Rock and Roll Telah Mati, Komunal yang Menyelamatkan! (Bagian I)

Biarkan tulisan ini dibuka dengan suatu malam di mana saya bertemu salah satu teman, saat membicarakan tentang ‘musik berat daun hijau’. Kebetulan kami sedang sama-sama menyaksikan penampilan Rajasinga, di ruang studio radio swasta populer di Kota Bandung. “Kalo aku mainstream sih, sukanya Down,” ujar kawan bicara saya, Karel.

Selang beberapa minggu, kami kembali bertemu. Hendak menuju rumah personel grup musik yang memiliki keterkaitan dengan dua grup yang sudah disebut di paragraf pertama. Salah satu raksasa musik rock lokal dalam kuartet bertajuk Komunal. Satu kelompok yang membuat kami sama-sama terkait. Jika mereka iman, mungkin kami berada di saf yang sama.

“Coba denger album terakhir Pantera, kaya gitu tuh. Eh enggak, kaya Superjoint Ritual,” ucap Karel mengenai album pertama Komunal, Panorama. Saya setuju dan berpendapat kalau album Gemuruh Musik Pertiwi (selanjutnya saya singkat menjadi GMP) juga terdengar seperti Down II: A Bustle In Your Hedgerow, obrolan kami pun mulai membahas band ‘Anselmo-core’ lainnya. Hujan pun reda, kami bisa melanjutkan perjalanan ke suatu janji di sebuah pondokan depan lapangan tenis di kawasan Kawaluyaan. Menuju Doddy Hamson yang saat itu minta titip dibelikan sebungkus rokok.

Sosok itu keluar dari rumahnya dengan kaus merah, tampak kebingungan mencari kami. Sebenarnya malam itu akan paripurna jika bisa mengobrol dengan semua personel Komunal, sialnya Tuhan tidak mengizinkan sehingga malam itu diwakili oleh sang frontman yang akrab disapa Mas Dod, Si Manusia Baja. Sekotak rokok titipannya dibuka dan disodorkan pada kami, “Ini barengan aja.”

Selain rokok, ada dua bekal lain yang saya bawa hari itu. Pertama, strategi ortodoks seorang fanboy yang akan bertemu band idolanya dengan mengenakan atribut band yang sama (sehingga saya memilih kaus dengan cetak sampul album Panorama). Kedua, bayangan jika isi dompet lebih dari 20 ribu dan anggur merah bisa ikut hadir diantara kami bertiga.

Dengan absennya minuman itu, proses pencairan suasana dilakukan dengan topik seputar kesibukan masing-masing, band kesukaan, sampai wejangan dari Mas Dod pada saya perihal akademik. “Kalo emang enggak suka sama jurusan-nya mending enggak usah kuliah, tentuin dulu yang bener.”

Saya hanya mengangguk sebagai tanda setuju pada omongannya, sebelum akhirnya bermanuver menuju pertanyaan seputar Komunal yang memang menjadi tujuan utama kami menemuinya. Mengisi malam di komplek perumahan yang hening setelah beberapa jam sebelumnya dilabrak hujan.

“Anjing! Deg-degan nih.”

“Udah enggak apa-apa kita ngobrol santai aja.”

Saya pun mulai bertanya, “Mas Dod, Komunal itu kan band ’anak rantau’, apakah sudah pernah bertemu sebelumnya? Kenapa memilih Bandung sebagai tujuan rantau?”

IMG_9851 (Copy)
Anwar Sadat (Foto: Indra Suhyar)

Sebuah jawaban panjang muncul, “Di pekanbaru dulu saya sempat main band sama Sadat waktu SMA, di sebuah acara festival-festival gitu, saya juga dulu setiap liburan sekolah selalu main ke Bandung, tempat favorit saya waktu itu Reverse Studio markas PAS Band, Puppen juga disitu. Saat pertama kali denger PAS Band, saya kaget, ‘anjing! loh kok keren banget ini band’. Akhirnya, pas lulus sekolah saya memutuskan untuk pindah ke Bandung, begitu sampai di Bandung saya jadi rajin mengunjungi Reverse. Memang sudah jalannya seperti itu ya karena kebetulan ketemu lagi sama Sadat di Bandung padahal kami tidak janjian sebelumnya,” ujar dia dengan logat bicara yang khas.

