Dentuman Irama Anjing dan Tikus di Hari Kudus

Teks Oleh: Ed’s

“Bergembira bersama seirama semua…”, mungkin kata yang patut saya ucapkan untuk hari yang kudus seperti ini. Mengutip dari yang Anjing Dub nyanyikan pada pertemuan yang jatuh dengan Hari Natal. Sebelumnya, saya harus melintasi  kemacetan di tengah kota hingga pinggiran. Apalagi kawasan Dago Giri bukan sesuatu yang diidamkan untuk masa liburan ini memanjakan diri demi berleha-leha. Namun, menghadiri proses live recording dua binatang yang berirama, Tikus Atap bersama Anjing Dub menjadi pilihan vakansi menyenangkan di hari kudus itu. Berkumpul bersama kawan-kawan dengan intim dan hangat di sebuah tempat bernama Cilanguk Art District sembari bercengkrama  bersama sehangat distilasi buah nanas. Demikian juga bir pemberian kawan yang diteguk tepat ketika malam akan menyongsong.

Saling dukung satu sama lain adalah hal yang membuat acara tersebut dapat terealisasi. Bantuan dari kawan-kawan yang ikut serta maupun kawan yang datang dalam pelaksanaan tersebut membuat acara ini semakin intim dan tidak lupa warga Cilanguk yang menyambut kami dengan senang hati. Acara ini berangkat dari kolektif bersama dari Dubhouse records, Partiklab, Bulqini dan Cilanguk Art District. Berkat dukungan besar juga dari apresiasi dan kepedulian terhadap seni yang diberikan Ali Robin, seorang seniman patung yang mempersilahkan tempatnya dipakai untuk menjalankan misi dari gerakan kolektif tersebut.

Cilanguk berada di daerah Dago yang teramat ujung dan harus dilalui akses jalan super macet karena suatu tempat wisata yang memakan jalan untuk lahan parkir. Menekan gigi satu laju roda besi pada jalanan menanjak 75 derajat dengan kemacetan sudah yang tak wajar dan sengatan aroma kopling yang mengingatkan pada jalur Nagreg. Sesampainya di Cilanguk, nampaknya tempat ini tidak sia-sia untuk disambangi walau dengan perjalanan yang panjang lalu dengan susah payah menembus kemacetan kota. Tak sempat melihat berapa derajat suhu disana, tapi memang teramat dingin. Pada akhirnya disana saya dan kawan-kawan menyalakan api unggun di sebuah tong. Mengumpulkan batang-batang bambu yang tidak terpakai serta sampah daun kering yang ada. Tak lama dari itu datang beberapa cawan bubur yang tiba-tiba diantarkan oleh warga yang turut menghangatkan suasana.

Dua unit dendang binatang menyambut dengan hangat kedatangan kawan-kawan serta antimo masyarakat setempat yang tak diduga-duga. Bocah kecil berlari-lari di lapangan lalu berhenti di tong api unggun. Gelaran acara dibuka tatkala bulan menyabitkan senyum dan bintang-bintang bertaburan menemani sesi rekam Tikus Atap dan Anjing Dub. Setelah sepakat acara dimulai Tikus Atap mulai merambah alat-alatnya. Zack pada bagian kendali bas dan kontroler lalu Ruru pada vokal. Momen yang tak disangka yakni anak-anak kecil yang tadinya berkumpul disekeliling api unggun berlarian menyambut dentuman disko dari Tikus Atap. Mereka melompat kegirangan mengikuti dentuman nada dari Tikus Atap. Ada sekitar 5 anak sengaja menjebakan diri di lantai dansa. Hal ini membuat kaget saya pula crowd yang hadir hingga menimbulkan tawa lepas. Selama ini, jarang bisa menemukan disko melebur bersama anak-anak umuran tingkat awal sekolah dasar. Ini kebahagiaan yang menakjubkan. Jelas, karena ini perkampungan beda dengan perkotaan. Pokoknya hari ini kami berpiknik! Saya nobatkan pada hari yang kudus di Cilanguk ini adalah sebuah Short Vacanseas. Kado natal terbaik yang pernah saya alami.

DSCF7240

Satu nomor dinyanyikan tentu dengan disko khas Tikus Atap, “Polisi tidur tetaplah menyebalkan….” menyembur dari larik mereka yang pastinya kami nyanyikan bersama. Saya mengangguk setuju, polisi tidur itu menyebalkan, KEBLUK (malas-RED)!

Dinginnya udara disana membuat kenikmatan tegukan distilasi nanas dan bir jadi pilihan untuk menghangatkan suasana. Cocok sekali untuk bertahan dari udara yang semakin dingin. Tak disangka anak-anak kecil di kubangan dansa meraih mikrofon lantas bernyanyi untaian berhaluan dangdut. Lucu juga melihat mereka sebegitu antusiasnya kala itu. Dendang terakhir dikumandangkan, cover lagu dari legenda Gombloh, plesetan yang bajingan “Kusuka disko, kau suka keju….” mengakhiri sesi pertama yang diisi Tikus Atap.

Sehabis Tikus berdisko ada seekor Anjing yang melanjutkan nuansa bebunyian dub/double bass. Zack memutar nomor “Christmas” dari Mariah Carey kemudian Terra ikut bernyanyi seolah mendampingi Mariah, selagi pula seorang bernama Daniel dengan topi bermotif dinosaurus menyiapkan controllernya. Saatnya Anjing Dub bergiliran memegang kendali dalam sesi kedua.

Bernyanyi dan bergembira pada udara yang dingin, ditemani kawan-kawan sembari menikmati sambaran hangat onggokan api unggun. Saya kembali memperhatikan dan mencoba menikmati lagi sesi tersebut secara lebih dekat sembari menuliskan sedikit catatan agar kata-kata dari pikiran yang mulai BM (Banyak Mau) tidak lupa di esok harinya. Saat dopamin telah mencapai puncaknya, Anjing Dub sedang menyanyikan tembang “Naik kuda”. Sebuah lagu yang sangat saya nantikan dari mereka. Celoteh sosial lewat himbauan dari pepatah janganlah naik kuda terlalu kebelakang. Nomor ini aroma dub-nya akan membawa kalian tenggelam dan tanpa ada birokrasi lantai dansa selalu terbuka bebas untuk siapapun. Malam semakin dingin dan nyala api unggun tetap menyelamatkan kami dari udara yang semakin menusuk tulang. Lagu demi lagu yang dinyanyikan dari yang lama hingga yang baru. Bahkan, mereka sempat membawakan cover version “Anti Gandja” yang menyentil dari kelompok legendaris The Brims.

Sehabis Anjing Dub menyelesaikan sesi kedua, musik demi musik tetap dilantunkan. Tak lama berselang dibuka kesempatan untuk sebuah jamming session. Tikus Atap bersama Anjing Dub bahu membahu mengambil kontrol. Sehabis mereka berkolaborasi muncul Dave Syauta a.k.a Kusni Kasdut, penyanyi The Paps yang ikut mengisi sesi nge-jam dengan free style vokal yang mengawang.

Penutupan hari yang indah pada hari yang kudus. Libur panjang bertemu kawan lalu berkumpul dan bergembira dalam irama yang sama, berbagi macam kudapan dan minuman yang ada (apapun jenisnya) dan mufakat untuk bersenang-senang adalah pilihan bijak. Menunggu hasil dari live record ini adalah keharusan. Tabik!.

Foto: Dokumentasi Panitia

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda ke surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Salam!