Memburu Catatan Hunter S. Thompson, Titik Api Jurnalisme Gonzo (Bag. III)

Oleh: dr. Marto

“Aku selalu merasa sebagai orang dari Selatan dan dilahirkan dalam keadaan kalah. Dan mungkin aku telah menulis semua yang aku tulis hanya untuk merebut kembali sebuah kejayaan. Hidupku mungkin sepenuhnya berisi pembalasan dendam,” kata Hunter suatu waktu.

Itu semua mulai dilakukannya di pertengahan ’60-an. Hunter memasuki babak baru dalam gaya penulisannya. Menjadi telanjang, kurang ajar, menyerang, menghapus kode etik dan imajinatif. Setelah mencuri tanduk rusa milik Ernest Hemingway di rumah sang penulis itu ketika dia ditugaskan membuat laporan investigasi tentang kasus bunuh diri Hemingway, Hunter menerima penugasan yang paling berbahaya di sepanjang kariernya: membuat cerita tentang geng motor paling kejam – geng tukang bunuh yang terlibat peredaran narkotika, Hell’s Angels.

Hunter pindah ke San Francisco untuk pekerjaan itu dan embrio gonzo dalam dirinya mulai muncul. Pada awalnya dia menulis untuk sebuah artikel di The Nation berjudul The Motorcycle Gangs: Losers and Outsiders, yang lalu dijadikan sebagai landasan ambisius untuk buku pertamanya, Hell’s Angels: The Strange and Terrible Saga of the Outlaw Motorcycle Gangs di tahun 1967.

Hunter berpergian dengan gerombolan motor itu selama setahun penuh. Bukunya sendiri berisi kemarahan dan pembangkangan sejati. Hunter merasa adanya keterikatan antara dirinya dengan Hell’s Angels sebagai orang-orang luar yang tersisih dan tertindas. Itulah dasar penghormatan dari pemberontakan yang dia agungkan. Hell’s Angels baginya melambangkan arah pergeseran masyarakat sosial Amerika pada saat itu.

Subjeknya adalah Hunter sendiri – ibaratkan dia mengikat dirinya ke rel dan menunggu kereta api datang. Hunter berada di rel di sepanjang proses buku itu. Sonny Barger, presiden geng itu mengatakan impresinya tentang Hunter.

“Dia berbeda. Dia tidak menyesuaikan diri. Kami nongkrong di rumahnya dan ke manapun kami pergi, dia ikut. Tapi Hunter tidak pernah berlagak seperti kami. Dia selalu sadar bahwa dia berbeda dengan kami.”

Kemudian kereta itu datang dan menabraknya. Berurusan dengan para penjahat seperti Hell’s Angels harus membuatnya siap untuk segala kemungkinan, termasuk dipukuli habis-habisan oleh mereka sendiri atau geng saingan. Hal itu terjadi di sebuah parade motor Hell’s Angels ketika seorang anggota bernama Junkie George sedang memukuli pacarnya di depan Hunter.

“Laki-laki yang memukul perempuan adalah seorang berandalan,” kata Hunter saat itu.

Sebenarnya, yang diucapkan oleh Hunter saat itu hanya akan memberinya kecelakaan dan benar, “sekarang giliranmu,” balas George. Seketika satu tinju masuk tepat di wajahnya tanpa peringatan. Dia tersungkur. Hantaman selanjutnya adalah tendangan dari belasan sepatu bot para pengendara Hell’s Angels. Hunter sama sekali tidak membalas karena dia tahu dia akan mati kalau melakukan itu. Dia hanya mempertahankan diri sebisanya lalu kabur. Matanya lebam babak belur dengan darah yang membeku pada retina. Dia dikeroyok.

“Aku bergulingan di atas bebatuan dan dikerumuni oleh sekumpulan pengendara motor yang teler dan mabuk. Satu orang menghajarku, dan beberapa lainnya menendang dadaku dan salah satu dari bajingan itu mencoba untuk memecahkan kepalaku dengan sebuah batu besar,” kata Hunter.

Tapi kemudian itu adalah sempurna. Adegan pemukulan itu dijadikan sebagai bab penutup dalam bukunya. Bisa jadi dia telah merencanakan itu semua – memprovokasi George demi alur akhir yang dia inginkan: ‘Saya nongkrong, pergi, mabuk dengan Hell’s Angels dan juga hampir terbunuh oleh mereka’. Buku itu meraih best-seller di Amerika.

