UTBBYS Bicara Animo Massa dan Album Kedua

Hari itu saya sedang merebahkan badan di kamar yang tak kecil namun tak cukup besar pula. Sebuah upaya yang dilakukan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk Kota Kembang dan juga kegiatan akademis. Ponsel pribadi tiba-tiba berdering. Sebuah pesan dari salah satu awak redaksi Surnalisme, seseorang yang tak perlu disebutkan namanya dan juga tidak pernah berbicara secara empat mata. “Kalau kamu diajak nulis buat Surnal, mau nggak?”. Saya selalu ingin jadi penulis musik, namun patut disadari kemampuan saya masih kacangan. Tapi apa salahnya keluar zona nyaman untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran? Maka saat itu saya langsung sanggupi.

Dia memberi daftar band yang tampil di sebuah acara gagasan salah satu produsen rokok di kawasan Arcamanik, 29 Oktober lalu, dan saya memilih band instrumental post-rock, yaitu Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS). Grup yang pertama kali dibentuk pada tahun 2007, dan sempat mengalami beberapa kali perombakkan personil. Hingga saat ini awak mereka diisi oleh Yadi Musholih alias Komeng, R. Faizal Rezza atau Ezza, Asep Dindin Ranyay, Ferdian ‘Didi’ Yuren, dan Harry ‘Koi’ Pangabdian Maulana Yusuf.

Jujur, saya menggemari musik mereka, terlebih album pertamanya, Painting Of Life. Namun dengan posisi saya yang sekarang ditugaskan untuk meliput mereka. Saya bukan lagi seorang fanboy. Sekarang saya berambisi menjadi peluru, bukan untuk membunuh mereka, bukan pula untuk melukai mereka, namun memberi tanda bahwa Quintessential Turmoil, album kedua mereka tidaklah sesempurna yang pertama. Terkesan tergesa-gesa.

Tepat di hari Rabu malam, saya mendapat kontak manajer UTBBYS, yaitu Fauzi Ahmad Bachtiar, yang kerap disapa Mang Udjie melalui aplikasi WhatsApp. Lantas, saya langsung menghubungi dirinya, serta-merta melakukan hal ini dan itu yang biasa dilakukan jika memperkenalkan diri, dan akhirnya sampai ke tujuan untuk meminta izin melakukan perbincangan dengan kawan-kawan UTBBYS. Mang Udjie akhirnya meng-iya-kan, dan langung memberi sebuah tempat sekaligus waktu untuk melakukan wawancara tersebut. “Dua puluh menit setelah UTBBYS pentas, dan tinggal datang saja  ke belakang panggung”, tulisnya.

Sudah tak sabar rasanya melakukan wawancara dan pertama kali diberi tugas menjadi media. Tas yang berisi alat ‘tempur’ sudah disiapkan dari kemarin, saya merasa girang dan takut dalam waktu yang sama. Maklum saja, ini pengalaman pertama.

Akhirnya saya berangkat ke sebuah tempat yang tak pernah dilalui sebelumnya, jadi disepanjang perjalanan rasanya sedikit cemas, takut salah belok, lalu menyasar. Itu tidak lucu.

Hingga tiba saattnya untuk mengolah rasa melalui penampilan dari band yang menjadi alasan untuk datang ke acara tersebut, Mereka yakni Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS). Lampu panggung gelap, hanya ada tulisan “UTBBYS” di layar tepat belakang Harry “Koi” sang drummer ditempatkan. Lalu muncul asap buatan keluar dari panggung dan suara harmoni dari middle guitar Ezza pun terdengar merdu. UTBBYS mengawalinya dengan lagu “Indonesia Pusaka” yang dibawakan secara instrumental pastinya. Seakan mengelus-elus jiwa nasionalisme dari para penonton. Tentu pula sebagai bentuk peringatan momentum Sumpah Pemuda yang jatuh sehari sebelumnya, 28 Oktober.

Lagu demi lagu selalu mereka bawakan dengan total. Saya sudah tak mengerti lagi mengapa mereka selalu berhasil tampil dengan begitu maksimal. Komeng, Ezza, dan Ranyay selalu berhasil memadukan karakter dari peran gitar mereka masing-masing. Noisy sounds, experimental dan harmony sounds yang mereka ciptakan berhasil disatukan dengan gebukan drum enerjik Koi dan gema bas dari Didi. Menghanyutkan!

