kimia bersama dengan Mark salah seorang WNA dari Jerman, tapi karena ada satu dan lain hal, akhirnya Mark keluar. Disana kami masih mencari lagi personil ditambah dengan kesibukan kami masing–masing membuat pencarian personil ini agak lama. Memang jika hanya ingin asal mencari personil mungkin kami mungkin kami bisa mencari personil lebih cepat, tapi kami tidak ingin begitu.

Menurut kami, personil band adalah sebuah keluarga, dimana kami bisa saling berbagi banyak hal dan memiliki chemistry dan tujuan yang sama. Makanya pencarian personil kami tidak buru-buru. Lalu, bertemulah kami dengan Kiki yang juga dulu merupakan personil band yang sama dengan Edi, bersama dengan satu gitaris lama kami dulu Nyoman Chrisna Winata. Mereka dulunya sering bermain di bar membawakan banyak lagu orang lain. Jadi ya sebenarnya saya “membajak” semua personil bandnya Edi (tertawa). Dia pun dulu juga main band metal, mantan bassist Mom Called Killer, tapi sudah lama keluar dari band itu dan hanya menjadi additional player beberapa band. Lalu terakhir yang bergabung dengan kami itu adalah Bimo. Dia berasal dari Jakarta dan kami lihat permainan gitarnya bagus dan kebetulan gitaris kami yang lama harus keluar karena dia kerja kantoran. Dan menurut kami ini formasi yang sangat enak.

S: Mengapa judul lagu di album Candu Baru banyak berhubungan dengan kimia? Apakah kalian ingin menjadikannya sebuah tema atau menjadi sebuah karakter?

ZK : Ketidaksengajaan sebenarnya. Saat membuat lagu, saya (Ian) hanya mencari temanya saja terlebih dahulu, lalu membuat musiknya. Nah setelah musiknya jadi baru saya membuat lirik sesuai dengan tema yang saya pikirkan sebelumnya. Setelah mulai jadi baru saya bawa ke teman-temann untuk jamming bersama dan saling meminta saran untuk lebih menyempurnakan lagu tersebut.

S: Kenapa hampir 90 % lagu di album Candu Baru ini menggunakan Bahasa Indonesia? Dan mengapa tema lagu-lagu di album ini pun banyaknya bercerita tentang alam? Apakah karena tinggal di Bali yang kental dengan nuasa alam dan banyak memiliki tempat wisata alam yang berlimpah memengaruhi teman-teman zat kimia dalam berkesenian?

ZK: Mungkin karena bahasa Indonesia ini bahasa yang sehari-hari kami pakai dan tidak memiliki maksud yang bias, sehingga memudahkan kami untuk menuliskan lirik. Selain itu lagu bahasa inggris yang ada di album ini pun sebenarnya ciptaan dari Mark (gitaris terdahulu). Untuk tema alam mungkin, ya salah satu alasannya mengapa kami banyak mengangkat itu karena kami tinggal di Bali. Berada di alam membuat kami terinspirasi membuat lagu tentang apa saja yang ada di sekitar kami. Contohnya, sekarang kami melihat teman-teman yang support dan datang untuk menonton juga bersenang-senang dengan kami. Atau merasakan udara Bandung yang sejuk malam–malam seperti ini terkadang bisa menjadi inspirasi kami dalam membuat lagu.

zat kimia 1

S: (Tur) ini menandakan kali perdana kalian datang ke Pulau Jawa dan memperkenalkan album ke khalayak Bandung dan Jakarta. Bagaimana respon kalian tentang orang-orang yang datang?

ZK: Responnya bagus sekali, terlebih di Bandung. Saat kita main, orang-orang bisa hafal lagu-lagu di album sekaligus bersenang-senang juga. Di Jakarta pun demikian, orang-orang disana pun lebih atraktif saat kami main. Sebenarnya kami sempat tidak ada gigs setelah main di Joglo Beer Kemang, tapi kemudian kami mencoba-coba mencari info untuk mengisi waktu lowong sebelum main ke Bandung. Ternyata kami sempat akan main di Musik Bagus Day di Citos tapi karena kurang koordinasi jadi kami urung main disana. Kemudian manajer kami Natha berinisiatif untuk mengontak teman-teman Polka Wars dan akhirnya kami beruntung diajak main di Rossi (Musik Fatmawati). Pengalaman main di luar Bali membuat kami sadar, disini (Jakarta dan Bandung) banyak sekali band-band alternatif bagus.

S: Tetapi, sekarang di Bali pun band-bandnya semakin beragam musiknya. Menurut kalian bagaimana tanggapannya?

ZK: Karena arus informasi dari internet yang semakin mudah sih. Selain itu mungkin memang sudah zamannya musik arus pinggir di Bali menjadi berkembang. Karena sebenarnya band-band bagus di Bali itu banyak sekali. Dulu saya sempat menjadi salah satu juri dari Road To Soundrenaline di Bali dan saya banyak sekali dapat demo-demo band. Beberapa yang saya dengar dan lihat ada yang bagus tapi nggak tahu sekarang band-band itu sudah tidak kedengeran lagi.

S        : Wah bisa gitu ya, kira-kira kenapa?

ZK      : Mungkin band-band itu kurang mau berusaha untuk lebih memperdengarkan musiknya ke khalayak ramai. Mungkin pula banyak penyelenggara acara pun kurang mau mengajak band-band ini untuk main. Mereka lebih memprioritaskan band-band yang lebih punya nama daripada membantu band-band ini mempromosikan karyanya. Kalau boleh jujur, kami iri dengan teman-teman Jakarta dan Bandung yang sekarang punya ruang untuk band-band baru tampil dan mempromosikan karyanya. Dulu kami bisa melakukan itu di Twice Bar milik Jerinx (Superman Is Dead). Waktu itu, kalau kami mau main disana, cukup menelepon manager stage dan bilang bahwa kami akan main disana. Tapi, sayang sekarang Twice Bar sudah tutup. Cuma ada info bahwa bar tersebut akan dibuka kembali. Kami sangat berharap bahwa nanti dari sana bakal banyak band-band bagus dengan musik yang beragam. Jadi biar memacu yang lain untuk bikin musik yang lebih bagus. Karena terkadang di Bali harus ada dulu yang memulai, nanti baru diikuti oleh yang lain.

S: Setelah main di Jakarta dan Bandung, apakah akan ada tur lagi?

ZK: Belum tahu sih. Dananya belum ada (tertawa). Karena tur itu butuh uang yang cukup lumayan. Makanya kami memilih untuk tidak membuat release party album terbaru, karena menurut kami daripada kami membuat itu, lebih baik uangnya kami (pakai) buat tur saja.

S: Apakah ada kota yang ingin kalian sambangi ?

ZK: Bandung! (tertawa) Kami beruntung akhirnya bisa main disini dengan tempat yang enak. Suasananya pula dan penonton yang ramah juga. Selain itu kami ingin sekali ke Malang dan Jogjakarta.

S: Album selanjutnya kapan ?

ZK: Kami masih mencari tema-temanya dulu saja sih dan masih banyak berlatih di studio untuk memantapkan lagu-lagu di album Candu Baru ini. Karena bagi kami, band yang bagus adalah band yang memiliki performance live bagus juga dan latihan ini untuk lebih memantapkan chemistry diantara personil.

S: Pertanyaan terakhir, Apa harapan Zat Kimia kedepan?

ZK: Lebih banyak manggung (tertawa). Kami berharap semoga banyak orang yang mendengarkan album kami dan selalu support karya-karya kami yang lain.

Foto: Ade Juliansyah*

*Kontributor

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)