Rock and Roll Telah Mati, Komunal yang Menyelamatkan! (Bagian II)

Lanjutan dari bagian I

 

Saya pun bercerita ketika terakhir kali menonton Komunal di Gasibu, pada salah satu acara sebuah kampus ternama. Saat itu, sang vokalis terlihat sangat ‘giting’ di atas panggung. Tampaknya, ia sedang negosiasi “duit keamanan” dengan panitia dan sialnya, Komunal belum juga naik panggung. Tak ada uang, pesta selesai!

“Itu sebenernya karena kecapekan juga. Komunal harusnya main pukul 10, tapi ternyata malah jadi besoknya, jam setengah 1 pagi,” ujar Mas Dod, sembari tertawa.

Pertanyaan sembarangan pun muncul, “Apakah ada, dan kalau memang iya, seberapa besar pengaruh substansi ilegal terhadap proses kreatif penulisan musik Komunal?”

“Kalau soal itu enggak ada, hanya sekedar untuk rekreasi saja. Soalnya, kita tiap bikin lagu pasti dalam keadaan sadar.”

Merilis album secara mandiri memang sangat menguntungkan, oleh karenanya saya mulai membahas hal itu mengingat sejak album pertama, Komunal selalu memilih jalan tersebut. Mas Dod berpesan kepada semua band baru yang memang merasa punya musik bagus, agar lebih baik rilis album secara mandiri saja. Label pun, menurutnya paling hanya membantu proses produksi fisiknya dan promosi saja, karena apa yang dilakukan oleh label masih bisa dilakukan secara independen selagi ada kemauan. “Kecuali kalo udah mentok tidak ada dana sama sekali,” dia menambahkan.

Soal kesulitan merilis album secara mandiri, dia bercerita seperti ini. “Paling yang susah itu ngumpulin duitnya. Kalo soal distribusi, yang sedih itu ketika pertama kali menjual album Panorama. Dulu, saya bawa banyak itu kaset Panorama dan dititipkan ke beberapa toko, waktu itu masih sekitar Bandung-Jakarta. Saat mau menagih laporan penjualan, ada yang sudah bangkrut lah tokonya. Ada juga yang misalnya gini, kita titip kaset itu bulan Januari, nah baru ada laporan penjualannya pada bulan Juni. Jadi album itu tidak terlalu menguntungkan secara komersil, soalnya saat merilis Panorama, Komunal belum pernah manggung sama sekali, jadi tidak ada yang tahu musik kita kayak apa. Lagian, siapa juga yang tertarik beli album antah berantah? jadi seperti beli kucing dalam karung.”

“Tapi sekarang kan kaset Panorama mahal tuh, harganya.”

“Iya, saya pernah lihat ada yang jual 250 ribu kalau enggak salah.”

Penimbunan rilisan fisik, memang tak pernah ada ujungnya, Doddy berpendapat terkait hal itu. “Memang sudah seharusnya, prinsip ekonomi seperti itu. Ketika barang sudah habis di pasaran dan jadi langka, maka harganya akan naik.”

Dia menganalogikan seperti harga cabe. “Contohnya seperti cabe sekarang deh, yang biasanya bisa panen 10 ton tapi karena musim hujan hanya bisa panen 1 ton, tentu harga akan naik karena permintaan tinggi tapi barang hanya sedikit,” ujarnya.

Keluar ilmu akuntansinya, gumam saya di dalam hati.

IMG_9945 (Copy)
Doddy Hamson

“Jadi, kalau ada yang masang harga mahal lalu berhasil terjual, berarti memang sudah rezekinya saja. Misal ada yang beli album lalu 10 tahun kemudian laku dijual dengan harga tinggi, jadi itu istilahnya seperti hadiah berkat usahanya setelah berhasil menunggu selama 10 tahun,” tambah Doddy lagi.

“Dengan lebih terbukanya pasar terhadap musik indie sekarang, menurut Mas Dod ini akan lebih baik secara umum atau malah melonggarkan filter untuk band-band yang memainkan musik yang pas-pasan?” Tanya saya.

“Bagus sih menurut saya, kalau soal musik pas-pasan itu masalah selera. Kadang menurut si A ini pas-pasan, tapi kata si B bagus. Lalu, contohnya ada 10 band dengan musik yang sama, yang 7 musiknya sangat bagus tapi hanya mampu menjual 1000 copy, yang 3 musiknya pas-pasan tapi berhasil menjual 10.000 copy, nah otomatis yang 7 itu terpacu agar bisa menjual 10.000 copy juga karena materinya lebih bagus dan pasar sudah terbuka terhadap musik seperti ini. Jadi, band-band itu punya semangat untuk membuat materi yang bagus agar bisa menjual musik sebanyak-banyaknya karena pasar lebih terbuka,” dia menjelaskan secara mendetil.

