Saat Musik dan Sepakbola Bersenyawa

Mengutip apa yang dikatakan oleh Friedrich Nietzsche: “Tanpa musik hidup adalah sebuah kesalahan”. Dalam pandangan  yang kemukakan oleh filsuf asal Jerman itu, ada garis kesimpulan yang bisa ditarik, Nietzshhe menganggap musik memiliki arti penting dalam kehidupan manusia.

Tidaklah berlebihan kalau Nietzche punya pandangan seperti itu, karena memang pada kenyataannya musik sangat memengaruhi pelbagai aspek kehidupan manusia. Di antara berbagai aspek yang menghias kehidupan anak cucu Adam itu, sepakbola menjadi salah satu spektrum yang menjadikan musik sebagai entitas yang sangat penting di dalamnya.

Dengan musik sepakbola menjadi lebih bernyawa, bisa dibayangkan bagaimana jadinya sebuah pertandingan sepakbola tak dibumbui dengan nyanyian para suporter sebagai tujuan membakar semangat para pemain di lapangan? Sepi, sunyi, dan tak menarik walau berbagai aksi memukau berhasil dipertontonkan para pemain di hamparan rumput hijau, yang tak bersuara.

Dari sekian banyaknya jenis musik yang biasa dikumandangkan di dalam stadion, anthem dari para suporter agaknya lebih dimaknai sebagai sesuatu yang jauh lebih mulia ketimbang chant. Dalam Bahasa ibunya, Yunani, Anthem atau Antefn memiliki arti: “musik ritual yang dinyanyikan secara berkelompok”.

Dikutip dari situs Panditfootball.com, dalam buku The Linguistics of Football yang ditulis oleh Eva Lavric, Gerhard Pisek, Andrew Skinner, dan Wolfgang Stadler (2008). Diartikan bahwa anthem dalam sepakbola merupakan salah satu ritus yang kerap dilakukan oleh para suporter.

Umumnya Anthem adalah nyanyian yang digelorakan suporter di waktu-waktu yang sudah ditentukan. Biasanya dinyanyikan sebelum sepak mula, seperti kebiasaan para pendukung Real Madrid di Spanyol yang menyanyikan anthem berjudul “Hala Madrid” sebelum para penggawa Los Blancos dan pemain dari kesebelasan lawan masuk ke lapangan.

Sakralnya anthem dalam sepakbola, tak jarang membuatnya menjadi identitas bagi sebuah kesebelasan. Merunut kasus ini, You’ll Never Walk Alone yang biasa berkumandang di Anfield (stadion markas kesebelasan Inggris, Liverpool FC), telah menjadi ciri atau tepatnya identitas bagi Liverpool FC.

Judul anthem, yang mulanya adalah sebuah lagu yang tenar setelah dibawakan oleh grup asal Kota Liverpool, Gerry and the Pacemakers pada tahun 1960-an itu, bahkan dijadikan jargon kesebelasan pengoleksi 18 trofi Liga Inggris itu. Bahkan lambang klub pun turut disematkan judul anthem yang biasa dinyanyikan para suporternya itu.

Anthem “You’ll Never Walk Alone” milik para pendukung Liverpool juga mampu membuat bulu kuduk pemain lawan bergidik tat kala para pendukung Liverpool mengumandangkan lagu tersebut. Legenda Arsenal, Thierry Henry, mengungkapkan bahwa satu momen yang takkan pernah bisa ia lupakan kala bertandang ke Anfiled adalah saat para pendukung Liverpool berdiri sambil membentangkan syal dan bernyanyi melantunkan setiap bait lirik “You’ll Never Walk Alone”

“Supporter Liverpool sangat mengesankan, satu-satunya perasaan dan momen yang aku ingin rasakan ketika bertandang ke Anfield adalah, ketika tersentak melihat para supporter berdiri dan mulai menyanyikan You’ll Never Walk Alone. Saya sangat menyukai itu,” katanya.

Tidak hanya Henry, Dejan Lovren, bek tengah Liverpool juga mengakui bagaimana magis “You’ll Never Walk Alone” pun turut membawanya untuk menjadi bagian penting kesebelasan asal kota pelabuhan itu. Lovren tak memungkiri, salah satu alasannya meninggalkan Southampton untuk bergabung ke Liverpool, adalah keinginan merasakan bagaimana sakralnya “You’ll Never Walk Alone” saat dikumandangkan para suporter sebelum dan menjelang berakhirnya pertandingan di Anfield.

“Tentu saja saya tak sabar bermain di Anfield. Saya musim lalu pernah merasakan tampil di sini. Saya mendengar fans menyanyikan You’ll Never Walk Alone. Itu merupakan hal yang sangat spesial bagi semua pemain, pelaku olahraga, dan fans. Saya tak sabar untuk segera memulai,” katanya seperti dikutip dari halaman resmi klub pada 2014 lalu.