Entah mengapa bisa semagis ini, saya yakin mereka melibatkan emosi mereka mengalir melalui enerji untuk memainkan instrumen musiknya masing-masing. Ditambah dari cahaya panggung hasil lighting designer mereka yang mengiringi aksi panggung UTBBYS, yaitu Zamzam, berhasil membuat penampilan dari mereka semakin “wah” untuk disaksikan. Audio yang terdengar dari musik UTBBYS ditambah visual dari lighting designer-nya, Zamzam, saya ibaratkan bagai para perokok yang sedang menikmati kopi, ketika nikotin bercampur dengan kafein, ada rasa klimaks tersendiri.

Lagu andalan-nya “Threshold” pun akhirnya dimainkan, sudah menjadi ciri khas dari mereka dan tak asing lagi bagi para penggemarnya, bahwa lagu yang satu ini selalu dijadikan lagu penutup atau bagian ter-klimaks dari penampilan mereka. Aku lihat diakhir lagu yang satu ini Ezza, Komeng, Didi, dan Ranyay memainkan instrumen mereka masing-masing sampai berlutut seraya mengutak-atik sekian banyaknya pedal gitar dari masing-masing mereka untuk menciptakan sebuah noise yang menggetarkan panggung dan nyaring ditelinga. Koi pun tak kalah tampil total seperti yang lainnya, ia sampai membantingkan kedua stik drumnya dan dengan tangan kosong ia memukuli drum tersebut. Eargasm!

Tepat setelah UTBBYS turun dari panggung, saya dan rekan foto bernama Meilda langsung bergegas ke sebelah kanan panggung dan berhenti tepat di depan gerbang barikade menuju ke belakang panggung, kami berdua dihadang oleh petugas keamanan yang menjaga gerbang tersebut.

Tanpa adanya gelang biru yang kami gunakan, adu mulut antara saya dan petugas keamanan tersebut terjadi. Merasa kalah adu argumen, petugas tersebut berdalih bahwa sudah menjadi peraturan dari pihak EO kalau tidak ada gelang biru tidak bisa melewati barikade. Saya tersenyum kesal sambil mengabari Mang Udjie tentang kendala yang sedang dialami.

EO acara tersebut bisa dibilang cukup berhasil, selain menghadirkan para pengisi acara yang luar biasa menarik banyak massa untuk datang, mereka berhasil memilih lokasi venue yang membuat para penonton serasa berada ditengah sawah dengan kubangan lumpur di sana-sini dan berhasil menyulitkan beberapa rekan media untuk mendapatkan hak-hak semestinya. Gelang biru brengsek! Kau seperti teka-teki tanpa petunjuk yang jelas. Memusingkan.

Mang Udjie pun sepertinya sudah membaca pesan yang saya kirimkan padanya melalui WhatsApp, dari balik gerbang barikade ia bertanya. “Danit?” Panggilnya.

“Iya mang,” saya mengangguk.

Dia langsung menjelaskan kepada petugas keamanan untuk membiarkan kami berdua masuk. Namun petugas itu tetap bersikeras “Tanpa gelang biru, dilarang masuk!” Sialan.

Saat itu saya melihat Mang Udjie mendekatkan mulutnya ke telinga petugas tersebut, entah mantra apa yang ia bisikan padanya, akhirnya sang petugas memanggil atasannya, dan kami pun akhirnya diperbolehkan masuk. Sakti.

“Terimakasih mang.”

“Iya santai saja”, jawabnya ramah.

DSC_9212

Itu pertama kalinya saya pergi ke belakang panggung, tenda-tenda putih yang diisi oleh para bintang tamu beserta kru-nya membuat sedikit gugup. Akhirnya sampailah kami di tenda yang dijadikan tempat UTBBYS. Saya tarik nafas cukup panjang, dan wawancara dimulai, bukan wawancara sih saat itu ku rasa, tepatnya seperti mendengar kisah mereka bagaimana bisa sampai manggung di OzAsia Festival September lalu di Adelaide.