Jadi, sederhananya seperti ini: setelah melihat band butut yang musiknya laku keras, band bagus tapi tak laku akan termotivasi untuk membuat karya dan menjual musiknya. Begitu.

Untuk rocker sekelas Komunal, jarang tampil di atas panggung adalah sebuah pertanyaan besar. Dan akhirnya, saya bisa menanyakan perihal itu langsung pada mereka. Pertanyaan ini juga mampu memberi jawaban atas isu bahwa mereka kerap menolak tawaran manggung.

“Kalau soal itu enggak bener, masa sih ada yang nawarin manggung terus kami tolak? Itu menolak rezeki, namanya. Kami tidak seperti itu, mungkin memang belum rezekinya Komunal untuk bisa manggung seminggu sekali,” ujar Doddy, mencoba meluruskan.

“Soalnya saya seumur hidup baru nonton Komunal tiga kali,” sahut saya.

“Di mana aja itu?” Dia penasaran.

“Pertama kali di Maja House acara PMP itu, Limunas di IFI, dan terakhir di Gasibu. Tapi yang gitting di Gasibu itu sih yang enggak bakal lupa,” kami semua tertawa.

“Berhubung album Panorama baru saja dirilis ulang, saya ingin tanya kenapa jarang sekali membawakan materi di album itu? Saya inget tuh waktu di Gasibu teriak-teriak minta lagu ‘Demi Kau dan Semua Mati’ tapi enggak dibawain,” saya bertanya dengan nada kecewa.

“Itu karena jadwal Komunal juga yang manggung misalnya cuma 4x dalam setahun, jadi kita cuma membawakan anthem-anthem wajib saja. Kadang karena di panggung sebelumnya kita merasa tidak puas saat membawakan salah satu lagu, jadi di panggung selanjutnya kita bawakan lagi lagu tersebut. Kita juga kadang cuma memainkan beberapa lagu wajib, sisanya terserah yang nonton mau lagu apa. Cuma kemarin kan di Gasibu mepet waktunya. Kita juga ada rencana nanti habis lebaran bikin konser di IFI, misalnya bawain setlist 15 lagu, sisanya terserah penonton mau lagu apa.”

“’Demi Kau dan Semua Mati’ saya ambil dari judul lagunya The Mercy’s, dulu saya suka dengar mereka. Lagu aslinya berjudul ‘Demi Kau dan Si Buah Hati’, lalu saya plesetkan buat lagu Komunal. ‘Dalam Kerinduan’ juga diambil dari judul lagu mereka,” tambahnya.

“Selama 13 tahun, panggung mana yang paling berkesan buat Komunal?”

Dia pun bercerita sambil mencoba mengingat. “Panggung paling berkesan buat saya pribadi itu panggung kedua Komunal, yang bikin acaranya Unbound (Speedkill), bertempat di BB’s Cafe Menteng, kalau tidak salah MC-nya itu Rian Pelor. Yang main itu kalau enggak salah ada Speedkill, Pelor juga main sama Daggerstab. Kita bawa uang pas-pasan dari Bandung, sudah ada anggarannya tapi kami terlalu hura-hura di acara itu. Alhasil uang kita habis, sisa 50 ribu, lalu kita menodong tukang nasi goreng. Waktu itu, di Menteng, harga nasi goreng sudah 10 ribu, padahal di Bandung Cuma 6 ribu. Nih saya punya uang 50 ribu pengin jadi sepuluh porsi standar sama teh botol. Mungkin karena kasihan, akhirnya dikasih tuh sepuluh porsi nasi goreng plus teh botol. Total harusnya yang bayar itu 100 ribu lebih, tapi kita cuma bayar 50 ribu,” bangsat, kami semua tertawa.

“Selain kasihan, pasti takut juga gara-gara kalian gondrong-gondrong.”

“Bisa jadi! Ada cerita lucu juga sebelum kita pergi ke Jakarta. Sadat sudah jadi senior di kampus, acara ospek-ospek gitu lah dan dia mabuk berat, kita yang harusnya berangkat jam segini, tapi dia masih belum datang,” ujarnya.

“Pas dijalan masih mabuk?” Respons saya.

