Penulis Musik Lebih Tepat

Jurnalisme musik tumbuh pesat akhir-akhir ini, fenomenanya tercium dari semakin menjamurnya media musik yang kebanyakan berhaluan alternatif. Entah sejak kapan penggunaan istilah jurnalisme musik itu digunakan, terlebih di Indonesia. Namun dalam satu artikelnya, Idhar Resmadi menulis bahwa fenomena menulis musik rutin dilakukan sejak medio 1960-an.

Di Indonesia fenomena tersebut konon sudah ada sejak era 1950-an, ditandai dengan terbitnya majalah Musika pada tahun 1957, yang kemudian muncullah beberapa media seperti Discorina hingga Aktuil.

Namun tetap tidak diketahui awal mula penggunaan jurnalisme musik itu digunakan. Satu hal yang wajar karena bila merujuk pada ranah ke-ilmuan, jurnalisme musik khususnya di Indonesia belum atau mungin tidak dipelajari sebagai disiplin ilmu.

Ngomong-ngomong soal jurnalisme musik, pekan lalu tepatnya pada Minggu (21/5) di Universitas Islam Bandung (Unisba) diadakan sebuah talkshow tentang jurnalime musik, disela kegiatan One Day With Journalistic 2017.  Pembicara yang didatangkan pun bukan orang sembarangan, dia adalah Taufiq Rahman, editor harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post, dan founder media alternatif Jakartabeat.net.

Dalam perbincangan santai itu, ada beberapa poin yang disampaikan setidaknya membuat para pendengar diskusi itu berkedut jidat. Terlebih saat Taufiq melempar anggapan bahwa sebenarnya di Amerika, negara tempat jurnalisme musik tumbuh pesat itu istilah jurnalisme musik sebenarnya tidak pernah digunakan. Orang-orang di sana yang berkcimpung di media berhaluan musik tidak pernah menyebut diri mereka sebagai seorang jurnalis musik.

“Biasanya di sana mereka memperkenalkan diri sebagai penulis musik, atau music writer. Dan itu juga yang tercantum di kartu nama mereka, pada bagian profesi,” terangnya.

Apa yang disampaikan Taufiq jelas bukan sekadar omong kosong, ia sudah pernah menjalani kehidupan di Amerika Serikat, tepatnya di Chicago selama beberapa tahun. Jadi wajar bila ia bisa memiliki pandangan seperti itu.

Lebih runut Taufiq menjelaskan bahwa rata-rata media musik di Amerika atau Inggris memiliki tiga rubric khusus. Pertama adalah breaking news yang di dalamnya memuat berita pendek, umumnya penggarapan berita pendek digarap mereka melalui pers rilis yang masuk.

“Pada rubrik breaking news misalnya, mereka hanya menuliskan apa yang ada dalam pers rilis yang mereka terima. Kemudian musik review yang di dalamnya memuat tulisan soal ulasan album yang ditulis secara subyektif. Ketiga, kritik musik atau music criticism. Nah, yang  paling penting itu justru ada di musik review dan kritik musik,” katanya.

Membedah soal musik writing ada banyak hal yang bisa digali. Kecenderungannya, mereka yang berprofesi sebagai music writing kerap menggunakan pendekatan multidisipliner pada setiap tulisan musik yang mereka sajikan. “Umumnya, mereka melihat hal-hal yang ada pada musik dari perspektif yang berbeda,” tegasnya.

Sayang, fungsi dari music writing justru lebih banyak diterapkan oleh media-media musik berhaluan alternatif di Indonesia. Taufiq mengatakan bahwa pertumbuhan media alternatif memang pesat terutama di beberapa kota besar di luar ibu kota. Selain karena faktor pertumbuhan yang pesat, media alternatif berhaluan musik di Indonesia pun dianggapnya menerapkan fungsi dari music writer itu sendiri.

“Seperti misalnya, Bandung, kemudian Yogya, hingga Makassar juga banyak melahirkan media alternatif yang menjalankan fungsi sebagai musik writer . Teman-teman dari media alternatif di daerah itu lebih rajin, lebih berperan sebagai musik writing, dengan berbagai pendekatan dari cara menulisnya,” ungkapnya.

Ada banyak persepektif dalam hal memaknai jurnalisme musik itu sendiri. Ketika Taufiq menyatakan bahwa penggunaan penulis musik dirasa jauh lebih tepat ketimbang jurnalis musik, ya tidak ada masalah. Begitupun sebaliknya, tergantung parameter masing-masing.

Septian Nugraha

Mencari uang dengan menulis sepakbola dan bersenang-senang dengan menulis musik.