Membongkar Habis Playlist Abad 21

“We need change, we need it fast/Before rock just part of the past/’Cause lately it all sounds the same to me,” – Do You Remember Rock n’ Roll Radio (The Ramones, 1980).

Sepenggal lirik dari kuartet punk legendaris yang menjadi bagian dalam paket khas End of The Century tersebut, merupakan sebuah konteks penggambaran masa depan yang mungkin akan terjadi—tentunya ada pada saat ini. Musik terus berkembang seiring berjalannya waktu, tanpa sedikitpun menghamburkan peluang dalam mengkombinasikan warna. Alhasil, bebunyian kontradiktif kerap terjadi demi memenuhi hasrat pencarian seni nan berkualitas.

Distorsi ditabrakkan dengan EDM, akustik yang mengandung vokal nan noise, serta kecadasan rock beranak-pinak—salah satunya—menjadi ‘bocah pemurung’ yang tak ragu memekikkan teriakan penuh siksa dan kepedihan. Kita tahu itu musik apa.

Sebelum membongkar habis playlist abad 21, mari berbicara soal rasa pesimis dari baby boomer yang berkata bahwa grunge adalah ‘zaman terakhir’ dari peradaban musik; selebihnya hanya nada repetitif yang berasal dari masa lampau. Hal tersebut memang nyatanya adanya, namun jangan lupakan bahwasanya awal dimulai dekade ini adalah pergerakan berarti lewat tipikal musik yang tak bisa diremehkan. Rap metal ala Limp Bizkit misalnya, Brit Pop segar ala Travis atau Keane, RnB semakin menggila, dan post-hardcore/emo tak sungkan berinovasi. Tentu saja, warna musik tersebut dipengaruhi oleh para pendahulunya seperti (misal) Beastie Boys pada hip-hop/alternative, Blur dan nomer hits britania lain, serta Rites of Spring serta Fugazi sebagai penggagas hardcore yang post-post saat ini. Kelebihan dan kekurangan, jelas tersaji secara konkrit.

Baris lagu dari genre di atas, tentu senantiasa mengilhami kesuburan musik alternatif yang selalu agresif dalam mencari celah anti-mainstream. Sekalipun dalam alat pemutar musik masih ada nada-nada lama (yang tak dipungkiri kehebatannya dalam menginspirasi), playlist abad 21 pun setidaknya hadir menjadi dinamika bagi para pendengar. Dalam ranah populer, solois-solois cerdas turut sumbangsih kepada belantika yang kian berwarna; misal Gwen Stefani yang mandiri tanpa No Doubt, Britney Spears, Katy Perry, Taylor Swift, dan beberapa lainnya. Daftar lagu saat ini, selain inovatif, juga penuh percabangan.

Budaya pop dengan bantuan teknologi informasi, memaksa semuanya untuk menjadi instan. Ini terlihat dari tren ajang pencarian bakat yang tersaji secara manis (atau manis berlebih) lantas membuat para musisi non-jalur itu sedikit tergeser. Namun, pepatah “yang cepat naik akan cepat turun” tentu berlaku dalam ranah ini. Serta teruntuk artis youtube, apa kabar Justin Bieber? Di negeri tercinta, kita sempat disuguhkan kisah unik dari Norman Kamaru yang percaya diri untuk melepas statusnya sebagai polisi lantas berkiprah di dunia entertain khususnya musik. Apa jadinya? Ya, kandas ditelan bumi. Meski kini sukses dengan usaha buburnya, namun Dewi Fortuna tak lama bersama mantan briptu tersebut untuk menemaninya dalam dunia tarik suara.

Boyband, girlband, dan sekumpulan remaja cheerful lainnya yang apapun itu namanya, bernasib sama dengan gerakan instanisasi di atas. Pun seharusnya, jika musik melayu adalah prospek yang menjanjikan, kita pasti bisa melihat eksistensinya untuk sekitar 5 tahun kedepan lagi. Jangan jauh-jauh menerawang masa depan, kabarnya di tahun ini pun tak terlalu mencuat. Entah masyarakat sudah bosan atau mendadak cerdas, tapi 2015 adalah pergulatan yang sarat akan selera musik.

Singkat kata, beberapa warna yang memiliki karakteristik kuat macam rock, anaknya yakni heavy metal, EDM, atau nuansa alternatif, tersirat memiliki potensi untuk tetap ada di kemudian hari—menciptakan suatu selera yang segera memikat telinga. Gerilya televisi, majalah, radio, koran, atau dunia maya pun akan berperan besar jika memang media tersebut ‘sehat’. Membongkar habis daftar putar lagu saat ini, adalah spekulasi yang kita tak tahu akan lagu berikutnya yang terputar. Selera lagu, bahkan seperti sebuah mode shuffle yang penuh misteri. Kita nantikan, atau jika dirasa kalimat “kita nantikan” adalah ode kepasrahan, maka mari sebut “kita turut andil”, dalam pemutaran lagu selanjutnya di playlist abad 21.

Bobby Agung Prasetyo

Merujuk pada tipe indikator a la Myers-Briggs yang banyak orang bilang palsu, Bobby Agung Prasetyo memiliki jenis kepribadian INFJ. Mengimani profesi sebagai seorang jurnalis, pengajar, dan sedikit-sedikit meneliti.