Punk Telah Mati: Anarki Yang Terpatri Dalam Kartu Kredit

“Your future dream is a shopping scheme!” – Sex Pistols (Anarchy in The UK, 1976)

punk telah mati 

Makhluk ‘kiri’ mana yang tak tahu akan band ini? Ya, Sex Pistols adalah dengus nafas kesal yang terorganisir secara kasar, radikal, dan nakal. Tercipta pada pertengahan 70-an di mana musik rock tengah bergerilya dan bakal-metal mulai bermunculan, Steve Jones dkk menyematkan idealisme tertingginya lewat satuan musik rock begajulan namun kritis. Dalam jangka waktu yang cukup panjang, band ini menjadi simbol pemberontakan terhadap pemerintah dan embel-embel kapitalisme. Apa kabar Sex Pistols sekarang?

Baru-baru ini, Virgin Money, perusahaan perbankan di tanah Britania Raya, baru saja meluncurkan kartu kredit bergambarkan sampul dua album Sex Pistols; yang satu artwork khas Nevermind The Bollocks, lainnya lagi adalah Anarchy in The UK yang melegenda itu. Lantas, apa yang menjadi permasalahan? Ya, kartu kredit adalah media pemuas hasrat konsumerisme, yang jika ditarik ke benang merahnya, ini merupakan siasat kapitalis untuk mengikat keuntungan. Lantas notabenenya, tipikal punk adalah mereka yang menolak kapitalisme dan menjunjung tinggi prinsip mandiri a.k.a Do It Yourself (DIY). Mirisnya, Sex Pistols adalah band pengusung musik punk—malah pelopor dari genre tersebut.

Dengan sesegera mungkin, kita mendapat benang merah bahwasanya Virgin Money dan Virgin Records (label yang menaungi kedua album di atas) masih dalam satu kepemilikan yang sama, yakni Richard Branson. Entah mungkin ada rasa dedikasi tinggi dalam diri Sex Pistols, namun apa yang dilakukan band ini bagaikan menjilat ludah sendiri.

Sekian lama berjalan, Sex Pistols lantang memaki-maki budaya konsumerisme serta tabiat buruk pemerintah Inggris pada saat itu. Dan kini, dengan mengejutkannya, mereka berkontribusi dalam mengembangkan sesuatu yang konon dulunya intens mereka hujat. Sebelumnya, vokalis John Lydon juga pernah disorot karena menjadi bintang iklan produk mentega, dan berargumen bahwa penghasilannya secara keseluruhan dipakai untuk mendanai reuni Public Image Limited, proyek post punk garapannya. Meski telah berargumen, namun kritikan tetap mengalir.

Bagi orang-orang tertentu, atau bahkan mereka yang tulus mengambil punk sebagai gaya hidupnya, Sex Pistols adalah kiblat dalam melanjutkan pengharapan indah. Menjejali mulut para hipokrit dengan seonggok idealisme dengan gagah serta berani. Namun, Sex Pistols kini membantu tumbuh kembang kapitalisme dengan baik. Memang betul, apa kata John Lydon dalam serbuan lirik lagu Anarchy in The UK: “your future dream is a shopping scheme.” Ya, ikon punk itu, kini turut andil dalam mewujudkan mimpi tersebut. Mungkin mimpi lainnya bakal terwujud, barangkali? Semisal, punk yang akan mati?

 

Oleh: Bobby Agung Prasetyo

foto: huffingtonpost.com

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)