Dimabuk Laut The Panturas

Sudah hampir dua tahun silam, saya mewawancara grup musik The Panturas. Saat itu, sekira Agustus 2016, formasi personel masih diisi Cecep Herdiana (bas) serta Abduu Al Aziz (keyboard), sisanya sama. Kini, keduanya sudah tak tergabung dan posisi bas diisi oleh pentolan Orkes Bagong Februari (OBF), Bagus Patria.Seiring berjalannya waktu, jam terbang The Panturas meningkat signifikan. Mereka padat jadwal tampil dan jadi perbincangan hangat di ranah musik. Di samping itu, social media engagement yang dibangun seolah mencitrakan persona bahwa mereka adalah sekawanan penakluk laut berwatak selengean yang baru saja mendarat dan menyimpan segudang cerita selama perjalanan; dari menaklukkan ombak Mavericks, menemukan harta karun di Pulau Oak, hingga mencumbu satu per satu gadis pinggir pantai kawasan Samudera Pasifik.

dok the panturasPadahal saya yakin, kelompok musik asal dataran tinggi Jatinangor ini belum tentu mampu mengendalikan papan selancar dengan baik.

Sekian tahun berlalu, kini saya kembali berkesempatan untuk mewawancara The Panturas meski hanya dengan penabuh drumnya saja, Surya Fikri Asshidiq. Pertemuan tak terencana ini, terasa kian menarik karena bertepatan dengan perilisan album debut mereka, Mabuk Laut.

Tentang Penggarapan album Mabuk Laut

Bagi yang telah mengikuti rekam jejak penampilan The Panturas dari panggung ke panggung, lagu-lagu dalam album Mabuk Laut tidaklah asing didengar. Surya menceritakan proses pembikinan, pengumpulan, hingga perekaman tujuh deret tembang tersebut.

“Album Mabuk Laut ini, lagu-lagunya sudah dibuat dari satu tahun (ke belakang). Selama itu, kita ngumpulin materi yang kemudian direkam secara live. Shift pertama merekam instrumen saja, sementara shift kedua adalah vokal. Alasannya sih berhemat,” kata dia.

Lebih lanjut, Surya memaparkan bahwa pola perekaman seperti ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada sisi kelebihan, lagu-lagu dalam Mabuk Laut terdengar lebih nakal dan apa adanya; tak perlu manipulasi sana-sini. Sementara kekurangannya, menurut Surya, terjadi saat beberapa instrumen dirasa kurang bertenaga, utamanya gitar.

Mabuk Laut bernaung di bawah LaMunai Records dengan konsep kemasan bernuansa vintage. Desain serta tata letak album, dibuat oleh Toma & Koko. Yang menarik dari sampul adalah, ia memajang sosok model asal Indonesia zaman dahulu yang diakui oleh Iksal Rizqi Harizal, manajer The Panturas, entah siapa.

Setelah unboxing paket Mabuk Laut secara jemawa bagaikan YouTuber memperoleh barang gratis untuk diresensi, kini saya beralih lebih dalam menuju tujuh nomor dalam album Mabuk Laut. Semuanya menarik dan berkesan secara pribadi.

Menyelami tujuh nomor dalam album Mabuk Laut

Rangkaian lagu dibuka dengan introduksi bertajuk “Tenggelamkan!” yang dikonsep secara instrumental. Satu yang harus disyukuri The Panturas adalah, mereka lahir dan besar di era yang tepat: Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah pimpinan Susi Pudjiastuti.

“Bu Susi adalah sosok yang ­badass sebagai menteri, dia ikonik dan aing pengin mengabadikan itu,” kata Surya. Ya, kata “tenggelamkan” begitu populer diucapkan Susi saat menanggapi kejahatan-kejahatan berdampak kerusakan laut yang kerap dilakukan oleh manusia-manusia tolol tak bertanggung jawab di perairan sana.

