Memburu Catatan Hunter S. Thompson, Titik Api Jurnalisme Gonzo (Bag. II)

Oleh: dr. Marto

Hunter S. Thompson menulis seperti dia sedang berbicara. Kita bisa mendengar nada suara dari kalimatnya – kapan dia mengambil nafas, mengalur atau meluap cepat tanpa titik-koma, membentak, berpikir, tenang atau sedang berhati-hati. Mungkin jika Hunter masih hidup sekarang, di era aneh ketika kebenaran adalah kebohongan sejati di dunia maya, dia akan menulis seperti ini untuk Presiden Donald Trump – saya membayangkan seorang kakek patriot-penggerutu berusia 80 tahun: “Anda rasis tengik! Anda memalukan dan tak pantas dibanggakan! Saya tidak malu untuk tidak memilih Anda, lelucon politik terburuk sejak Nixon, dan Bush yang kecanduan darah dan minyak. Tangan Anda bersisik, lidah Anda beracun, patriot kebencian. Ah, milenium, generasi malapetaka Amerika!”

Sejak awal dia sudah memilih untuk keluar jalur. Melawan aturan sambil mencari jati diri sebagi seorang penulis. Dia adalah seorang pemberontak alami. Ibunya pernah mengatakan suatu kali, “Hunter sudah membuat susah sejak dia lahir.”

Ayahnya wafat ketika dia remaja dan ibunya menjadi pecandu alkohol. Pada saat itu juga dia berusaha melawan tatanan sosial, menjadi kriminal. Ada api kemarahan yang menyekam dalam jiwanya, dan dia tidak tahu bagaimana harus melepaskannya. Saat itulah persekutuan seumur hidupnya dengan perlawanan dimulai. Dia mulai sering berbuat onar di lingkungannya.

Porter Bibb, rekan kejahatannya sewaktu remaja menceritakannya dalam biografi lainnya, Gonzo: The Life of Hunter S. Thompson yang ditulis oleh Jann Wenner, pendiri Rolling Stone.

“Kami membawa senjata di mobil. Kami menembaki rumah, kotak surat, tempat sampah. Kami mengutil. Kami membobol toko alkohol. Kami mengakali gembok atau menjebol jendela. Saya tak pernah membayar tagihan hotel saat bersama Hunter. Kami tinggal keluar dari jendela atau tangga darurat. Itu biasa saja.”

Tapi di sela pergi mencuri atau mabuk mengencani gadis-gadis di pesta dansa, mengunjungi perpustakaan merupakan hal yang tak kalah penting bagi Hunter. Dia membaca Hemingway atau Fitzgerald di sana, dan mulai sering menulis. Salah satu esai-nya Open Letter to the Youth of Our Nation mendapat juara tiga dalam kontes yang diadakan majalah Athenauem di mana Hunter membakar para generasi muda Amerika dengan ceramah membara seperti ini:

Anak muda Amerika, bangunlah dari kelambanan kalian dan dengarlah panggilan dari masa depan! Sadarkah kalian bahwa kalian akan segera menjadi generasi malapetaka? Sadarkah kalian kalau nasib dunia dan seluruh generasinya berada di pundak kalian? Bagaimana kalian bisa tertawa di tengah bencana yang sedang menghantam kita dari segala arah? Oh anak muda yang acuh, dunia ini bukan tempat menyenangkan. Kini saatnya untuk meninggalkan kesenangan masa kecil dan bekerja keras hingga berusia 65 tahun. Pada saat itulah kalian baru bisa santai dan menerima jaminan sosial dan hidup bahagia sampai waktu kematianmu.”

Hunter menulis itu di tahun 1955, tepat di usia puncak tujuh belas tahun. Dia lahir pada 1937 di tengah Depresi Besar yang melanda Amerika sepanjang 1930-an dan tumbuh besar ketika ekonomi mulai membaik usai Perang Dunia yang menumbuhkan harapan baru bagi generasi setelahnya.

Tahun 1955 adalah awal dari revolusi artistik Rebel Without a Cause ditayangkan – bintang utamanya, James Dean langsung tewas di tahun itu juga – Elvis Presley muncul di televisi dan Jerry Lee Lewis, Chuck Berry, Bill Haley datang setelahnya, lalu Howl milik Allen Ginsberg dicekal pemerintah karena terlalu cabul.

Bagi Hunter saat itu revolusi adalah hal yang masih dipendamnya. Dia malah masuk penjara selama tiga puluh hari masa percobaan karena tertangkap merampok orang di sebuah taman bersama seorang kawan sekolahnya. Sebelumnya dia juga telah memiliki catatan pelanggarannya sendiri: merampok pom bensin dan membeli alkohol walau belum cukup umur. Pengadilan lalu memberinya ultimatum: masuk penjara atau kamp militer. Tidak ada pilihan yang lebih baik selain masuk tentara, tentu saja. Selama dua tahun berikutnya sang penjahat remaja harus melayani negaranya sebagai prajurit Angkatan Udara.

Gairah menulisnya tetap dicurahkan dari barak militer dengan mengambil pekerjaan sampingan sebagai editor olahraga di The Command Courier, sambil juga menyambi sebuah kolom olahraga untuk The Playground News.

Ketika masa hukuman militernya usai di akhir 1967, dia membuat balas dendam dengan caranya sendiri: menulis sebuah kisah fiktif yang menceritakan tentang kerusuhan yang terjadi di pangkalannya di mana para prajurit digambarkan menghajar para perwira dan menyerang mess – mencuri semua persediaan alkohol, mabuk-mabukan dan memperkosa para kopral wanita. Hunter menggandakan tulisan itu lalu menyelinap ke ruang komandan dan meninggalkan salinannya di atas meja.

