Danilla – Lintasan Waktu (2017, demajors)

Tersudut dan terbujur kaku di pojokan sembari meratap dan mengumpat kesialan seorang pecandu berhala opioid, zat sedatif, nikotin, bebunyian. Mati kau. Bahan masturbasi syarafnya hampir menginjak kondisi kosong. Habis. Sudah setengah lumpuh. Lupakan. Ada satu narkotik candu yang belum diputar; Lintasan Waktu milik Danilla.

Dengan kesembronoan batas akhir, berani memutarnya demi memenuhi hasrat kebanjiran serotonin adalah sesuatu yang tak bisa dicapai. Sisi gelap seorang Danilla Riyadi mendominasi hampir di keseluruhan tiap lagu dalam album sophomore nakalnya ini. Narkotik.

Ya, narkotik yang dilematik. Mengapa dilematik? Bagi penggemar garda depan album awal Telisik, maka tak mungkin menemukan bebunyian yang semacam itu. Jangan harap ada tembang nuansa swing dan bossanova semacam “Senja di Ambang Pilu” dan “Berdistraksi”. Dari segi musikal yang gloomy. Kelam. Sampai segi lirikal yang tak hanya berkubang dalam lubang yang diisi dengan hal-hal perihal romansa. Untuk adaptasi dengan nuansa di album ini mungkin akan bekerja menggunakan cara  mengulang-ulang trek “Junko Furuta” dari album awal.

Tulisan ini bisa dibilang monumental. Sebab, ini adalah album soft yang pertama kali saya ulas. Saya sempat mengulas album milik Jason Ranti yang bisa dibilang soft secara teknis, namun tidak masuk hitungan. Gitanya akustik. Musiknya blues? Folk? Terserah. Namun, dalam segi lirikal lebih tajam dan menikam daripada MT-2 dengan knob distorsi mentok kanan.

Track pertama Laguland dibuka dengan lantunan vokal yang merintih. Penggalan lirik “Terhayut ku di angkasa raya, rupanya,” menambah suasana kekosongan tiada akhir. Pointless. Sialan. Hampa. Tak Berujung. Coba telan beberapa benzo atau opioid, namun benzo lebih tepat. Tapi peleburan keduanya mungkin akan terasa lebih paripurna.

Mengetik tuts keyboard di ruangan gelap seperti yang dilakukan saat ini adalah hal menyebalkan. Apalagi clonazepunk yang dibagi dua terasa kurang, junkie-junkie bangsat tak pernah puas. Putih, pink atau ungu? Tak peduli. Yang penting tak ‘kosongan’ sama sekali. Asal jangan overdosis etanol kalau tak ingin tebaring sebelum album ini menginjak satu putaran penuh. Jangan pula libatkan soda, tak sehat. Kerajinan sintetis tak dianjurkan, efeknya rumit. Magic mushroom boleh, tapi tanggung sendiri akibatnya.

Teh manis, sebuah reaktan, dan Donald Trump. Trump-madol. Saya benci mengingat wajah si kolot kualat itu, apalagi ditambah dengan gestur tangan ‘maknyus’ yang secara tak sadar ia curi dari sosok Bondan Winarno. Baiklah, pikiran mulai kacau. Sampai pada “Entah Ingin Kemana” yang katanya enak untuk ‘gituan’. Ya, bersenggama. Ngentot. Namun, dalam keadaan seperti ini, ingin merasakan ereksi pun sulit, apalagi berupaya menambah barisan kalimat di layar LSD (maaf, maksud saya LCD) untuk menuntaskan tulisan ini pun nihil hasilnya.

Dasar hidung belang. Keparat. Lupakan. Lagu ini bercerita tentang hubungan yang terombang-ambing entah mau kemana. Diisi vokal tamu Sigit Pramudita dari Tigapagi. Banyak yang bilang perannya kurang berpengaruh, seperti cameo Green Day di film layar lebar The Simpsons. Konser di atas danau Springfield, bernyanyi beberapa bait, lalu mati tenggelam. Ah, siapa peduli.