Menurut penjelasan Komeng, berawal dari sebuah gala dinner bersama banyak para musisi yang lain seperti Rock N Roll Mafia, Polyester Embassy dan lainnya. Kala itu Art Director dari OzAsia Festival ikut hadir. Jika diibaratkan, ketika itu UTBBYS diminta untuk mempresentasikan band-nya dan juga karyanya. Jelang beberapa lama, mereka mendapatkan kembali panggilan untuk dinner, namun kali ini dihadiri oleh menteri perdagangan Australia juga. Setelah itu, entah bagaimana hasil pemilihannya, merekalah yang teripilih pergi untuk main di OzAsia Festival. UTBBYS mendapatkkan segmen yang cocok dari sub-program yang ada di festival itu. “Air Bandung” menjadi tempat mereka menunjukkan kebolehanya pada kancah internasional. Sub-program yang satu ini menceritakan tentang persamaan Kota Bandung dengan Kota Adelaide, mulai dari cuaca, psikologis masyarakatnya, dan keseniannya.

Program dari festival yang satu ini ditempatkan di Nexus Arts, salah satu tempat sebuah komunitas kesenian yang cukup besar di Adelaide. Disana juga ada lintas disiplin beberapa sub-culture dari mulai visual art, musik, fotografi, film, dan contemporary art. Mereka berbagi panggung dengan empat band kala itu, “Di stage itu kita manggung bareng sama Trah Project, band dari Bandung juga, Yeahyeahabsolutelynoway! dan Chimichurri Grill, band dari Australia,” ucap Komeng.

Koi juga bercerita bahwa disana mereka cukup harus berjuang lebih untuk survive di negara orang. Entah itu harus bersikap seperti apa ketika dihadang segerombolan supporter sepak bola yang mabuk minuman beralkohol, ditambah euforia dari kemenangan tim kebanggaan-nya. Lalu mereka dipajak oleh seorang kakek-kakek, yang memaksa mereka harus berdandan ala gangster Brooklyn, supaya hal itu tak terjadi lagi. Ataupun melakukan tradisi kekeluargaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang Sunda khususnya, ngeliwet. Maklum, biaya disana memang mahal, sementara isi dompet pas-pasan.

Mereka juga bercerita mengenai apresiasi yang mereka dapatkan dari para penonton kala itu. Ya “apresiasi”, adalah satu hal langka yang akan ditemukan di negeri kita. Ketika orang yang bukan ‘siapa-siapa’ membuat sebuah karya, atau apapun itu. Mereka hanya akan dapat cibiran yang terkesan meremehkan, padahal yang mencibir lebih remeh, karena tak ada yang mereka lakukan selain.. ya, mencibir tanpa mengkritik, sesuatu yang angkuh namun bodoh.

“Dari anak kecil, anak muda, sampai anak punk, dan apapun itu bergabung disitu, sampai ada kakek-kakek dan nenek-nenek yang berkata pada kami, “Kalian keren, saya traktir kalian minum!”, ada juga tuh nenek-nenek yang sudah renta mendatangi kami lalu berkata, “Kalian tadi keren banget” sambil nenek itu langsung pamitan “Aku pulang duluan ya!” wih, kayak gak nyangka aja gitu si nenek sempat-sempatnya mengapresiasi penampilan kami” tutur Koi sambil tersenyum..

“Ya terus sisanya mabuk,” celetuk Komeng, gelak tawa kami pun pecah.

Wajar mereka bereaksi tak menyangka, mereka tinggal di negeri yang krisis akan apresiasi. Jika sampai dibanjiri apresiasi seperti itu, siapa yang bisa menyangka, Toh mereka pun mengaku tak berekspektasi seperti itu, namun nyatanya melebihi yang dibayangkan.

Beberapa hari berlalu, masih ada dua hal yang belum sempat aku pertanyakan pada mereka, tentang perkembangan ranah post-rock di Indonesia, dan juga masalah album kedua mereka yang bisa saya bilang, anti-klimaks. Kamis (2/11), awalnya aku kirim pesan pada Komeng, namun tak kunjung dibalas. Akhirnya kuhubungi Didi melalui WhatsApp, sang basis yang baru bergabung 4 tahun setelah terbentuknya UTBBYS, yaitu pada tahun 2011.

