Duduk Manis “Dialog Bunyi”: Pesan yang Tak Terkomunikasikan

Pada Sabtu (23/12) itu saya duduk seraya menenggak bir sambil menunggu acara dimulai Bertajuk “Duduk Manis” yang berlangsung di Spasial, Kota Bandung itu dimulai. Sekitar satu jam saya menunggu, tepat pukul 20:00 WIB acara pun akhirnya dimulai. Pelakon utama dalam acara tersebut, Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) naik ke atas panggung.

Saat sound mulai menyalak,  semua mengangguk-anggukkan kepala mengikuti ritme alunan musik UTBBYS, yang saat itu membawakan tiga belas lagu yang di balut dalam tiga segmen penampilan, dengan durasi mencapai dua jam lamanya.

Sebuah acara yang terkesan intim bagi UTBBYS dan para Bright People (sebutan penggemar UTBBYS-RED). Tak ada barikade pembatas antara panggung dan moshpit, jumlah penonton yang ingin menyaksikan acara tersebut dibatasi jumlahnya. Penyelenggara hanya menyediakan 200 lembar tiket saja.

“Karena memang kapasitas paling nyaman untuk Spasial itu 200 orang, maka kita tetap mengutamakan kenyamanan pengunjung”, ujar Triyadi Firmansyah selaku pengurus Spasial, kepada saya.

IMG_7304

Ada yang menarik ketika berbicara mengenai acara “Duduk Manis” volume terakhir yang bertemakan “Dialog Bunyi” ini. Saya sangat menantikan segmen video art yang dibuat oleh Indra Kristiana atau kerap disapa Indraboxy, alias Abok.Pada segmen tersebut kolaborasi dua seni kontemporer dihantarkan bagi para penton.

“Nanti si UTBBYS main secara spontan mengiringi video art dari Indraboxy”, ujar Mang Udjie kepada saya sebelum dimulainya acara.

Sebelum segmen kolaborasi antara musik dan video art di mulai, UTBBYS keluar dari panggung, penonton masih terduduk menanti mereka, hingga akhirnya mereka kembali dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Didi lalu mengambil mic dan menjelaskan tentang apa yang akan mereka lakukan.

Seketika Didi menjauhkan dirinya dari mic dan diputarlah sebuah  video art ink motion yang dibuat oleh Indraboxy yang terbuat dari krayon, cat akrilik, cat poster, yang dituangkan ke dalam piring atau akuarium hingga menjadi tetesan-tetesan tinta yang menetes.

Indraboxy menuturkan bahwa ide pembuatan video tersebut datang setelah gempa yang beberapa waktu lalu terjadi di Jawa Barat. Proses pembuatan videonya, diakui Abok  hanya memakan waktu satu hari.

“Tidak ada kendala sama sekali, paling cuma saat gempa saja semua pada berjatuhan dan itu pun mendatangkan ide. Karena jika bekerja bersama band besar (saya anggap) adalah sebuah pekerjaan, tetapi bersama mereka adalah panggilan hati,” ucapnya.

Akhirnya saya menyaksikan bagaimana dua medium yang berbeda “berdialog” bersama, berkomunikasi melalui sebuah video art yang diiringi oleh lantunan musik post-rock dari UTBBYS. Seakan-akan mereka mencoba menyampaikan pesan tanpa bahasa yang mereka lakukan diantara musik UTBBYS dan video art milik Abok, menjadi sebuah bebunyian yang dimaksud untuk merangsang indera pendengaran para penonton.

Setelah saya saksikan keseluruhan dari salah satu segmen “Dialog Bunyi” tersebut, saya merasa UTBBYS seperti kehilangan “kata-kata” untuk menjelaskan apa yang ingin mereka sampaikan kepada penonton mengenai apa yang mereka ditampilkan tadi.

Para personil UTBBYS semua membelakangi para penonton, melihat video art yang terpampang di belakang mereka. Formula build up momentum yang biasa digunakan oleh para penggiat musik post-rock ini tak sempurna mereka sajikan. Mereka cenderung memainkan riff-riff repetitif yang menjenuhkan dan diakhiri dengan bagian anti-klimaks. Sangat disayangkan jika ink motion yang sudah dibuat oleh Indraboxy terkesan monoton jadinya.

IMG_7338

Setelah penampilan, saya sempat menanyakan pada kawan-kawan UTBBYS mengenai perihal segmen saat mereka “berdialog” dengan video art buatan Abok. R. Faizal Rezza atau Ezza, Gitaris yang berperan sebagai harmony sounds dari UTBBYS angkat bicara soal itu.

“kalau dibilang puas, ya nggak puas sih, karena ini kan spontanitas, cuma tadi saat check sound sempat melihat videonya lalu diskusi mengenai chord-nya dimana saat momen untuk naiknya. Tetapi karena spontanitas ya segitu adanya lah.” Ucap pria berambut panjang tersebut.

Sementara Indraboxy alias Abok merasa puas dengan penampilan UTBBYS: “Saya selalu puas dari awal saya kenal mereka, dari awal membantu mereka sampai mereka dapat label, bisa dibilang ya saya salah satunya yang selalu menjadi orang untuk ada dibelakang panggung mereka, kalau buat lagu juga minta testimoni ke saya dulu konsultasinya, karena kalau untuk musik saya sih dengerinnya post-rock.” Paparnya.

Secara keseluruhan saya pikir acara terkonsep dengan sangat baik. Penampilan UTBBYS selalu seperti yang saya ucapkan, “magis”. Namun untuk segmen kedua, rasanya saya belum terlalu puas saat melihat UTBBYS mengelaborasikan musik mereka dengan video art dari Indraboxy. Sebab dari kaca mata saya, hasilnya belum mencapai klimaks. Saya tidak asal bicara, karena apa yang saya rasakan pun diamini Ezza.

Foto: Meilda

Daniet Dhaula G.

Between Asleep And Awake.