Mixtape Hari Kemerdekaan: Teruntuk Para Chauvinis

Oleh: Muhammad Syahid Syawahidul Haq

Agustus menjadi bulan yang ‘sakral’ bagi negara kita tercinta, Indonesia. Tepat pada 17 Agustus, 72 tahun yang lalu, bangsa ini memproklamirkan diri sebagai sebuah bangsa yang merdeka setelah selama tiga abab plus 53 setengah tahun lamanya, negeri ini terbelenggu tindak-tanduk penjajahan.

Rasa menjemukan dari sebuah penindasan, penderitaan, dan kontrol dari bangsa lain adalah momok mengerikan yang dirasakan bangsa ini dalam kurun waktu ratusan tahun lamanya. Upaya demi upaya turut dilakukan para intelektual terdahulu, untuk melepaskan bangsa ini dari kolonialisme, yang akhirnya terbayarkan tepat pada 17 Agustus 1945.  Sebuah perjuangan yang tak pernah menjadi sia-sia.

Sejak saat itu, Indonesia menjadi negara yang merdeka. Para penjajah terusir paksa, dan masyarakat tak perlu lagi cemas dengan penindasan yang lama mereka rasakan dulu.  Hidup damai di negara yang merdeka tentu saja menjadi harapan semua manusia.

Sudah 72 tahun negara ini menjadi bangsa yang merdeka, tapi pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar lepas dari yang namanya belenggu penjajahan? Beberapa orang mungkin akan menganggap sudah, namun beberapa lainnya mungkin masih menganggap bahwa kemerdekaan adaah hal yang semu di negara ini.

Saya takkan berbicara dengan menggunakan data-data sejarah yang ada tentang Indonesia pasca-kemerdekaan. Kiranya berkenan, saya hanya ingin berbagi sebuah mixtape—kumpulan beberapa lagu—yang mungkin mewakili bahwa masih sumbangnya nada kemerdekaan di negara ini.

Jeruji – Salam Pembebasan 

Track ini selalu menjadi andalan saya untuk pembuka pada setiap kali memutar lagu yang ada. Hentakan beat kencang dari Jeruji selalu membuat jantung ikut-ikutan berdetak kencang. Pun, gaya Ginan yang khas seperti seorang orator yang membuka track ini menjadikannya wajib dipasang pada urutan pertama.

“Kepalkan tangan bersama-sama, tunjukan bahwa kita memang benar ada. Tidak untuk saling menjatuhkan. Untuk setiap butir nyali demi kebersamaan. Untuk setiap denyut nadi dalam keberagaman. Untuk setiap jiwa raga dalam kesenangan. Dan untuk setiap hembus nafas. Atas nama perubahan: Salam Pembebasan!”

Senartogok – Marahlah Papua 

Barangkali permasalahan Papua dengan Freeportnya takkan pernah usai. Penyerobotan lahan serta kelakuan aparat yang berpihak pada para pemodal menjadi sebuah bentuk penjajahan gaya baru. Track ini mungkin cocok untuk lanjutan mixtape kali ini. Petikan gitar dan suara khas Senartogok merefleksikan betapa lirihnya suara kemarahan rakyat Papua yang haus akan pembebasan.

“Bukan kepak sayap Cendrawasih, tapi Garuda bersenjata di kaki. Tanah dirampok, pabrik pun berdiri. Tentara disebar, alam pun dicuri.”

Eviction – Terusir Dari Tanah Sendiri 

Track dari sebuah kompilasi album Organize yang saya rasa cukup melanjutkan keresahan Senartogok atas lagu berjudul Marahlah Papua. Dengan pembuka lagu menggunakan suara dari aksi penolakan penggusuran PKL Dayang Sumbi, 13 Juli 2015 lalu. Ya, sebuah fenomena penggusuran atas nama pembangunan kini memang makin marak. Seakan rakyat hanyalah seperti sebuah sampah yang tak patut hidup di tempat layak. Katanya, merdeka sudah 72 tahun. Mengusir para kolonialis. Nyatanya, hari ini rakyat sendiri yang malah terusir.

“Kami terusir dari tanah

Tanah yang kami rawat sendiri”

Bars Of Death – Tak Ada Garuda Di Dadaku 

Setelah bertahun-tahun lamanya Homicide bubar, rasa rindu atas rima panas yang dilontarkan Morgue Vanguard dan Sarkasz di kancah hip-hop, akhirnya tebayar. Sebuah track yang secara terang-terangan menukik tajam terhadap nilai-nilai nasionalisme dan pancasila yang tak pernah kunjung dimaknai secara penuh. Yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah alat legitimasi untuk melanggengkan penindasan.

“Jangan pernah tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, karena hasil pemilu akan menentukan pasar yang investor serbu.

Sehingga kerakyatan yang dipimpin oleh permusyawaratan perwakilan para C.E.O akan membuka lahan serupa Roma yang dibakar oleh ribuan Nero”

Joey The Gangster – Terbuang Terasingkan 

Sengaja disimpan di urutan terakhir, karena track ini lumayan lugas menyikapi persoalan atas kondisi sosial di negara ini. Dengan secara jelas dan lugas, mereka bilang:

“Di negara penjajah kita menang

di negara merdeka kita berperang”

***

Sudahkah merdeka? Saya kira, merayakan kemerdekaan tak ubahnya seremonial wajib di setiap tahunnya. Isu-isu semacam penggusuran, genosida masa lampau, hingga pembunuhan terhadap para aktivis tak pernah menjadi sebuah persoalan yang dapat dirundingkan secara serius oleh pemerintah. Semoga mixtape ini senantiasa menumbuhkan rasa kemanusiaan dari para manusia di negeri ini.

Foto: Hipwee

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)