Saya minta untuk wawancara ulang? Bukan, tepatnya lebih santai, sambil meminum kpoi. Didi menyetujui, dan kita janjian sepulang ia bekerja di sebuah kafe di Jl. Ir. H. Djuanda. Bertemulah kami disana, ketika sudah selesai memesan sesuatu untuk menemani perbincangan kami, akhirnya obrolan itu dimulai.

“Awalnya tuh saya berdua sama temen kuliah di Unpad bikin band experimental,” ucap Didi

“Oh, iya?” Tanya saya penasaran.

“iya, namanya Raindrops and The Sunshower, kita awal latihan di People Studio, Cileunyi.” Lanjutnya.

Disitulah menjadi cikal-bakal Didi bergabung dengan UTBBYS, setelah Komeng melihat Didi bersama bandnya latihan. Lalu Didi juga bercerita ketika dia direkrut menjadi additional player untuk The Milo.

Post-rock di Indonesia itu ibarat bunga langka, mereka ada, namun untuk menumbuhkan mereka tidak bisa hanya menanam benihnya disembarang tempat, mereka harus diberikan tanah dan perawatan khusus, tidak bisa sembarang namun berharap tumbuh. Harus ada jerih payah pengorbanan terlebih dahulu. Kembali ke era 2000-an, kita akan menemukan nama-nama band post-rock seperti March La Void, Folkaholic, A Slow In Dance, Echolight, Adopta, My Violaine Morning dan UTBBYS sendiri.

“Namun sayang, sekitar tahun 2011 hingga 2016 band-band post rock tadi mulai menghilang,” ucap Didi seraya menyeruput minuman yang dipesannya.

Berbicara mengenai post-rock di Jakarta dan Bandung pasca hilangnya band-band tersebut, khususnya di Jakarta, ranah post-rock disana kehilangan motor penggeraknya, sehingga bisa dibilang post-rock disana benar-benar mati. Seperti yang dikatakan Rivo musikus post rock Jakarta, saat saya mengunjunginya pertengahan Oktober lalu, “Bisa dibilang untuk di Jakarta kita benar-benar harus mulai dari awal lagi, saya bareng Morgensoll harus mulai ngebangun animo massanya dari nol” ucapnya kala itu.

Kala itu UTBBYS mengusahakan tidak ikut lenyap layaknya band-band post-rock yang lainnya, mereka terus berusaha manggung, walaupun di acara-acara kecil komunitas, ataupun kampus. Bahkan untuk yang penonton mereka pun hanya itu-itu saja orangnya.

Disaat kita berbicara mengenai massa pada sebuah ranah musik, kita bisa bilang jika kala itu massa musik untuk post-rock terhitung minoritas alias tak banyak. Bahkan acara rokok atau ‘event corporate’ seperti yang Didi sebut, tak pernah melirik band-band post-rock untuk tampil pada acaranya. Apalagi kalau selain kurangnya massa dan akan menyebabkan penjualan tiket tidak mencapai target yang diinginkan. “Duit melulu!” celetuknya,

Namun entah bagaimana awalnya event corporate itu melirik UTBBYS, dan mereka jadi sering sekali mendapatkan jatah panggung dengan band-band lintas genre yang lainnya, itu membuat terbuka kembalinya peluang berkembang ranah musik post-rock di Indonesia.Acara lintas genre memang bisa menjadi salah satu alternatif pengenalan musik post-rock pada massa yang belum tahu-menahu masalah bagaimana musik post-rock ini.

“Misalnya ada orang yang datang mau nonton band A, nah disitu kita kebagian manggung sebelum band tersebut, mau tidak mau orang itu juga nonton perfomnya kita kan? Nah, disitulah menjadi ajang pengenalan musik post-rock pada massa yang belum tahu mengenai musik kita. Walaupun sering kali mereka suka telat sadar kalau lagu yang kami bawakan sudah selesai, alhasil tepuk tangan dari mereka terkadang telat beberapa detik” kata Didi sambil tertawa.