Adapun materi selanjutnya adalah “Fish Bomb”. Ceritanya sederhana, yakni tentang bom ikan yang meledak di rumah seorang nelayan dan menewaskan kedua temannya. Kisah nyata berdasarkan penuturan Surya saat membaca berita ini, seperti sebuah balasan Tuhan atas ulah tak bertanggung jawab para perusak laut.

Ah, bawa-bawa Tuhan.. Saya terdengar seperti ormas.

Beberapa minggu sebelum Mabuk Laut dirilis, “Gurita Kota” sudah diluncurkan oleh The Panturas. Saya tak perlu berbicara banyak tentang lagu ini, ia punya padanan musikalitas yang ciamik dengan lirik nan apik. Satu-satunya yang berbahasa Indonesia dalam album ini dan mungkin, lirik terbaik yang terpampang di Mabuk Laut. Epik dan puitis di waktu yang bersamaan.

Padahal, maknanya tak segagah itu; tentang Surya yang diseruduk bus Metromini dari belakang, di tengah jalanan Kota Jakarta.

Masuk ke nomor empat, “Arabian Playboy.” Di sini, The Panturas mengajak Solois Oscar Lolang untuk berperan sebagai narator yang menceritakan kehidupan sosok fiktif bernama Abdullah, saudagar kaya berdarah Arab yang memelihara macan tutul dan gemar bermain perempuan. Suatu hari, Abdullah terpaksa pulang ke rumah karena perangai hidung belangnya ketahuan sang istri. Lirik ditulis oleh Oscar.

“Sebenarnya saya enggak mau rasis sih, lewat ‘Arabian Playboy’. Jadi, lagu ini terinspirasi oleh salah satu teman saya yang ditipu oleh cowok Arab yang ternyata adalah playboy. Dari situ, saya terpikir untuk menarik ceritanya leih dalam dan membuat seolah seperti cerpen,” ujar Surya.

Lalu ada “Pergi Tanpa Pesan”, materi instrumental kedua yang dibawakan ulang dari lagu milik penyanyi Ellya Khadam. Meski begitu, Surya mengaku kalau ia lebih terinspirasi oleh versi Eka Sapta. Saat mendengarkan “Pergi Tanpa Pesan” versi The Panturas, saya seperti sedang ditemani menonton film-film bernuansa noir nan spaghetti western ala Sineas Quentin Tarantino. Begitu sinematik. Adegan yang tepat untuk menggambarkannya adalah saat Butch Coolidge (Bruce Willis) pergi sejenak meninggalkan sang kekasih, Fabienne (Maria de Medeiros) untuk kembali ke apartemen dan mengambil jam peninggalan ayahnya yang tertinggal, dalam film Pulp Fiction (1994).

Saya kerap menganggap bahwa lagu-lagu instrumental terasa hampa, hingga akhirnya The Panturas mengubah persepsi tersebut lewat “Pergi Tanpa Pesan”. Cocok menjadi lagu latar bagi Anda saat melangkah meninggalkan kekasih yang baru saja Anda cumbu, dan dia cuma bisa menatap dari jauh sambil memasang wajah penuh harap.

Kemudian, lagu melankolis berjudul “Sunshine”. Sempat salah mengira bahwa ini adalah tembang bernuansa romantis soal percintaan muda-mudi, Surya kemudian meluruskan duduk perkara.

“’Sunshine’ dibuat oleh Acin (Abyan Zaki Nabilio—vokal, gitar), saya bantu ­co-writing saja. Justru, saya sama Acin beda tangkap. Kalau dari sisi saya, lagu ini adalah tentang orang-orang yang merasa kehilangan (sosok terdekat) tapi sinarnya tetap ada, seperti anak yang kehilangan orangtua. Sementara Rizal (gitar), menangkapnya lagu ini seperti menceritakan peristiwa ’98, di mana orangtua menunggu anak aktivisnya untuk pulang sampai sekarang,” tutur Surya.

Saya cukup terpelatuk dengan makna lagu “Sunshine”, apalagi kalau memang benar berbicara soal anak yang kehilangan orangtua. Lumayan membuat haru.

