Showcase Pamungkas Flukeminimix: Sight Unseen

Momentum akhir tahun dimanfaatkan Flukeminimix untuk menggelar tour perdana, sejak terbentuk pada 2008 lalu. Sight Unseen tour dipilih sebagai tajuk yang diusung Flukeminimix dalam setiap rangkaian perjalanan mereka menerjang panggung di lima kota dan tiga provinsi di Pulau Jawa.

Rangkaian Sight Unseen Tour milik Flukeminix dimulai di Malang pada 15 November lalu. Secara maraton, tur berlanjut ke Yogyakarta (22/12), Jakarta (22/12), Bandung (23/12), dan Cirebon (24/12). Sight Unseen Tour kemudian ditutup di Bandung dalam balutan showcase yang berlangsung di Spasial, pada Jumat (29/12).

Komponis asal Yogyakarta, Gardika Gigih, ambil bagian meramaikan tour pamungkas Flukeminimix. Gardika menjadi pembuka pentas malam itu. Penonton syahdu menikmati penampilannya. Aksi Gardika Gigih cukup menghipnotis, ia  mampu membagikan energi semesta, melalui nada lirih yang membuat khalayak menikmati setiap alunan nada yang ia mainkan. Terlebih saat Novi Purnamasari naik panggung, berkolaborasi mengisi komposisi dengan iringan cello yang mengiris.

“Saya sedikit gugup tampil dihadapan kalian. Semoga semesta mendukung dan memberikan kekuatannya,” kata Gardika.

Setelah Gardika menyelesaikan pertunjukkannya, si empunya acara, Flukeminix pun naik panggung. Seketika penonton bangkit, dan kondisi pun jadi tak karuan. Penuh sesak, hingga sang penampil pun sulit terlihat dari belakang. Namun beruntung salah satu ruang kosong tersedia di pinggir panggung. Tanpa komando saya langsung mengisi ruang tersebut dan larut ke dalam barisan.

Flukeminimix membuka penampilan dengan membawakan empat lagu yang diambil dari materi album “Unspoken” dan “Between Spaces Into Space”. Lantunan khas eksperimental post rock membuat saya mengawang. Jika ditambah  sedikit ‘substansi’ pendukung, mungkin pecah kepala ini! Sialan memang.

DSC02295

Sesaat kemudian, Gardika kembali tampil untuk berkolaborasi bersama Flukeminimix. Panggung kecil Spasial kemudian terlihat semakin padat setelah beberapa alat musim seperti cellist, hingga contra bass memenuhi panggung. Samar, lantunan akrab gelap membalut Spasial. Tempo naik turun menggema, menghipnotis para hadirin.

Hingga satu lagi kolaborator naik panggung; Bobby Satriya. Pelan tetapi mengejutkan, mereka membawakan lagu lokal penuh kontroversial, “Genjer-genjer”. Saya tergila-gila. Seakan terbawa ke dalam ruang hampa. Merah!

Selanjutnya, sang komponis memimpin lagu dengan mengasongkan nada-nada di luar nalar. Perlahan, yang lainnya menutur bersahutan. Flukeminimix dan Gardika melakukan kolaborasi seketika ditulis dan dibuat langsung di tengah stage. Sekali lagi, saya orgasme!

Usai showcase digelar, saya berbincang dengan beberapa penampil. Walaupun mereka tengah melayani legalisir CD dan kaset pita yang disodorkan para penonton yang hadir, saya tetap berkesempatan untuk sedikit berbincang singkat mengenai showcase dan Genjer-Genjer.

Penasaran, saya menyinggung perihal dibawakannya lagu “Genjer-Genjer”. Gardika Gigih mengatakan bahwa maksud dari penyuguhan lagu genjer-genjer hanya sebatas menyentil isu kemanusiaan, tidak lebih.

Berbeda dengan Farris Karamy Gibran, sang gitaris. Pembawaan lagu ‘Genjer-genjer” bermaksud untuk meluruskan anggapan masyarakat Indonesia, yang menjustifikasi bahwa lagu tersebut lekat dengan unsur Komunisme.

“Kami membawakan lagu ini bermaksud untuk menghapus anggapan orang-orang kalau lagu ini adalah lagu komunis. Sebenarnya ini hanya lagu lokal masyarakat pada waktu itu.” Kata Farris.

Lanjut, kami berbincang mengenai isu politik yang ada di Indonesia: “wah! Politik di Indonesia sudah kacau. Budaya dan agama di campur ke panggung politik” Farris menambahkan.

Ikhwal unit musik, Flukeminimix tidak ingin memisah-belah, meski mereka sering disebut sebagai Eksperimental post-rock. Jika disinggung mengenai influence musik, ya! Dengan tegas Farris menjawab  “Saya suka Godspeed!”