Seandainya Tuhan tak mentakdirkan mereka berdua bertemu lagi saat itu, mungkin album pertama yang mengandung unsur crossover terbaik di Indonesia hanyalah High Octane Rock milik para bajingan serigala, Seringai (sekedar info, Panorama dan High Octane Rock sama-sama dirilis pada tahun 2004). “Dulu kita semua satu tongkrongan, di daerah Jalaprang, sebuah rumah kontrakan. Sadat, Koko, sama Ai kuliah di Itenas, kecuali saya. Jadi sebetulnya Komunal itu didominasi oleh anak-anak Itenas,” ujarnya lagi.

Karel yang penasaran pun memotong pembicaraan dan bertanya.

“Mas Dod emang kuliah dimana?”

“Di Unpas.”

“Ambil apa?”

“Akuntansi,” sambil menghisap rokok yang kami bawakan.

Anjing. Saya pun tersenyum kecil, ternyata Mas Dod adalah seorang jebolan jurusan akuntansi yang berteriak lantang kalau uang dan politik itu tidak ada artinya. Dia mulai melanjutkan. “Nah gitulah, akhirnya kita memutuskan buat bikin band dan jadilah Ragadub, umurnya hanya 2 tahun. Itu kenapa makanya album Ragadub judulnya 2000-2002, rilis tahun 2002 beres rilis langsung bubar, lalu jadilah si Komunal.”

“Berarti Puppen dan PAS Band juga yang jadi alasan Mas Dod merantau ke Bandung?” tanya saya dengan penuh ke-sok tahuan.

“Iya, betul! Karena saya suka main ke Reverse, kalo orang lain ke Bandung mungkin tujuannya ke alun-alun atau sebagainya. Tapi kalau saya tujuannya kesitu, belanja kaset dan sebagainya, Puppen pun awalnya saya tahu dari tempat itu, kalo PAS Band kan major label jadi albumnya masih bisa terdengar sampai Pekanbaru,” tukasnya.
Memang wajar dia merantau kesini, sebelumnya dia bercerita kalau di kampung halamannya membuat band itu susah, apalagi fasilitasnya yang bisa dibilang sangat minim. “Dulu mau ngerti sound aja susah, ampli yang besar-besar kaya sekarang itu belum ada. Paling ampli Roland yang kecil itu. Mau recording juga enggak bisa, di sana itu enggak ada tempatnya, padahal ada band-nya almarhum Arbone, namanya NON, itu favorit saya.”

“Bagaimana awalnya bisa kenal sama Arian13?” Tanya Karel.

Dia tertarik dengan pertanyaan itu dan mulai menjawab. “Dulu itu Arian pernah mengulas album Panorama dan dia bilang kalau musiknya itu seperti heavy metal dari rawa-rawa. Istilah itu menurut kita keren, makanya kita pakai sampai sekarang.”

Arian13 memang sembrono, empat tahun kemudian Hitam Semesta memang terdengar seperti itu. Bahkan terdengar seperti suku pedalaman yang tiba-tiba mendengar heavy metal, lalu membuat musik. Sebuah istilah yang berhasil memprediksi dengan tepat. Saya lalu bertanya tujuan awal membentuk Komunal, sebenarnya musik seperti apa yang ingin dibawakan.

“Seperti album GMP, kurang lebih seperti itu yang kami mau. Tapi enggak kesampean makanya jadilah musik seperti album Panorama, jadi pada waktu itu bikin musik semampunya kita aja,” ujarnya.

Fenomena maraknya synthetic drugs akhir-akhir ini memang banyak menghasilkan para pothead goblok, lingkaran pertemanan saya adalah sampel kecilnya. Memang ini tidak berpengaruh langsung pada kehidupan pribadi saya, tapi entah mengapa saya merasa gerah ketika mereka dengan seenaknya memberi term pada suatu grup musik. Si A stoner, sedangkan si B tidak. Saya juga sebenarnya tidak terlalu peduli pada pe-labelan sebuah genre musik, namun Komunal memang sering diberi term stoner rock/metal. Lalu saya pun bertanya pada vokalis yang sudah cukur rambut itu. “Apakah term itu mewakili musik Komunal?”