Tiba-tiba didi mengambil ponsel pribadinya dan terlihat sedang menerima sebuah panggilan masuk, terdengar samar-samar ia menjelaskan dimana titik lokasi tempat kami berdua berada. Lalu ditutuplah panggilan itu, dan kembali duduk.

“Komeng mau kesini,” ujarnya ke arah saya.

“Seriusan?” saya terkejut. lantaran rencana awal hanya aka nada kami berdua saja, nyatanya pentolan lainnya akan datang.

Setibanya komeng datang, dirinya langsung tersenyum namun menggerutu masalah cuaca yang memang belakangan ini kurang bersahabat rasanya. Lalu ia menyalakan rokoknya, dan ikut bergabung mengenai obrolan kami tentang perkembangan musik post-rock di Indonesia.

Komeng menjelaskan kalau ia lebih memilih perkembangan post-rock ini melalui lintas kesenian, terutama dengan film. Ya, film dan musik memiliki keeratannya tersendiri. Hambar rasanya jika ada sebuah film yang sama sekali tidak diisi oleh musik. Akan ada beberapa bagian klimaks film yang kurang jika tidak diiringi oleh musik, “Menurut saya sih post-rock itu sifatnya fleksibel”. Post-rock memang fleksibel, bisa diaplikasikan dibeberapa lintas kesenian,” kata ayah satu anak ini.

Kembali kepada tahun 2005 dan 2006, dimana kita temui film “Janji Joni” dan “Realita, Cinta dan Rock N’ Roll”. Ketika film itu muncul dan menggunakan soundtrack filmnya dengan lagu-lagu rock, maka musik kita yang saat itu melambung adalah musik rock.

“The Upstairs juga kan mulai naik setelah menjadi pengisi soundtrack di film. Pada saat itu semua terasa menjadi rock & roll, dari mulai cara berpakaian, gaya hidup, dan musiknya tentu,” tambah Komeng.

Film juga yang mengenalkan saya kepada salah satu band post-rock asal Texas yang sekarang sudah sering dijadikan kiblat bagi para penggiat musik post-rock, yaitu Explosions In The Sky (EITS). Pada 2013, saat itu EITS menjadi pengisi soundtrack film “Lone Survivor”, dan di 2014, mereka juga diberi kesempatan yang sama untuk mengisi soundtrack film “Manglehorn”.

Saya sendiri  berpendapat, sebetulnya sulit untuk band instrumental post-rock saat ini untuk memiliki massa yang tak sedikit, butuh satu formula yang tidak dimilikinya, yaitu ‘lirik’. Tidak semudah Payung Teduh, dengan alunan musiknya yang mendayu, ditambah lirik yang romantis nan puitis. Anak dibangku SMA bukanlah segmen untuk mereka, tampil di acara pensi SMA sudah kecil sekali kemungkinannya bagi band instrumental post-rock.

Lalu disitu karena ada sang pendiri, saya menanyakan perihal album kedua mereka, yaitu Quintessential Turmoil yang menurut pendengaran hasilnya kurang memuaskan. Memang ada perubahan dari segi musik mereka dibandingkan dengan album yang pertama, eksplor musik mereka lebih liar, namun perubahan ini bukannya memberi warna baru pada musik mereka, melainkan malah menghilangkan jati diri mereka. Rasanya ada sesuatu yang dipaksakan, lantaran mereka seperti orang yang marah lalu hilang kendali akan dirinya. Sehingga membuat tak terbangunnya sebuah keterikatan emosi atau psikologi yang kompleks antara musik mereka dan pendengarnya.

Berbeda dengan album pertama mereka yaitu, Painting Of Life. Mereka sabar dalam menata materi musiknya sehingga hampir pada setiap akhir dari lagu, mereka seakan selalu berhasil menerbangkan pukulan kepada setiap pendengarnya.

Namun, untuk beberapa lagu di album kedua jika dibawakan secara langsung memang terasa cukup memukau, lantaran aksi panggung mereka yang membius, juga suara yang dikeluarkan melalui soundsystem cukup gahar. Komeng kemudian menanggapi,“Ya, saya juga sama, lebih memilih album yang pertama. Jujur saja, untuk album yang kedua ini secara materi kita belum matang”.

“Bisa dijelaskan kenapa belum matang?” potong saya.

