Menikmati Pesona Kegelapan Milik Ian Curtis

 

Satu kisah penuh makna mendalam, dimulai ketika seorang pemuda berambut gondrong tanggung dan memiliki postur tinggi, tengah rebahan di atas kasurnya sembari menghisap rokok dalam-dalam diiringi tembang via piringan hitam. “His name was always Buddy/And he’d shrug and ask to stay/She’d sigh like Twig the Wonder Kid/And turn her face away.” Nada “Drive-In Saturday” milik David Bowie terputar mengisi kekosongan ruang sekitar. Ya, kronologi tersebut digambarkan dalam film Control, sebuah reka ulang nyata tentang sang pangeran post-punk, Ian Kevin Curtis. Singkat kata, bukan tentang sinema besutan Anton Corbijn tersebut yang akan dibahas sekarang, melainkan rekam jejak frontman grup band legendaris Joy Division yang memilukan itu.

Tepatnya hari ini, 1956 silam, Ian Curtis lahir di Lanchasire, Inggris, dan diberi suratan takdir untuk menempuh hidup yang dilematis. Namun terlepas dari segala kepedihan, tak dapat dipungkiri bahwa buah tangannya adalah yang paling avant-garde dalam ranah musik era ’80-an. Mengambil andil untuk merubah nama band yang asalnya Warsaw (diambil dari judul lagu David Bowie) menjadi Joy Division (nama salah satu kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz), ia pun lantas sukses membuat grup ini ini terkesan keren dan provokatif—mengingat Inggris adalah musuh Jerman sewaktu perang dunia kedua. Seolah melanjutkan babak baru dari generasi bunga, Ian tak luput menciptakan lagu yang sarat akan unsur nan gelap, penuh emosi, serta bising akan elegi keterasingan.

Sebagai bumbu, kisah hidup Ian yang cukup absurd pun—mengingat tipikalnya yang introvert, ekstra melankolis, dan punya kadar posesif teramat tinggi—menjadikan sosoknya digemari secara eksklusif. Terobsesi dengan sosok gladiator di masa kecilnya, Ian menikah dengan Deborah Woodruff dalam usia yang terbilang sangat muda yakni 19 tahun. Eksistensi Joy Division lantas tak selalu berjalan mulus akibat satu atau dua permasalahan yang merundung dirinya. Selain penyakit epilepsi dan efek dari obat yang membuat emosi Ian naik turun, kita pun akan kembali merekam bagaimana cinta segitiga antar dirinya, sang istri, serta Annik Honore (jurnalis asal Belgia) yang sangat complicated. Problematika pernikahan dini, penyakit yang menurunkan rasa kepercayaan diri, plus sosok orang ketiga, dicampur menjadi satu. Dan bagi Ian Curtis, tak ada jalan lain selain bunuh diri—meski sampai saat ini belum diketahui modus operandinya.

Untungnya, kepergian Ian Curtis tak membuat rekan satu bandnya berhenti berkarya. Ya, New Order adalah transformasi berasaskan move-on yang disematkan dalam pikiran Bernard Summer, Stephen Morris, dan Peter Hook.

Berbicara soal daya magis, Ian Curtis bak Lord Voldemort yang mengerikan itu. Sihirnya yang dahsyat, sahih membuat dunia seolah bertekuk lutut dibuatnya. Ambil contoh, banyak band-band post punk/new wave yang menjadikan Joy Division sebagai kiblatnya seperti U2, The Cure, Bloc Party, Interpol, dan sebagainya. Konon, scene gothic muncul dari teritori kegelapan yang dihadirkan Ian lewat lirik beserta eksperimentasi pada lagunya. Serta beberapa waktu ke belakang, malah ada game online bertitel “Will Love Tear Us Apart” yang juga ikut-ikutan terinspirasi. Banyak tribute gigs yang diadakan demi menghormati kebesaran ayah dari Natalie Curtis ini. New Order menciptakan “Here To Stay” sebagai dedikasi untuk Ian. Dan selain Control, masih ada film lain yang menceritakan Ian Curtis yaitu 24 Hours Party People. Tak luput, pada 1995, sang istri Deborah juga membuat biografi “Touching from a Distance: Ian Curtis and Joy Division” yang isinya sudah dapat ditebak lewat judul tercantum.

Seisi dunia mesti tahu, bahwa dibalik tote bag gaul bermotif sampul album Unknown Pleasures yang sering dikenakan anak-anak indies masa kini, di antara musik post-punk ‘murni’ yang konon merupakan ekspresi melankolia pada ranah intrapersonal seseorang, terdapat sosok yang tahu bagaimana cara mengekspresikan kekecewaan dalam kemasan yang lebih baik: Ian Curtis. “Hidup ini adalah warna-warni yang terlakar pada kanvas; walaupun tidak cantik, ia tetap mempunyai sejuta makna.” Perkataan dari Albert Camus tersebut, mampu menjadi kontradiksi bagi sang frontman Joy Division yang meskipun karya miliknya seolah hanya diisi oleh melulu hitam nan kelam, namun malah sukses menampilkan sesuatu yang indah serta megah.

Ian Curtis hanya mati muda. Toh, pesona kegelapannya akan terus hidup dalam banyak benak.

*Diolah dari berbagai sumber

Foto: net

Bobby Agung Prasetyo

Merujuk pada tipe indikator a la Myers-Briggs yang banyak orang bilang palsu, Bobby Agung Prasetyo memiliki jenis kepribadian INFJ. Mengimani profesi sebagai seorang jurnalis, pengajar, dan sedikit-sedikit meneliti.