“Kalapuna” yang bercerita tentang kematian, saya benci harus menjelaskan jika judul lagu ini diambil dari kata “Kala” dan “Punah”. Sudah banyak yang menjelaskan. Bangsat. Ini adalah single pertama dari album ini. Pertama kali dengar. saya bisa menyimpulkan; Ok, album selanjutnya adalah candu. Lagi-lagi narkotik. Tempurung obat. Trek ini favorit saya.

Nuansa di album ini sangatlah kompleks dan sulitnya untuk dicerna telinga awam atau yang menggemari album Danilla sebelumnya, kecuali penggemar berat garis keras dan penggemar dengan attitude idoling layaknya menuhankan para member JKT 48. Sebutut apapun karyanya, idola tetaplah idola. Rok mini nomor satu. Sial.

Paranoid selalu lekat dengan kehidupan korban jajahan substansi sialan macam kalian itu. Ingat-ingat lagi kapan terakhir kali merasakan keparatnya perjalanan tidak menyenangkan halusinogen. Melihat setan. Melihat orang di sebelah berbusa kejang-kejang. Takut kurang. Takut blackout. Takut mati. Bangsat!

Ketakutan mendominasi dan jadi benang merah dalam beberapa trek album ini. Takut menjadi tua di “Lintasan Waktu”, potongan lirik yang familiar. Coba simak lagi trek pembuka dan penutup di album awal untuk menemukan jawabannya. Selanjutnya, takut akan sekarat di tembang berjudul “Usang”, ataupun takut akan terjadinya konflik dalam sebuah relasi dalam “Dari Sebuah Mimpi Buruk”. Isinya pun sederhana, perihal bunga tidur tentang pasangan yang bersenggama dengan orang yang paling kita benci. Mati!

Ah, sial. Lebih baik ambil potongan setengahnya lagi. Kunyah dan lumat dengan liur kalau ingin gigi keropos. Tapi itu urusan belakangan. Simak trek ke-enam dengan judul “Aaa”. Aaanjing! Sound gitar yang overdriven di bagian interlude-nya membius. Karakter vokal alto milik Danilla diiringi bebunyian synthesizer yang bisa dibilang atmosferik sekaligus abstrak adalah komoditas utama di album ini.

Romansa yang ditampilkan di album Telisik memang mudah dicerna. Sekaligus menjadi langkah tepat bagi musisi pendatang baru yang ingin menjamah telinga pendengar luas. Coba bayangkan jika Danilla lebih memilih merilis “Lintasan Waktu” terlebih dahulu, saya yakin dan berani bertaruh di blowjob tikus got, pendengarnya tidak akan semasif  hari ini. Mulai dari muda-mudi tanggung pop culture worshipper, sampai pria-pria maskulin pemuja musik ekstrim yang haus akan sosok kekasih imajiner. Tapi apakah “Telisik” bisa dibilang magnum opus seorang Danilla Riyadi? Saya rasa tidak juga.

Bagi saya pribadi, album ini adalah sebuah manifesto sebenarnya seorang Danilla Riyadi, lagi-lagi langkah tepat baginya. Sekaligus bisa menjadi parameter untuk membuktikan penggemar mana yang termasuk elitis maupun hipster. Mana yang masih menyukai dan mana yang akan meninggalkan. Tapi, persetan dengan itu semua karena musik hanya masalah selera.

Jika kedua term sialan tersebut boleh dipakai di ulasan ini, saya analogikan elitis sebagai golongan kiri dan hipster adalah kaum kanan. Maka saya lebih memilih medeklarasikan diri sebagai ekstrem tengah. Terakhir, saya ingin menegaskan lagi jika musik hanyalah masalah selera tiap orang. Ada selera yang bagus dan ada juga selera yang bututnya setengah mampus.

Saputra Dimas

Bangsat permanen! ⛧