***

Kemudian LSD. Sandy, istrinya saat itu masih mengingat dengan jelas bagaimana reaksi liar Hunter ketika untuk pertama kali berada dalam kuasa acid. Mereka berdua mengunyah bersama, masing-masing satu blott. Itu terjadi di San Francisco di tengah proses Hell’s Angels. Hunter memutar Surrealistic Pillow dari Jefferson Airplane untuk mengiringi pengaruhnya. Sisi gelap Hunter yang sangat besar keluar sementara dia mulai mengoceh tentang hewan dan Tuhan. Lalu, seperti diceritakan Sandy, dia meminta senapan. Juan, anaknya yang masih balita berada di ruangan yang sama dengan mereka.

“Di mana senapanku?” tanya Hunter.

“Senapanmu? Aku rasa itu bukan ide yang bagus,” balas Sandy.

“Di mana?” dia bertanya lagi.

“Aman. Aku akan menjaganya.”

Lalu dia melupakannya dan Sandy yang khawatir menyembunyikan senapan milik Hunter. Sekitar setengah jam berikutnya Hunter kembali meminta senapannya.

“Senapanmu baik-baik saja, aku telah menjaga mereka,” kata Sandy lagi.

Dan itu berlangsung terus. Setiap jam dia akan mengingat tentang senapannya dan memintanya ke Sandy. Akhirnya kesabarannya habis.

“AKU INGIN SENAPANKU!” bentak Hunter.

Sandy ketakutan, “Aku tidak bisa memberikan senapan itu padamu.”

Lalu Hunter bilang, “Kalau kamu tidak memberikanku senapan itu aku akan melempar sepatu bot ini keluar jendela.”

“Aku tidak bisa memberikannya padamu,” Sandy bersikukuh.

Hunter benar-benar memenuhi ancamannya, melempar sepatu bot miliknya hingga memecahkan kaca jendela yang berserakan di lantai. Sandy terkejut, dia ketakutan dan marah. Jadi dia menghampiri Hunter dan mencakar wajahnya hingga berdarah. Mereka berdua meliar histerik. Hunter tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung keluar dari ruangan, menunggang sepeda motor dan pergi ke tempat teman-teman Hell’s Angel-nya. Ketika Sandy menelepon ke sana satu jam kemudian untuk menanyakan keadaan suaminya, dia mendapat jawaban seperti ini dari salah satu anak Hell’s Angels:

“Ya, dia di sini. Saya tak pernah melihatnya seperti ini. Dia sedang mewarnai gambar dengan dua gadis kecil.”

Dari situlah perjalanan realitas khayalnya dimulai. Semuanya berwarna-warni – Hunter tidak lagi hanya seorang wartawan politik dan olahraga dengan sudut pandang memikat, tapi juga mulai menyelipkan beberapa humor di dalam tulisannya. Humor gelap, atau kita bisa menyebutnya sarkasme-kasar, itulah cara terbaik dan cerdasnya untuk menyerang berbagai topik.

Tom Wolfe, rekan sesama wartawan yang juga menjadi salah satu figur penting dalam gerakan jurnalisme modern, memberi komentar terhadap buku Hell’s Angels. “Sepanjang buku itu, dia tidak berusaha menafsirkan The Angels, dan di akhir buku dia menemukan makna di balik The Angels, ‘Exterminate all the brutes!’, katanya. Itu kombinasi yang sangat indah antara liputan yang nyata, pemikiran yang nyata dan gaya komikal.”

Momentum yang tepat juga datang ketika Hunter bersentuhan dengan kancah San Francisco yang mulai tumbuh di pertengahan ’60-an. Itu penting bagi kebutuhan imajinasi dan halusinasi yang menjadi unsur penting pada setiap karya terbaiknya di masa depan. Seperti diceritakan Sandy, Hunter pertama kali bertemu dengan Ken Kessey, tokoh penting generasi beat di sebuah acara radio yang mengaku tertarik pada Hell’s Angels. Hunter kemudian mengatur pertemuan mereka.

“Kami tahu bahwa Kessey dan The Merry Pranksters sedang diawasi agen-agen narkotika saat itu,” kata Sandy.

