Gema Music Gallery 2018 di Langit Selatan Jakarta

Oleh: Bobby Agung Prasetyo

Sepanjang Maret 2018, dari sekian banyak dan aksi panggung di Tanah Air, Surnal berkesempatan untuk datang ke acara tahunan BSO Band Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bernama Music Gallery. Ia digelar pada 10 Maret kemarin dengan sederet bintang tamu lokal yakni The Sigit, Sore, White Shoes & The Couples Company, Orkes Moral PMR, Mondo Gascaro, Jason Ranti, Danilla, dan lain-lain.

Selain nama-nama di atas, Music Gallery turut mendatangkan  penampil asal luar negeri. Mereka adalah Novo Amor (Wales) dan Beach Fossils (Amerika Serikat).

Pihak acara mengusung tema “Garden of Sounds” sebagai analogi bahwa Music Gallery adalah sebuah taman; tempat yang mampu mempertemukan satu sama lain hingga membagi referensi serta kesenangan musikalitas. Meski begitu, lokasinya yang bertempat di lantai atas Kuningan City, Jakarta Selatan, tak terlalu membuat tema di atas menjadi relevan.

Panggung dibagi dua dan cukup berjauhan; Intimate Stage yang berada di area parkir (P6) dan Main Stage di dalam ballroom (P7). Sudah dapat dipastikan bahwa Novo Amor dan Beach Fossils kebagian di ballroom.

Perhelatan Music Gallery 2018 berlangsung secara wajar. Terlebih, penonton dimanjakan dengan pemandangan gedung-gedung ibu kota karena lokasi acaranya yang berada di lantai Kuningan City paling atas. Setelah puas menonton deretan artis musik lokal, kami menyorot penampilan dari amunisi pamungkas Music Gallery kali ini, Novo Amor dan Beach Fossils.

NOVO AMOR

Oleh: Daniet Dhalua G.

Sempat tersesat masuk ke dalam pop-up market dari tempat penukaran tiket di level 2 gedung mal, ini cukup membuat saya kewalahan karena kurangnya petunjuk dari pihak penyelenggara acara. Wajar beberapa teman saya sempat tersesat ketika hendak menuju venue. Memusingkan.

Saya memutuskan untuk meninggalkan Intimate Stage beserta para musisi lokalnya, lalu bergegas menuju ballroom untuk memperhatikan sejenak para pengunjung; ditemani segelas kopi berasa aneh, juga cantiknya Jakarta dari lokasi yang tinggi. Saya dan teman-teman terlarut pada obrolan dan suasana pada malam itu, begitu pula kiranya para pengunjung yang lain, sembari ditemani makanan dari deretan stan yang berhasil mengobati perut keroncongan.

Saya melewati Mondo Gascaro dan White Shoes and The Couples Company. Saat itu, yang hendak naik ke atas panggung adalah Novo Amor, unit ambient/indie folk yang menjadi salah satu tujuan saya datang ke acara ini. Bergegas saya ke kamar mandi, melakukan ritual sakral seorang diri. Penglihatan tampak kabur. Saya masuk ke dalam ballroom dan mendapati jajaran penonton yang mendekati pintu keluar, lalu membaur bersama mereka.

Ali John Meredith-Lacey tampil dengan format full band bersama Ed Tullet. Visual yang tampak di atas panggung, membawa penonton serasa berada di pegunungan Welsh. Dibuka dengan “Silvery”, seketika suara Ali membius telinga; tak terelakkan. Begitu juga dengan lagu kedua mereka, “Colourway”.

Namun ketika Ali hendak membawakan intro “Enbody Me”, ada kendala teknis pada gitar yang dikenakan sehingga harus menunggu beberapa menit. Para penonton terus berteriak kegirangan menyemangati Ali, layaknya seorang fans yang mendedikasikan diri pada sang idola.

“Thank you,” ucap Ali, seraya gitarnya kembali menyala. Dia melanjutkan penampilan menuju repertoar seperti “Holland”, “Carry You”, “Faux”, “Alips”, “From Gold”, hingga tampil lewat penampilan solo membawakan lagu “Anchor”.

Suasana terbilang khusyuk, saya pun dibuat syahdu dengan sekali-kali menggaruk halus batang hidung. Sialan, mata kabur! Penampilan Novo Amor sangat menarik lantaran sound yang tersedia amat memadai. Musiknya menggema ke seluruh ruangan ballroom malam itu. Saya hanyut bersama gemuruh teriakan “we want more!” oleh para penonton.

BEACH FOSSILS

Oleh: Mirza P. Wardhana

Satu per satu, personel Beach Fossils naik ke atas panggung. Saya pikir mereka akan lantas segera bermain, namun ternyata tidak. M menghabiskan kurang lebih 30-40 menit untuk memasang alat-alat mereka. Bahkan yang lebih mencengangkan, tidak ada kru sama sekali, termasuk soundman.

Tapi sudahlah. intro dari “Generational Synthetic” pun usai dimainkan. Semua penonton pun pada akhirnya luap dalam emosi mereka: “Beach Fossils ada di depan dan kita tak boleh diam saja!”

Lingkaran kecil berisi pria dan perempuan haus moshing, muncul. Saya ada di sana, kira-kira hanya berjarak dua meter dari barikade panggung. Saya beberapa kali melihat Dustin tersenyum menyaksikan hal itu. Satu yang saya tahu, Dustin sangat menyukainya; alih-alih mengangkat gawai dan mengangguk-anggukkan kepala saja.

Lagu demi lagu dimainkan, yang setelah saya sadari, mayoritas berasal dari rilisan lama mereka, mulai dari album debut Self Titled hingga Clash the Truth. Dan itu malah semakin membikin saya tersenyum lebih lebar. Betapa tidak, saya tumbuh dengan album-album tersebut. Coba saja hitung, ada berapa banyak band baru yang muncul mengikuti formula musik di album-album tersebut?

Meskipun beberapa lagu jawara dari album teranyar tidak dibawakan karena synthesizer yang urung bersuara, setidaknya kami semua puas karena “Hey! Ini Beach Fossils!” sambil menabrakkan tubuh satu sama lain dengan lagu “Careless” sebagai latar.

Beach Fossils memang juaranya pada malam itu.

 

Foto: Bobby Agung Prasetyo

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)