“Ya begitulah, sudah hangover dia,” lagi-lagi kami tertawa sambil membayangkan keadaan Sadat waktu itu.

“Penggemar Komunal saat ini sangat banyak, apakah kalian tidak takut menjadi mainstream, kalau istilah punk-nya sell out?”

Dia mulai menjelaskan menurut perspektifnya, “Wah tidak takut sama sekali, malah bagus. Tidak bisa dipungkiri juga, kita bikin band agar bisa menghasilkan sesuatu. Setidaknya bisa menyambung hidup dari musik. Jika memang musik dia bagus tapi sell out sih tidak masalah, kecuali jika sebuah band yang awalnya main musik metal lalu berubah haluan menjadi musik yang mudah diterima masyarakat supaya bisa sell out. Malahan kalau bisa, band-band bagus di Indonesia semuanya jadi sell out!”

Saya setuju, kita memang tidak bisa menghindar perihal “sell out” ini. Ketika sebuah band yang sudah lama berdiri lalu mereka memiliki penggemar yang sangat banyak dan mendapatkan keuntungan komersil, itu adalah hasil dari usaha-usaha selama ini untuk membuat musik yang bagus. Hal yang juga sering dikaitkan dengan kasus ini adalah masalah prinsip yang dikenal dengan istilah DIY. Saya masih ingat ketika Kontrasosial yang bermain di Obscene Extreme Fest (yang menjunjung tinggi prinsip DIY) tahun 2013 lalu memilih hanya membawakan satu atau dua lagu, kemudian dilanjutkan dengan membuka ruang diskusi perihal keterlibatan korporasi pada festival tersebut.

Kontrasosial terlibat adu argumen dengan Mike (Marjinal) yang berkata “zaman sekarang masih DIY! DIY! Diewe kali!” dengan lantangnya. Oke, kita memang tidak bisa hidup tanpa terlibat sama sekali dengan para kapitalis, toh ketika menulis ini pun saya menggunakan sebuah laptop keluaran pabrik ternama. Saya belum bisa seberani Kontrasosial dalam menjalankan prinsip DIY dan tidak pernah mendirikan komunitas yang bergerak secara kolektif mandiri seperti yang dilakukan Mike, tapi ketika mendengar kalimat itu terucap dari bibir seorang “veteran punk”, ada sebuah rasa yang sulit diungkapkan.

Mungkin dia hanya ingin menjelasakan kalau prinsip itu sudah tidak relevan di zaman sekarang, tapi apakah perlu sampai berbicara seperti itu?

“Ada rencana bikin lagu tentang kelakuan Habib Rizieq?” Saya melontarkan pertanyaan iseng terkait drama yang tak kunjung usai itu.

“Kalau itu sih enggak, kita enggak pernah bikin lagu yang menyinggung masalah sosial tertentu. Setiap Komunal bikin lagu itu, sebenarnya menurut pengalaman kita saja, contohnya banyak yang mengira lagu GMP membahas politik gara-gara liriknya,” ujarnya sambil menyebutkan bagian “di sini, uang dan politik tak ada artinya”.

“Padahal itu lagu sebenernya menceritakan kalau saya lagi bermain musik, enggak akan inget sama hal-hal yang lain,” ujarnya lagi.

Saya pun awalnya mengira Gemuruh Musik Pertiwi adalah sebuah lagu politis.

“Lalu Rock Petir, lagu itu memberi tahu kalau musik kami itu rock petir,” sambil menyanyikan bagian reff-nya.

“Misalnya kita buat lagu tentang Habib Rizieq keenakan, di dia dong sama kita dibikin lagu,” tambah Doddy, sambil cengengesan.

Komunal terkenal dekat dengan para grindrockers, Rajasinga. Saat di Maja House saya ingat, ketika Komunal sedang bermain, tiba-tiba Morrg muncul dari belakang panggung sambil mencekik botol vodka lalu mencekoki Doddy sebelum akhirnya melakukan stagediving. Sebuah momen epik. Saya pun menanyakan bagaimana awal mula berkenalan dengan sekumpulan pemuja Nirvana yang ‘melenceng’ itu.

“Nah, jadi Morrg itu ngontrak di tempat yang sama dengan Sadat, jadilah kita sering nongkrong bareng,” dia mulai bercerita.

“Kebetulan sama-sama anak rantau juga ya?” tanya saya.

“Kebetulan lagi, abangnya dia teman SMA saya, jadi ruang lingkupnya masih di situ-situ saja sebenarnya.”

“Tidak ada rencana bikin konser khusus bareng mereka? Bakal keren tuh soalnya!” saya merasa antusias.