Lokasi yang ditentukan sebagai tempat pertemuan adalah rumah Kessey di mana film dokumenter berdurasi empat jam tentang Merry Prankster sedang diputar dan semua orang, termasuk Allen Ginsberg dan Neal Cassady yang hadir di sana ikut menenggak LSD.

“Tapi Hunter tidak,” kata Sandy.

“Jadi kami naik mobil bersama Ginsberg untuk mencari minuman keras. Kami dihentikan polisi, dan mereka bertanya kami siapa. Ginsberg hanya berkata, ‘Saya seorang penyair… saya seorang penyair… kami tidak melakukan apa-apa… kami hanya ingin mencari sekaleng Budweiser’. Saya dan Hunter menganggap itu sangat lucu dan tertawa di depan petugas itu,” lanjut Sandy.

Ketika mereka kembali ke rumah Kessey, Hunter masuk ke dalam dan keluar lagi dengan tampang sangat resah. Beberapa anggota Hell’s Angels terlihat bergantian keluar-masuk dari pintu belakang.

“Lalu dia bilang,” kata Sandy, “’Kamu tahu apa yang baru saja terjadi? Ada sebuah gangbang.”

Berikutnya Hunter menjadi terobsesi dengan gerakan kontrakultur, termasuk politik sayap kiri, sisi artistik hippie, beatnik dan legalisasi narkotika. Artikelnya, The Hasbury is the Capital of Hippies muncul di Majalah Times pada tahun 1967. Dia juga menyebar tulisannya untuk berbagai majalah seperti New York Times, Pageant, Esquire dan Harper’s. Selain di ambang penemuan jurnalisme baru, Hunter juga mendapat pencerahan dari eskploitasi obat-obatan terlarang yang dilakukan para hippie saat itu: semangat kebebasan dan rekreasi mental.

Eksperimen Hunter dengan obat-obatan membuat naluri kegilaannya memuncak. Di tahun 1968 dia menghadiri konvensi Partai Demokrat di Chicago untuk sebuah penugasan artikel yang rencananya akan diberi judul The Dead of The American Dream meski pada akhirnya tidak mampu diselesaikan. Konvensi yang diwarnai kerusuhan itu berujung trauma bagi Hunter dan berpengaruh hebat terhadap pandangan politiknya. Dia berada di tengah kekacauan massa dan melihat bagaimana polisi memukuli para demonstran secara brutal serta melepas anjing-anjing pemburu di jalanan.

“Saya hanya pernah melihat Hunter menangis dua kali dalam 19 tahun, salah satunya ketika pulang dari konvensi itu; dia menceritakan semuanya, dia melihat polisi memukuli orang-orang, dan itu memberikan efek yang sangat besar bagi dirinya,” kata Sandy.

Pada tahun 1970 Hunter terjun ke politik dengan mencalonkan diri sebagai sheriff untuk daerah Pitkin County, Aspen, Colorado. Di sana, dia tinggal bersama keluarganya di sebuah lahan pertanian – pegunungan yang diberi nama Owl Farm.

“Aku benar-benar memilih untuk tidak menang. Pada akhirnya, aku mungkin membuat program yang terlalu kasar, aku tidak akan mendapat suara,” katanya.

Untuk tatanan masyarakat konvensional Amerika, program Hunter masih sulit diterima dengan akal dan norma sehat – radikal, agresif, kontroversial, berbahaya dan dia kalah lima ratus suara dari pemenangnya, Carol Whitmer. Programnya antara lain berbunyi: hancurkan jalanan kota sehingga transportasi umum dilakukan dengan berjalan kaki dan naik sepeda, merubah nama ‘Aspen’ menjadi ‘Fat City’, mengontrol peredaran narkotika untuk kegiatan rekreasional, melarang penduduk luar kota untuk memancing di perairan-perairan Aspen, serta Sheriff dan wakilnya tidak boleh mengeluarkan senjata di depan umum. Pencalonan itu dijadikannya sebuah artikel untuk Rolling Stone dengan judul The Battle of Aspen.

Kekalahan itu sekaligus akhir dari karier politik praktisnya. Sekarang dia memilih untuk menggunakan kata-kata dan mesin tik sebagai senjata demi melawan kemapanan yang dia benci seumur hidup.

“Kalau kita tidak bisa menang di Aspen, kita tidak akan menang di manapun,” kata Hunter.

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda ke surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Salam!