Karier jurnalistiknya dimulai. Dia bekerja di sebuah koran olahraga lokal bernama Herald. Lalu sempat juga menjadi seorang reporter tukang salin artikel di majalah Time. Hunter memanfaatkan mesin tik Time untuk menulis ulang novel-novel pujaannya seperti The Great Gatsby dan A Farewell To Arms, persis kata demi kata. Orang-orang banyak meledek dan menuduhnya pretensius karena hal itu, termasuk Porter Gibb yang bersama Hunter bergabung dengan Asosiasi Literatur di Louisville, Kentucky kota kelahirannya.

Tapi Hunter menjawabnya enteng, “Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya menulis kalimat-kalimat hebat itu.”

Kemudian dia dipecat dari Time karena mabuk dan menghina atasannya. Lalu sebentar menjadi wartawan di Daily Record sebelum dipecat karena (lagi-lagi) mabuk dan menendang mesin permen. Dia mengincar pekerjaan di wilayah Selatan dan mengirim surat kepada William J. Dorvillier, editor sebuah harian di Puerto Rico bernama San Juan Star. Hunter menulis:

“Pekerjaan ini menarik karena dua alasan: lokasinya di Karibia, dan ini adalah koran. Gaji adalah urusan nomor dua, sepanjang berada di luar Demokrasi Rotary. Upah minimum saya, supaya Anda mampu memenuhinya, mungkin di sekitaran $400 sebulan. Ada beberapa pekerjaan yang tidak mau saya terima meski berupah dua ribuan sebulan, kalau di sisi lain hanya berharga dua ratus tapi saya menyenanginya. Jadi kita tinggalkan dulu masalah gaji, bisa kan?”

Suratnya itu ditutup dengan gaya penuh percaya diri mendangak khasnya. “Saya sudah pasrah terhadap jurnalisme Amerika. Kemerosotan pers Amerika sudah tampak jelas sejak lama, dan waktu saya terlalu berharga untuk dihabiskan dalam rangka memberi kuota harian berupa keklisean, gosip, erotisme. Ada sebuah konsep jurnalisme di luar itu, yang mungkin akrab atau tidak bagi Anda.”

Hasilnya dia tidak diterima tapi tetap berangkat ke Puerto Rico setelah mendapat pekerjaan lainnya di majalah olahraga El Sportivo. Hunter mulai mencoba menulis naskah awal dua novelnya di sana, The Rum Diary yang baru terbit di tahun 1998 dan Prince Jellyfish yang tidak pernah diterbitkan.

Hunter adalah monster energi. Sekembalinya dari Karibia dia melakukan perjalanan hitchhike melintasi Amerika seperti halnya Kerouac menuju barat dari New York – Hunter membenci On The Road sebenarnya karena dinilai terlalu sentimentil, namun dia berhenti di Big Sur, California di mana Kerouac menulis novel kontemplasinya dengan judul Big Sur yang juga dibenci Hunter. Dalam sebuah suratnya kepada Paul Semonin, sahabat kecilnya, di tahun 1962 dia menulis:

“Aku baru saja mulai membaca buku yang sangat, sangat jelek dari Jack Kerouac berjudul Big Sur.”

Selama di era mudanya dia terus berkelana dan pergi ke Selatan selalu menjadi tujuan utama karena dia tahu ada banyak berita yang menggugah di sana, Amerika Latin. Dan Hunter tidak suka cara yang biasa, jadi setelah mendapat pekerjaan sebagai kontributor di The National Observer, dia pergi melalui jalur Nikaragua dengan kapal penyelundup dan sampai di Pulau Aruba dengan hanya memegang $30 di kantungnya. Dia mendengar kalau orang-orang menyelundupkan minuman keras dan ganja ke seluruh Latin dari pulau itu. Dia ingin menyusup menyusuri mata rantai ekonomi ilegal tersebut.

Sebelum melanjutkan perjalanan, dia sempat menulis surat lagi pada Semonin.

“Besok sore aku akan pergi ke Kolombia dengan kapal kecil yang juga membawa berton-ton wiski gelap; mungkin aku akan masuk penjara dalam empat puluh delapan jam – penjara Kolombia; jika aku bisa sampai ke Barranquilla, tujuanku, aku hanya akan punya uang tidak sampai $5; apa yang akan terjadi selanjutnya adalah terserah Tuhan. Ini adalah situasi aneh terbaik yang bisa terjadi pada seorang pria yang mungkin akan sampai di Amerika Selatan dengan $5. Harapanku untuk uang tergantung dari nasib lima artikel yang kukirim dari San Juan. Jika terpakai, aku mungkin akan punya $20 sampai $100, lebih dan di atas $5 milikku sekarang ini, saat aku mendarat di Barranquilla.

Kenyataannya, di Selatan Hunter selalu bangkrut. Upah menulis di negara dunia ketiga – sama seperti di Indonesia sekarang – tidak pernah cukup. Meskipun begitu, dia berkeliling ke Bogota, Cali, Lima, La Paz dan Rio de Janeiro dan sempat mengeluarkan artikel-artikel pra-gonzo terbaiknya di sana untuk National Observer tentang Peru berjudul Democracy Dies in Peru, but Few Seem to Mourn Its Passing.

Di kemudian hari editor Hunter di National Observer, Clifford Ridley memberi komentar tentangnya. “Hunter mungkin menulis satu artikel per bulan selama di Amerika Latin, dan sebagian besar dimuat di halaman pertama. Kami tidak mempermasalahkan kebiasaannya ikut di dalam artikel-artikelnya. Dia mungkin saja sedikit melebih-lebihkan cerita tapi tak ada yang meragukan kualitas tulisannya. Dia luar biasa bagi kami, dan bagi jurnalisme saat itu.”

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda ke surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Salam!