Skateboard, Musik, dan Jalan Hidupmu

Bagaimana tidak, ketika berbicara soal papan luncur (skateboard), nalar kita akan terbiasa dan tak merasa heran lagi. Sejarah mencatat, olahraga ekstrim ini mulai eksis sejak 1950-an karena para surfer ingin melakukan sesuatu yang mirip dengan berselancar ketika ombak sedang datar—tepatnya di California, Amerika Serikat. Singkat kata, demam skateboard semakin berjaya pada beberapa waktu setelahnya ketika tim legendaris papan luncur asal Venice-California, Zephyr, mempertontonkan cara bermain skateboard yang sesungguhnya.

Waktu berlalu sangat cepat, dan papan luncur kini bukan hanya soal olahraga saja—melainkan jalan hidup. Mulai dari cara berpakaian, gaya rambut, kebiasaan sehari-hari, dan tak lupa musik, seolah ada standar tersendiri bagi para penggila skateboard. Tunggu sebentar, musik? Mengapa harus musik?

Ya, skateboard adalah olahraga cepat dan keras, serta membutuhkan supply musik yang pas agar menemukan titik keintiman. Tentu, disini kita menemukan benang merahnya dengan beberapa genre musik yang cocok dimainkan ketika papan luncur mulai melibas arena. Butuh yang cepat dan berderu kencang? Bisingkan telinga anda dengan keugalan rock macam Zeke, Suicidal Tendencies, atau Black Flag. Ingin penuh beat agar feel dalam melakukan trik-trik mautnya lebih berirama? Wu-Tang Clan, Beastie Boys, atau Young MC misalnya, mampu memenuhi hasrat anda. Selebihnya, musik akan mencocokkan dengan gaya bermain yang sedang ingin dilakukan. Atau sebaliknya.

Hal ini disadari oleh beberapa skateboarder papan atas akan pentingnya musik bagi kegiatan mereka. Pernah menonton Lords of Dogtown? Ya, film yang diangkat dari kisah nyata ini, menyiratkan jelas akan Jay Adams yang menggilai musik hardcore macam Black Flag. Atau jika dirasa kurang, mari kita lihat inovasi salah tiga pemain skateboard yang merambah ke belantika musik: Tony Alva (The Skoundrelz, G.F.P.), Steve Caballero (The Faction, Odd Man Out, Shovelhead, Soda), dan Duane Peters yang legendaris itu. Di Indonesia, kita mengenal The Slave sebagai kuartet stoner rock asal Bandung yang kesemua personilnya adalah pemain skateboard.

Kisah serupa pun terjadi sebaliknya. Para musisi papan atas juga meyakini bahwa skateboard adalah hal penting bagi mereka. Ian Mackaye, personil Minor Threat & Fugazi, pernah berujar bahwa “skateboarding bukanlah hobi, dan bukan juga olahraga. Skateboarding adalah jalan untuk mendefinisikan dunia di sekitarmu”. Dan tahukah anda, bassist Pearl Jam yakni Jeff Ament, secara tulus hati, membangun skatepark di tanah kelahirannya (Big Sandy, Montana) demi mengembangkan potensi muda-mudi di sana? Masih banyak lagi nama-nama musisi yang juga menggilai papan luncur seperti James Hetfield & Kirk Hammet (Metallica), Tom Delonge (Blink 182, AVA), Toby Morse (H2O), serta deretan lainnya.

Obrolan panjang seputar musik dan skateboard, seolah berujung pada bagaimana kita menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Majalah Jenkem (jenkemmag.com) misalnya, suka membuat artikel tentang musik dan skateboard: lagu apa yang harus didengarkan oleh seorang skateboard; hal-hal yang hanya dimengerti oleh seorang skateboarder; sampai ke bagaimana cara agar seorang skateboarder terlihat lebih cool. Jika saya pribadi sepakat untuk memilih Zeke, maka apa trek pilihan Anda sebagai backsound di kala meluncurkan papan?

foto: greenlabel.com

*Diolah dari berbagai sumber, dan didekasikan untuk memperingati “Go Skateboarding Day” yang jatuh setiap tanggal 21 Juni. No work, no school, just skate. 😀  

Bobby Agung Prasetyo

Merujuk pada tipe indikator a la Myers-Briggs yang banyak orang bilang palsu, Bobby Agung Prasetyo memiliki jenis kepribadian INFJ. Mengimani profesi sebagai seorang jurnalis, pengajar, dan sedikit-sedikit meneliti.