“Sebenarnya tidak seperti itu sih, saya memang banyak mendengarkan musik-musik seperti itu tapi saya tidak mematok genre kami seperti apa. Jadi saya lebih suka mengambil benang merahnya dan menyebutnya heavy metal, makanya saya tulis heavy metal di situ,” sambil menunjuk tulisan ‘heavy metal’ di kaus Panorama yang sedang saya pakai.

“Bahkan Kyuss pun dulu disebut grunge sebelum munculnya istilah stoner,”  Karel menambahkan.

“Nah saya juga lebih suka menyebut musik Komunal itu heavy metal!” saya tertawa. “Dari 3 album Komunal, mana yg jadi favorit Mas Dod pribadi? Maksud saya semangat ketika membawakan materi dari album yang mana?” lanjut saya.

“Materi-materi di album GMP sih, karena memang musik seperti itu yang kita inginkan dari dulu.”

Setelah mendengar langsung jawaban dari Mas Dod, saya tetap bersikeras bahwa Panorama adalah album favorit saya pribadi. Entah kenapa kebrutalan lagu “Demi Kau Dan Semua Mati” sulit lepas dari ingatan botimen macam saya ini. Komunal sendiri telah merilis tiga studio album yang ber-titel Panorama (2004), Hitam Semesta (2008), dan Gemuruh Musik Pertiwi (2012).

Jika diperhatikan, sejak 2004 jarak antar satu album ke yang lainnya selalu berpaut empat tahun. Namun, sekarang sudah menginjak tahun kelima pasca GMP dan mereka belum merilis album lagi. Tapi kemudian penjelasan lanjutan Mas Dod cukup menenangkan hati seorang penggemar kemarin sore macam saya.

“Sebenarnya kita baru sadar pas album GMP dirilis, dipikir-pikir kita rilis album tiap 4 tahun sekali, itulah kenapa makanya Komunal sering dikira rilis album 4 tahun sekali dan sekarang orang bertanya-tanya kenapa nih udah 4 tahun belum rilis album lagi?’ sambil tertawa.

“Padahal cuma kebetulan ya?”

“Iya, sama sekali tidak sengaja.”

“Kendalanya dalam hal apa nih?”

“Soal waktu, kita semua enggak tinggal di kota yang sama. Padahal materi sudah ada sekitar 15 lagu, istilahnya apa ya itu aduh?” jawabnya.

“Tinggal eksekusi?”

Dengan semangat dia meng-iya-kan. “Ya, betul tinggal eksekusi cuma waktunya belum ada, Sadat kan tinggal di Jakarta dari 2008, beres Hitam Semesta rilis dia pindah ke sana,
Koko juga tiba-tiba dapat pekerjaan di Pekanbaru, sekitar tahun 2012-an sesudah GMP rilis kalo enggak salah.”
Entah sudah berapa batang rokok yang kami habiskan, Mas Dod terlihat tidak pernah berhenti menjepit rokok diantara bibirnya. Mendengar kalau mereka sudah ada materi untuk album selanjutnya membuat saya penasaran. Dia bilang album selanjutnya akan terdengar seperti album terakhir mereka. “Tapi tidak terlalu sama seperti itu juga, pokoknya lanjutan dari GMP,” tambahnya.

“Ada kemungkinan seperti dua album awal?” tanya saya.

“Enggak ada kayaknya, kita ada rencana kalo udah umur 50 tahun baru mau bikin musik yang kencang lagi. Saya baru sadar saat mendengar lagi album Panorama ternyata kita main cepat sekali, Anjing nih kok kenceng banget!” ujarnya sambil tertawa.

“Di lirik ‘Ngarbone’, Komunal blak-blakan sangat terpengaruh oleh band-band lokal, sebutlah Puppen, Homicide, dan Slank. Bisa diceritakan seberapa besar pengaruh musisi lokal terhadap Komunal?”

Dengan nada yang berapi-api Mas Dod mulai menjawab. ”Sangat besar, dulu saya pernah main ke Reverse, kebetulan malam harinya PAS Band ada jadwal latihan. Terus saya izin tuh sama personelnya, ‘nanti kalo latihan saya boleh nonton?’. Anjing banget bisa nonton band kesukaan latihan.”

