Memburu Catatan Hunter S. Thompson, Titik Api Jurnalisme Gonzo (Bag. I)

Dia menembak kepalanya sendiri dan meninggalkan semuanya untuk kita; kegilaan, keanehan, kejeniusan dan kemarahannya terhadap dunia.

Oleh: dr. Marto 

“Saya tidak pernah puas dengan pandangan tradisonal jurnalisme kuno. Saya hanya menuliskan ceritanya. Saya hanya memberinya keseimbangan. Jurnalisme objektif adalah salah satu alasan yang membiarkan politik Amerika korupsi sejak dulu kala.”  HST – 1997

Ketika sekarang saya menulis kutipan pada pukul satu lima tiga dini hari tadi, Hunter Stockton Thompson baru saja terbangun dari tidur pendek di rumah pegunungannya yang bernuansa kayu di Woody Creek, Colorado, Amerika Serikat, tiga belas tahun lalu. Saya dan dia hanya berbeda dua belas jam lebih cepat, namun satu dekade lebih terlambat. Itu adalah 20 Februari di hari Minggu yang cerah dan bersalju di Colorado. Hunter bangun sekitar satu setengah jam lebih awal dari yang rutin dilakukannya dalam tiga puluh tahun terakhir. Dan biasanya – pun jika itu tidak dilebih-lebihkan, dia akan mengurut daftar di bawah ini seperti yang ditulis E. Jean Carroll di buku biografi Hunter: The Strange and Savage Life of Hunter S. Thompson:

3:00 sore: bangun

3:05 Chivas Regal sambil baca koran pagi,Dunhill

3:45 kokain

3:50 segelas Chivas lagi, Dunhill

4:05 secangkir kopi pertama, Dunhill

4:15 kokain

4:16 jus jeruk, Dunhill

4:30 kokain

4:54 kokain

5:05 kokain

5:11 kopi, Dunhill

5:30 es batu tambahan di gelas Chivas

5:45 kokain, dan terus, dan terus

6:00 ganja untuk memulai hari

7:05  pergi ke Woody Creek Tavern untuk makan siang – Heineken, dua margatoes, daun selada, sepiring salad taco, dua porsi onion rings, kue wortel, es krim, sepotong bean fritter, Dunhill,  Heineken lagi, kokain, dan untuk perjalanan pulang ke rumah, segelas snow cone (es parut yang disiram tiga atau empat sloki isi Chivas)

9:00 mulai menghirup kokain secara serius

10:00 tempel acid

11:00  Chartreuse, kokain, ganja

11:30 kokain,  dan terus, dan terus.

12:00  tengah malam,  Hunter  S. Thompson siap untuk menulis

12:05-6:00 pagi: Chartreuse, kokain, ganja, Chivas, kopi, Heineken, rokok kretek, jeruk, Dunhill, jus jeruk, gin, dengan terus-menerus memutar film porno.

6:00 sebotol sampanye, sebatang Dove, pasta Alfredo

8:00 Halcyon

8:20 tidur

Tapi pada suatu siang, temperamen Hunter sedang buruk. Itu daftar khayalan batinnya. Mitos. Bahkan dia tidak berminat untuk headline koran pagi atau berita hasil pertandingan NBA di ESPN. Dia enam puluh tujuh dan merasa seperti gajah tua yang tengah menuruni perbukitan untuk mati. Tubuhnya ringkih—digerogoti. Dia sudah pincang seumur hidup akibat dua tulang kaki kirinya patah; cedera yang didapat dari tahun 2003 ketika sedang meliput lomba maraton di Honolulu. Dahulu, tahun 1980, dia juga datang ke sana untuk lomba maraton yang sama, dan lalu dikembangkannya menjadi sebuah memoir non-fiksi The Curse of Lono.

Saya suka cerita di balik kaki patahnya itu. Saya mendengarnya dari sesi wawancara Hunter dengan seorang penulis tidak dikenal bernama Sally Apgar.

“Itu adalah cerita yang bodoh kalau aku menceritakannya padamu,” kata Hunter.

Kecelakaan itu terjadi pada pukul empat pagi, dua hari sebelum maraton. Seperti biasa, Hunter masih terjaga di depan televisi di kamar suite-nya. Dia ingin menambahkan es batu di minumannya, sekalian bermaksud memanaskan semangkuk saimin di microwave. Jadi dia berdiri. Kita tidak tahu itu sudah gelasnya yang ke berapa, lalu tindak gontai seorang peminum yang ceroboh akhirnya berujung fatal. Hunter terpeleset dan salah jatuh dengan kaki menyilang menghajar ubin yang licin mengkilat. Dan itulah awal dari rasa sakitnya yang berkepanjangan dan putus asa tak berujung bagi Hunter.