Sebenarnya komposisi lagu “You’ll Never Walk Alone” tidak berbeda jauh dengan lagu-lagu pop era 60-an. Tapi yang membuat lagu itu spesial hingga banyak orang menganggapnya memiliki daya magis, adalah lirik yang terkandung di dalamnya. Secara gambling, lirik lagu tersebut memiliki makna mengajak seseorang untuk bangkit dari masa kelam.

Meski nada lagu tersebut mengalun pelan dan cenderung lirih, namun makna yang terkandnung dlaam lagu tersebut sangatlah sarat dengan unsur semangat kebangkitan yang menggelora. Satu informasi tambahan bahwa “You’ll Never Walk Alone” juga tak pernah absen berkumandang dalam acara penghormatan bagi korban Tragedi Hillsborough.

Selain “Hala Madrid” dan “You’ll Never Walk Alone”, ada banyak lagi anthem yang biasa digaungkan supporter seperti “Blau und weiβ, wie lieb` ich dich” milik Die Koenigsblauen (sebutan bagi suporter Schalke 04), atau “Stern des Suedens” milik suporter Bayern Muenchen.

Anthem Sebagai Identitas Kompetisi

“You’ll Never Walk Alone” adalah contoh dari hubungan yang begitu intim antara musik dan sepakbola . Saking intimnya, hingga menjadi identitas tersendiri bagi kesebelasna tersebut. Soal anthem sebagai identitas, sebenarnya tidak hanya pada kesebelasan saja. Namun juga menjalar hingga ranah yang lebih kompleks, yaitu kompetisi.

Bagi penikmat sepakbola, agaknya terlalu miris jika tidak mengetahui kompetisi bertajuk Liga Champions Eropa. Selain Real Madrid (kesebelasan dengan koleksi gelar terbanyak) dan delapan bintang berbentuk bola yang menjadi khas dari kompetisi sepakbola paling elite di benua biru itu, satu hal yang tak mungkin lepas sebagai identitas Liga Champions adalah  anthem yang kerap dikumandang sebelum laga di kompetisi tersebut dimulai.

“Zadok the Priest”, itulah judul anthem Liga Champions. Lagu tersebut diciptakan oleh komposer asal Jerman, George Frideric Haendel. Pada tahun 1992, saat Piala Champions berganti tajuk menjadi Liga Champions, EUFA sebagai federasi sepakbola Eropa menginginkan nuansa musikal sebagai identitas dari kompetisi tersebut.

Lagu “Zadok The Priest” dipilih lantaran menjadi salah satu lagu patriotik bagi masyarakat Inggris. Lagu tersebut melambangkang juara sejati.  Dulu “Zadok The Priest” pernah dikumandangkan saat acara penobatan mahkota Raja George II pada 1727. Alasan-alasan itu yang membuat UEFA akhirnya menjatuhkan pilihan pada “Zadok The Priest” sebagai anthem Liga Champions,sebagai kompetisi para juara.

Hingga akhirnya, mereka meminta bantuan komposer asal Inggris, Tony Britten, untuk menggubah lagu tersebut. Setelah melalui proses penggubahan, akhirnya aransemen baru ‘Zadok the Priest” pun mengalami beberapa perubahan aransemen, yang sedikit banyaknya tidak meninggalkan unsur patriotik di dalamnya.

Anthem dari Liga Champions ini  menjadi lagu wajib yang dikumandangkan jelang pertandingan di laga kompetisi tersebut. Biasanya diperdendangkan saat para pemain sudah berbaris di lapangan, sebelum sesi jabat tangan. Ibaratnya, kalau dalam pertandingan Internasional antarnegara, lagu ini sebagai national anthem atau lagu kebangsaan, kesebelasan yang bertanding di Liga Champions.

Tapi, di laga final penyajian anthem ini akan lebih dikhususkan, sebab anthem akan dikumandangkan secara langsung, dengan lirik yang disesuaikan dengan Bahasa tempat di mana laga final berlangsung. Misalnya, kalau final Liga Champions digelar di Allianz Arena (markas Bayern Muenchen-ED) maka lagu tersebut akan dinyanyikan ke dalam Bahasa Jerman, sesuai dengan letak negara Allianz Arena berdiri.

Selain anthem Liga Champions ada pula anthem FIFA yang kerap dikumandangkan dalam pertandingan resmi FIFA, seperti laga persahabatan Internasional, hingga Piala Dunia. Lagu tanpa lirik ini kali pertama dimainkan di Piala Dunia 1994, Amerika Serikat. Anthem tersebut diciptakan oleh komposer asal Jerman, Franz Lambert, pad atahun 1994.

 

 

Foto: LiverpoolFC,com

Septian Nugraha

Mencari uang dengan menulis sepakbola dan bersenang-senang dengan menulis musik.