Secara panjang lebar Komeng bercerita, “Jika melihat kembali ke pembuatan album pertama, disitu semua benar-benar dilakukan secara mandiri. Saat album kedua, kita ditawarkan rekaman oleh Monsterstress Records, itu adalah sebuah angan-angan kita untuk bisa rekaman melalui label. Namun kita diberi deadline untuk selesai rekaman, dan itu ternyata menjadi beban untuk pembuatan materi kita.”

Lanjutnya, ”Selain beberapa kendala seperti kehilangan personil yang entah kemana, itu cukup membuat psikis atau mental kita nge-down. Beberapa personil juga sudah berkeluarga, mereka ada tanggungan lain, mungkin saat penggarapan album yang kedua ini hanya bisa kumpul Sabtu dan Minggu, tidak sesering saat penggarapan album yang pertama. Itu semua benar-benar membuat materi kita tidak matang, saya sendiri tidak puas dengan yang kedua. Makanya untuk album yang ketiga ini kita minta pihal label untuk memberi kelonggaran waktu demi kematangan materi kita”.

Berarti benar apa yang saya rasakan, ada yang kurang dengan album yang kedua ini. Sebuah kejanggalan yang benar-benar terasa. Seperti yang komeng katakan, mereka punya angan-angan. Namun, ketika hal itu tersebut sudah tercapai, mereka belum siap dengan konsekuensi dari mendapatkan mimpinya.

Layaknya Kurt Cobain, yang dikatakannya membenci ketenarannya, lalu melakukan bunuh diri. Saya meyakini, awal terbentuknya Nirvana, Kurt mengharapkan sebuah ketenaran. Namun, ketika ketenaran itu sudah dia raih, nyatanya ‘ketenaran’ yang ia maksud, tak sesuai dengan bayanganya.

Beberapa hari sebelumnya saya sempat melontarkan pertanyaan perihal ‘Apa itu post-rock bagi pribadi masing-masing? Disamping post-rock adalah sebuah genre musik’ pada para personil UTBBYS, dan mereka menjawabnya.

Ezza memiliki jawaban, jika post-rock itu sebuah pembuktian, bahwa musik tidak harus melulu mewakili vokal atau kata-kata untuk bisa dinikmati. Toh vokal bukan entitas utama dalam musik. Adapun post-rock yang memasukkan unsur vokal itu hanya tambahan atau pelengkap sebuah komposisi lagu. “Kalau dulu kan seorang komposer di era baroque-classic-neo classic-romantic dan seterusnya, jarang atau sangat sedikit memasukkan unsur vokal, justru murni musikal. Jadi pada dasarnya musik itu hanya komposisi ritme dan nada.” Cetus lelaki berambut pajang sebahu ini.

Penjelasan yang singkat dan padat disampaikan oleh Komeng, “Healer dari sebuah keresahan-keresahan yang ditumpahkan dalam sebuah karya.”

Jika jawaban Ranyay, post-rock adalah sebuah bahasa yang disampaikan oleh musik. “Disana saya menemukan kata-kata, kalimat, sampai paragraf, lebih dari sebuah ungkapan perasaan.” tukasnya. Sedangkan Didi menjawab kalau post-rock adalah sarana mengolah rasa, jawaban ia sama sekali dengan apa itu post-rock menurut saya.

Dan yang terakhir jawaban Koi, menurut saya ini yang paling menakjubkan dan membuat sedikit mengulang-ulang kalimat ini dalam kepala, “Post-rock bagi saya adalah sebuah bahasa, bisa menghidupkan ataupun sebaliknya,” ungkapnya tegas.

Jawaban mereka sungguh luar biasa bermakna dalam dan sangat personal, apalagi jawaban Didi, dia memiliki pandangan yang sama mengenai arti post-rock bagi dirinya dengan saya. Ya, post-rock memang bukan hanya sekedar genre musik belaka, melainkan lebih dari itu. Post-rock bisa dibilang rasa atau cerita yang disampaikan melalui suara-suara yang menjadi sebuah bahasa, namun bukan terdiri dari himpunan alfabeta.

Foto Oleh: Meilda Amdza

Daniet Dhaula G.

Between Asleep And Awake.