Terakhir, kita bertemu lagi dengan “Fisherman’s Slut”, single pertama The Panturas yang bikin mereka naik pada pertengahan tahun 2016 silam. Namun entah mengapa, saya lebih suka dengan versi terdahulu yang direkam per trek instrumen. Suara kibornya terkesan lebih mistis, lalu padanan musikalitasnya jauh lebih solid dibanding edisi sekarang.

Apakah ini semua terjadi karena faktor metode rekaman? Saya lantas membayangkan, akan semegah apa jika seluruh lagu menggunakan sistem track recording.

Setelah puas berbicara isi lagu dalam album Mabuk Laut, saya bergegas menanyakan kepada Surya soal jati diri, musikalitas, dan langkah panjang The Panturas di masa depan.

The Panturas, anomali surf rock di dataran tinggi, dan masa depan

Tak bisa dipungkiri, The Panturas telah menjadi salah satu ikon surf rock Indonesia yang lagi-lagi saya yakin, beberapa dari mereka pasti tidak bisa mengendalikan selancar dengan baik. Tawaran main makin banyak, mereka yang memuji juga kian membludak.

“Sampai ada salah satu junior saya yang bilang, kalau dia bikin band karena melihat The Panturas. Padahal, kita mah enggak segitunya!” kata Surya.

Untuk ukuran pendatang baru, The Panturas berhasil melalui semuanya dengan baik. Tinggal bagaimana mereka mempertahankan kiprahnya sebagai pentolan surf rock nan segar.

Memang benar, kalau The Panturas identik sebagai pengusung surf rock yang tumbuh di dataran tinggi. Sebuah anomali katanya, dengan alasan bahwa letak geografis seperti itu harusnya identik dengan bebunyian rindang ala folk. Ah, persetan dengan anggapan demikian. Musik apapun seharusnya bisa tumbuh di mana saja.

Hal ini terjadi karena bagi saya, The Panturas menggumulkan berbagai macam komponen ke dalam Mabuk Laut. Ada yang menaruh unsur ketukan cepat ala punk, nyanyian khas pop britania, nada-nada rock lawas, dan lain-lain; meski garis besarnya tetap surf rock. Terjebak dalam klarifikasi genre adalah hal yang menjemukan.

“Eksplorasi pasti ada, enggak bakal melulu berbicara soal laut. Mungkin nanti, akan ada masanya The Panturas seperti The Spotnicks, surf rock yang mengangkat tema-tema seputar luar angkasa. Masih enggak tahu sampai sekarang, nanti dicoba-coba saja,” ujar Surya.

Dengan begitu, sudah saatnya The Panturas mengakhiri permainan frasa ala “surf rock di dataran tinggi” karena siapa tahu, di masa yang akan datang, band ini bukan hanya menjadi kebanggaan Jatinangor saja, tapi juga seluruh Indonesia. Pun patut diingat kembali, bahwa kita hidup di negara maritim. Laut beserta perusak-perusaknya, akan selalu mengitari.

…Itu juga kalau The Panturas masih bertahan serta tidak terkena kutukan band kampus pada umumnya: pasif setelah para personel lulus dan mendapat pekerjaan tetap.

***

imagesThe Panturas masih harus menempuh jalan panjang dalam banyak aspek, semisal membentuk karakter. Mabuk Laut merupakan salah satu tahap awal, sehingga kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Buktinya, dua tahun ke belakang saja, mereka bergerak secara progresif dan tak diduga-duga.

Sebelum semua hal berjalan jauh, sebaiknya Anda mendengarkan album pertama The Panturas berjudul Mabuk Laut. Dengan segala keterbatasan yang ada, paket tersebut mampu menjadi referensi musik Indonesia di awal tahun 2018. Jalesveva jayamahe!

…Ah, sekarang saya terdengar seperti pro-tentara.

Foto: Dokumentasi The Panturas

Bobby Agung Prasetyo

Verba volant, scripta manent. Santai-santai enthusiast. INFJ. Bekerja sebagai jurnalis dan penulis konten. Hura-hura dengan musik punk rock di akhir pekan. Menulis di Surnalisme sejak awal.