“Aku menghantam ujung lancip mini bar,” katanya.

Era depresinya dimulai. Selain masalah kakinya itu, dia menolak untuk melakukan operasi. Sebelumnya, Hunter sudah melakukan pembedahan tulang pinggang dan punggung serta menderita infeksi paru-paru. Pada masa itu, Hunter sedang mengakhiri kiprahnya dengan menjadi seorang kolumnis olahraga, persis seperti saat dia pertama kali memulainya dahulu. Bukunya, Hey Rube: Blood Sport, the Bush Doctrine, and the Downward Spiral of Dumbness yang diambil dari kolom Hey Rube asuhannya sejak tahun 2000 di ESPN, telah diterbitkan tahun lalu. Otobiografinya, Kingdom of Fear: Loathsome Secrets of a Star-Crossed Childs in the Final Das of the American History juga sudah, keluar dua tahun sebelumnya. Jadi dia masih menikmati sisa kejayaannya. Tapi dia renta, dan dia tidak suka itu.

Sore itu, setelah bangkit dari ranjangnya, dia pergi menuju dapur untuk memulai sarapan. Hunter selalu menganggap sarapan adalah kegiatan suci baginya. Tidak ada air putih, dia memulai hari dengan menggenangkan bourbon Wild Turkey dalam gelas. Mengiris jeruk, mengambil beberapa potong roti, lalu duduk di meja makan bersama istri sekaligus asistennya, seorang perempuan muda pirang berusia tiga puluh tahunan bernama Anita Bejmuk.

Suasana di meja itu dingin. Mereka sedang bertengkar. Semalamnya, perilaku Hunter kambuh – dia membuat Anita ketakutan dan marah karena tanpa alasan jelas menodongkan moncong rifle ke arahnya. Kejadian itu dilakukannya di depan Juan – anak lelaki satu-satunya dari pernikahan pertama dengan Sandy Wright – beserta mantu dan cucu laki-lakinya. Sebenarnya itu situasi yang sangat jarang terjadi; Hunter menghabiskan waktu bersama keluarganya. Tapi di akhir minggu itu, dia sengaja mengumpulkan mereka. Mungkin untuk satu rencana terakhir di hidupnya, mungkin juga tidak. Atau ditunda. Tidak ada yang tahu.

“Aku sedang kesakitan dan aku ingin semua orang di sekitarku juga merasakannya. Aku tidak ingin menyimpannya sendiri,” keluhnya.

Malamnya, setelah adu mulut dengan Anita, Hunter masuk ke dalam ruang kerja yang terletak di dapur rumahnya; penuh tumpukan buku, bangkai botol wine, kertas-kertas yang berserakan di lantai, di atas kulkas, tertempel di tembok – tidak jelas itu apa, bisa jadi naskah-naskah gagalnya atau kumpulan catatan kakinya dari tahun 72’ atau orat-oret tak bergunanya. Dua bendera Amerika tergantung menyamping menutupi jendela di sebelah kanan mesin tiknya. Ada sofa berwarna coklat di depan televisi dan topeng Richard Nixon yang tergantung tertimpa beberapa koleksi topi koboy-nya.

Hunter tampak bosan dan gelisah. Painkiller tidak lagi banyak berguna bagi nyeri lututnya. Pil-pil itu tinggal menyisakan efek depresinya saja apabila dikonsumsi terlalu banyak, dan Hunter, tidak perlu diragukan lagi, adalah pemakan pil yang buas. Jadi dia butuh teman di pukul tiga pagi itu dan menghubungi Juan untuk menemaninya. Kemudian mereka minum-minum hingga pukul tujuh pagi. Juan sempat membacakan beberapa paragraf dari Polo is My Life, novel ayahnya yang tidak jadi dipublis di tahun 1994.

“Aku ingat perempuan ini… asal dari judulnya… Aku melakukan obrolan surat menyurat dengan perempuan ini – seorang pecinta polo – dan, dia punya suami yang kasar, polisi berada di sekitarku… mengejarku; Aku bilang, “Ayo pergi ke Australia, naik pesawat… terbang ke Australia, dan dia bilang, ‘Kamu tidak mengerti. Polo adalah segalanya bagiku. Aku tidak bisa pergi denganmu. Siapa yang akan merawat kuda-kuda poni-ku?’ Dari situlah Polo Is My Life berasal,” kata Hunter dengan intonasi seperti menggerutu.

Suasana hati Hunter membaik. Lalu dia tidur.

Itu adalah kurang dari lima belas jam sebelum seorang pahlawan generasi – jenius maniak memutuskan untuk menebus jiwanya sendiri.

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda ke surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Salam!