Richey Edwards dan Hilangnya Musik Ringan Namun Radikal

Seisi dunia saat ini mulai berubah. Fasih terdikte, segala pergerakan mulai tak bermakna; kehidupan bersosialisasi secara konkret dimatikan lewat kehadiran jejaring sosial, kesepian seseorang tak hanya terletak dalam dunia nyata melainkan juga virtual, dan yang kita kenal saat ini tentang musik hanyalah cinta, marah tak bertujuan, potong usus makan usus, reportase kejadian, bersatu dengan alam, dan problematika ‘sakitnya tuh di sini’.

Jika disempitkan kepada musik, banyak sekali revolusi yang terjadi. Keresahan pun dimulai ketika mendengarkan Manic Street Preachers, band asal Blackwood, Wales. Segelintir orang sama-sama percaya bahwa untaian nada Manic tak sekasar The Sex Pistols, Black Flag, dan lainnya. Bahkan, akan pantas-pantas saja, dengan tipikal Manic, mereka membawakan lagu tentang nikmatnya melakukan group sex, konsumsi alkohol berlebih, romantisme cinta abadi nan sakinah mawadah warohmah, serta pengalaman spiritiual bersama narkoba.

Namun bagi siapa saja yang bermata jeli dan tengah dilanda kegamangan akan suatu hal, mereka akan menemukan bahwa lagu-lagu milik Manic sangatlah radikal dan berani. Ini bukan hal yang negatif, justru suatu gebrakan pada masanya. Bayangkan, Britania Raya yang pada era itu dibuai lewat lagu-lagu cinta dan pencarian jati diri, bagaikan ditampar dengan kehadiran Manic. Gelap, berbahaya, keras, namun juga harmonis.

Era 90-an awal saat itu, didefinisikan secara jelas dalam potongan lirik lagu Blur berjudul “Girls & Boys” sebagai berikut:

“Love in the 90’s, is paranoid.”

Sudahi soal cinta, karena perjuangan musik lewat tema seperti itu masih berkembang hingga saat ini. Tentunya secara (sangat/lebih/amat) menjemukan dan cengeng—mayoritas.

Berbicara soal frontal, semua pasti tak akan (dan tak boleh) melupakan Richard James Edwards, pria lulusan Universitas Wales jurusan Sejarah Politik. Kontribusi terhadap band yang terakhir ia gawangi tersebut, bermula dari yang hanya sebatas supir dan roadie. Namun siapa sangka, kepiawaiannya membuat untaian kata-kata nan kejam membuat Nicky Wire sang basis yang saat itu mendominasi penulisan lirik lagu Manic, segera jatuh cinta padanya. Selain itu, keahlian Richey dalam mendesain juga menjadi alasan mengapa akhirnya ia dinaikkan pangkat menjadi gitaris.

Hampir semua lirik lagu digodok oleh Richey, tentunya bersama Nicky yang pada dasarnya memang lihai menciptakan susunan bait puitis. Masa-masa awal Manic memang tak luput dari kontribusi Richey, apalagi kalau membahas album The Holy Bible (1994). Bagi saya, mendengarkan album ini bagaikan pergi ke karnaval malam bersamanya, lalu di sana ia bercerita tentang apapun yang ada di isi otaknya; dengan pencahayaan yang sendu, hiruk pikuk cekikikan anak kecil, namun suasananya pekat dan misterius—terasa kontradiktif.

Sedikit menerka lewat liriknya, bahwa absurditas dan eksistensialisme ala Albert Camus adalah nafas bagi Richey Edwards dalam berkarya. Tak lupa Fyodor Dostoyevsky, dengan pergerakan realismenya, menjadi pemengaruh Richey atas kerapuhan dan pahitnya kenyataan menjadi manusia yang hidup dengan sejuta lalu lalang. Para inspirator inilah yang pada akhirnya menjadi gen dalam album tersebut, paket yang berisi tentang prostitusi, imperialisme Britania Raya, kebebasan berbicara, revolusi politik, fasis, masa kecil, dan bunuh diri. Semua yang ada pada diri Richey, tumpah di situ. Salah satu album rock radikal terbaik sepanjang masa.

Suatu paketan unik akan musik lembut namun berbahaya, ada pada Manic Street Preachers dengan Richey Edwards sebagai arsitek liriknya. Hilangnya dia, juga hilangnya kekritisan. Sebetulnya tak salah bilamana sebuah grup musik beraliran alternatif layaknya Manic, membawakan lagu bertemakan cinta. Saya juga suka, contohnya Rivers Cuomo, dengan keahliannya merangkai lagu indah bertemakan cinta (“Keep Fishing”, “Across the Sea”, Buddy Holly”), serta deretan musisi jenius lainnya. Tapi, bukankah mengangkat tema di luar cinta, efek psikedelia, dan kemarahan masa remaja, adalah hal yang unik dan segar? Apalagi saat kondisi kehidupan makin runyam, musik dengan tema politik dan sosial akan menjadi pemeran pembantu untuk membenahi situasi tersebut.

Jika memang masih hidup dan berada di suatu tempat, pria kurus penuh gores tersebut pasti memiliki penilaian sendiri terhadap musik saat ini. Mari kita persembakan tribusi buatnya: membuat lagu dengan lirik kritis seputar sosial dan politikkah? Membeli album terbaru Manic, Futurology, di toko musik terdekatkah? Atau menggubah lagu “Sakitnya Tuh di sini” lantas diunggah ke Youtube sambil mengucapkan “this is for you Richey, we love you, we’ll always waiting for your comeback”-kah?

Foto: walesonline.co.uk

Bobby Agung Prasetyo

Merujuk pada tipe indikator a la Myers-Briggs yang banyak orang bilang palsu, Bobby Agung Prasetyo memiliki jenis kepribadian INFJ. Mengimani profesi sebagai seorang jurnalis, pengajar, dan sedikit-sedikit meneliti.