“Sebutkan lima album lokal yang sangat mempengaruhi musik Komunal!” Saya menodong.

“Wah lima ya? bentar ini susah nih, ini buat pribadi saya aja ya.”

Di nomor urut pertama dia lebih memilih album Godbless – Raksasa, dia lalu mengemukakan alasannya. “Album ini itu sangat keren. Coba denger gitarnya, album ini kan masih jaman Eet tuh, beda banget sama album yang lain. Kalo Ian Antono kan gitu, walaupun sama-sama bagus tapi dia agak flamboyan, kalo Eet enggak! Makanya dari semua album Godbless saya milih album itu, disitu Godbless bermain sangat gahar.”

“Yang kedua itu The Flowers – 17th Keatas. Mereka itu mainin musik rock n’ roll tapi apa ya? saya enggak ngerti soal istilah-istilah begitu, kalau Slank kan rock n’ roll tapi masih bisa dibilang…” Dia tampak kebingungan mencari kata yang pas.

Cemen Mas Dod?” Karel mencoba membantu.

“Nah, iya cemen. Kalau The Flowers enggak, mereka itu bisa dibilang sangat brengsek!” lanjutnya.

“Ketiga itu apa ya?” Mas Dod tampak kebingungan. “Oh iya, PAS Band – In(no)sensation. Mungkin ini adalah album yang terdengar aneh pada waktu itu ya. Kesan saya saat pertama denger itu ‘anjing, kok ada band lokal yang bisa bikin musik kaya mereka’. Banyak sekali unsur musik yang mereka bawa, mulai dari rock, metal, funk, sampai ballads pun ada.”

Selanjutnya dia menyebutkan Puppen – MK II. “Mereka sangat keren menurut saya, tanpa mengklaim dirinya hardcore, Puppen sudah sangat hardcore, sound-nya pun memang sangat keren pada waktu itu. Puppen bahaya dalam segi lirik, gara-gara mereka band lokal jadi terpacu buat bikin lagu bahasa Indonesia.”

Untuk yang terakhir dia merasa kesulitan, karena banyak sekali album lokal yang berpengaruh. Akhirnya, dia menyebut Netral- Album Minggu Ini, “Saya suka album ini karena sound drum-nya bagus. Itu saja.” Sebuah alasan yang singkat.

“Jika ada ABG 15 tahun mau jadi metalhead. Album apa yang akan Anda kasih sebagai edukasi di perkenalan pertama?”

“PANTERA! Itu harus!” tukasnya dengan penuh semangat.

Anjing. Sepertinya dia memang penggemar Pantera garda depan. Walau hanya Pantera yang disebutkan, saya setuju.

Lalu dia mulai melanjutkan, “Kadang sekarang banyak tuh yang dengerin Lamb Of God tapi belum pernah denger musiknya Pantera kaya gimana.”

“Unsur musik mereka itu masih banyak dipakai sampai sekarang!” tambahnya lagi.

Namun, saya pribadi ketika umur 15 sedang akut menggemari Mayhem, Darkthrone, dan kroni-kroninya. Gemar melakukan gerakan ‘meremas testikel di udara’ ketimbang headbang 360 derajat sampai leher putus. Dominasi riff-riff scale minor, atmosfir kemuraman, lirik-lirik blasphemous nan misantropik telah mendoktrin diri saya sejak usia awal pubertas agar menjadi seorang nihilis seperti hari ini. Bangsat! itu adalah sebuah kesalahan, racun Norwegia bukan lah gerbang awal yang baik untuk terjun menggemari musik-musik ekstrem. Namun, musik memang sudah ditakdirkan untuk berhasil merusak kepribadian saya secara signifikan.

Hampir semua lirik Komunal ditulis oleh Mas Dod, dia pun mulai bercerita siapa saja yang paling berpengaruh dalam gaya penulisan liriknya. Dia berkata, “Sepertinya Ahmad Albar yang paling berpengaruh, dia itu liriknya gimana ya? bahasanya sederhana, enggak terlalu banyak memakai bahasa yang hiperbolik, tapi tetap terdengar keren.”

 

Berlanjut ke bagian II……………..

 

Teks: Saputra Dimas

Foto: Indra Suhyar

Editor: Indra Suhyar

 

 

 

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)