“Ada sih, kita ingin sekali. Cuma belum ada waktu yang pas.”

Banyak band yang pernah berkolaborasi dengan sosok Doddy Hamson, sebut saja GRIBS, Sigmun, Suri, Rajasinga, dan lain-lain. Ia sampai-sampai mengisi vokal tamu di salah satu track milik Speedkill, Haul, Terapi Urine, dan yang terakhir di album baru milik Siksakubur, serta entah beberapa kolaborasi yang tak sempat saya ketahui. Dia bercerita tentang pengalaman kolaborasi tersebut.

 

“Cerita paling absurd itu saat kolaborasi dengan Suri, kalau enggak salah bawain ‘Pelacur Tua’. Mereka itu kan sangat royal kalau masalah bersenang-senang, Saya minum-minum sampai mabuk berat di acara itu. Pagi harinya saya lihat foto semalam, ternyata saya ikutan nyanyi ya? saya enggak inget sama sekali!” Diikuti pecahnya tawa kami semua.

“Dulu ada salah satu band Jakarta kolaborasi dengan Mas Dod, tapi Mas Dod memakai nama “Baros” di album itu, kenapa bisa sampe pakai nama itu?” Tanya Karel.

“Itu gara-gara saya sedang nongkrong di Jakarta, ada seorang kawan yang mabuk lalu nyeletuk memanggil saya Baros. Makanya, kalau di Jakarta, pada kenalnya Doddy Baros,” ujarnya. “Oh iya, mereka itu nyelipin uang seratus ribu di album, kalau yang beruntung bisa dapet di dalemnya. Saya lebih tertarik sama uangnya daripada albumnya,” ujarnya.

“Siapa yg paling ingin Komunal ajak untuk berkolaborasi dalam sebuah track?”

“Wah itu banyak sekali, kalau saya pribadi ingin kolaborasi dengan The Flowers. Mereka itu secara attitude juga brengsek.”

“Bang Njet itu brengsek ya?” tanya Karel penasaran.

“Enggak, lebih ke Boris yang brengsek sih. Kami juga sempat kepikiran bikin album cover gitu, membawakan lagu band-band lokal.”

“Wah harus jadi itu Mas Dod, enggak kebayang Komunal bawain God Bless, pasti keren!” respons Karel.

“List pertanyaan sudah habis nih,” ujar saya, mulai kebingungan.

“Sudah enggak apa-apa, kita ngobrol yang lain saja,” Doddy mencoba menenangkan suasana.

Karel pun bertanya perihal cover album Panorama. “Itu cover Panorama kenapa nih jadinya seperti itu. Muka Bang Ai ditempel dengan badan Baphomet, tapi tangannya metal.”

Mas Dod hanya tersenyum sambil melihat ilustrasi di kaus saya.

“Itu Mas Dod yang bikin, kan?”

“Iya, itu saya yang bikin. Zaman dulu belum ada illustrator, enggak banyak kayak sekarang. Memang saya ambil gambarnya dari Baphomet, bingung juga, makanya saya simpan wajah dia disitu. Tangannya saya ganti jadi metal, dan waktu itu 666 sedang ngetren, makanya di tangan kirinya saya tulis ‘Let me kill all 666’ dan di tangan kirinya ‘Heavy Metal’ sebagai identitas musik kami. Itu cover paling jelek sih, makanya sering diejekin sama anak-anak. Saya bikin pake Corel Draw,” tutur Doddy.

“Itu bendera di albumnya kan bahaya, di Amerika sana kalau pake bendera itu dianggap rasis.”

“Itu kita enggak ada maksud rasis sama sekali, kami suka dari sisi rebelnya, semangat pemberontakannya. Lagian bendera itu kalau di Indonesia sini kan enggak apa-apa, diakui juga kok di sana kalau itu bendera negara bagian selatan. Selain itu, secara estetika juga sangat keren dilihatnya, jadi kita pake bendera itu karena kita suka semangatnya aja sih, rebel.”

“Karena Pantera juga?” Refleks keluar dari mulut saya.

“Iya!” Jawabnya dengan penuh semangat.

Obrolan pun berlanjut sampai hampir tengah malam, banyak sekali yang kami bicarakan. Dengan hanya ditemani rokok bungkusan. Walau tanpa stimulasi anggur murahan, obrolan kita sudah melebar kemana-mana.

 

Teks: Saputra Dimas

Editor: Bobby Agung

Foto: Indra Suhyar

 

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)