[EDITORIAL] Dua Tahun Surnalisme: Musik Kekal, Kitalah yang Bebal

Belum lama ini, sekumpulan pemuda meributkan tentang bagaimana pakem jurnalisme musik yang baik. Kira-kira, apa yang mampu membedakannya dengan model pemberitaan lain? Pendekatan? Penyusunan rangka? Atau ambang batas obyektivitasnya? Entahlah. Selagi sang penulis terlalu mengagung-agungkan diri terhadap sesuatu baik itu selera musik atau kehidupan pribadinya yang tak lebih mahal dari rokok setengah bungkus, ia dianggap hanya sedang bergunjing, mengoceh dan meratapi hidupnya yang tak tahu sampai kapan.

Atau sebetulnya, tanpa disadari, semua penulisan terkait musik memang begitu adanya—sekalipun kami, Surnalisme? Bias-bias yang terus terekam dalam benak, agaknya urung mengganggu mereka, para pemusik dan industrinya di lapangan, untuk terus berkarya sembari mencari celah keuangan.

Selayang pandang

Kesibukan dan intensitas, membuat kami tak sanggup menyajikan produk khas yang intens nan rapat. Namun bila semua dapat terangkum dalam dua paragraf di bawah, kurang lebih begini adanya:

Surnal mendapat banyak kabar tentang satu, dua, hingga beberapa grup musik Tanah Air yang entah menyajikan karya berupa single atau album, lalu memperkenalkannya pada staff redaksi kami via surel. Alangkah sedihnya kami karena telah melewatkan itu, sehingga semoga ke depannya, kalian semua sukses dan menjadi kaya sebagai musisi idealis di Indonesia. Maaf, kami cuma mengajak Anda bermimpi.

Pada beberapa kesempatan, sejumlah acara dan gelaran musik mampu kami rekam lewat rubrik Resensi yang menurut beberapa orang (maaf) disajikan secara bajingan. Sudah dikasih akses gratis, menonton grup nan eksis, ditemani muda-mudi nan manis, masih saji menyajikan tulisan yang tak tahu diri. Sampai kami ingat, pernah ada satu panitia acara yang berpikir dua kali buat mengajak berekanan media dengan alasan “bagaimana ya nanti tulisannya, takut aneh”.

Membiarkan penonton tertipu oleh brosur acara yang tampak elegan namun ketika hari H gelarannya berantakan dan tak sepadan, adalah keanehan bagi kami. Toh, jika pun ulasan acara yang Surnal buat terkesan menghakimi tanpa laporan mata yang seimbang, maka kami tak segan untuk dituntut lewat pasal pencemaran nama baik.

Tapi begini saja, lewat beberapa pandangan dan bincang-bincang, tim redaksi Surnal memastikan bahwa ke depannya, laporan lapangan yang dibuat akan lebih komprehensif, berimbang dan (berusaha) tidak sedang berada dalam pengaruh apa-apa. Bagaimana pun, dalam mengusung konten, Tuhan kami masih jurnalisme.

***

Izinkanlah kami, Surnalisme, untuk terus menyampaikan informasi dari kancah permusikan Tanah Air serta mancanegara. Dengan waktu satu tahun ke depan yang bakal dimaksimalkan, penambahan ragam konten serta adanya pola rombak tampilan situs kelak, diharap pembaca mampu menerima pesan kami yang alakadarnya namun membekas di hati; entah itu menodai atau menenangkan.

Dua tahun Surnalisme, semoga pembaca tidak merasa baik-baik saja dengan kondisi yang ada.

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)