Krowbar – Swagton Nirojim (Grimloc Records, 2018)

Legiun hip hop lokal selalu punya hal-hal yang patut dinantikan para hiphopheads akut. Beberapa waktu belakangan, kiprahnya kembali menjulang tinggi bak kepalan tinju di udara dalam sebuah circle pit ketika Sick of It All memainkan “Step Down”. Pertama-tama perlu ditegaskan jika yang saya maksud “hip hop lokal” bukanlah para emcee kacrut aji mumpung yang rap-nya lebih tepat disebut kumur-kumur atau kentut dari rongga mulut. Bahkan, predikat emcee terlalu suci untuk disematkan kepada mereka.

Adalah Grimloc dan sub-labelnyaDef Bloc yang mengklaim telah berhasil membuka gerbang era renaisans baru hip-hop lokal. Hal itu bukanlah isapan jempol belaka seperti bacotan sompral tak dipikir yang keluar dari sungut bau tembakau campur kafein seorang junkie. Tepat, pasalnya…bangsat! Silakan kalian buka katalog rilisan label bajingan ini!

Giliran Krowbar yang lepas dari pemasungan. Album ini merupakan kongkalikong bersama nama-nama laten dalam kancah hip hop. Sebut saja beatmaker ulung Jay Beathustler (Eyefeelsix), serta Morgue Vanguard dan DJ Evil Cutz alias E-One (eks-Homicide, Bars of Death). Sebelas peluru kaliber 9mm dalam senapan bernama Swagton Nirojim, digenggam seorang gangster Mexican bernama Krowbar. Sampul albumnya minim budget, tapi memenuhi unsur cult dan phat secara bersamaan. Estetik.

Dibuka dengan rapalan ritual satanisme yang mengundang iblis dan kroni-kroninya untuk datang, dilanjut dengan afrobeat “Pay Back Africa” milik Antibalas. “Doktrin 9mm”, sebuah manifesto. Penegasan laskar titisan iblis kambing mendes lewat rima toksin comer mi mierda gaspol, bogem mentah yang mendarat di wajah para MC penutur rima sok swag nanggung nan pretensius. Tipikal anak SMP nakal sok jagoan yang uang sakunya hanya sanggup membeli air tengik bernama ciu di belakang monumen Gasibu. Cuih… Bau air aki!

Tanpa harus membaca dan menyimak tiap lembaran lirik, vibe braggadocio sangat terasa di tiap treknya. Arogan. Teknik penulisan lirik yang tai anjing dope-nya, tanpa harus terdengar dipaksakan. Semua mengalir begitu saja. Simak hook-hook maut sekaligus antemik pada nomor berikut, berikutnya, dan berikutnya lagi sampai album ini selesai berputar. Pilihan favorit saya tetap jatuh pada 47 bar tambah satu supaya tap-out yang berjudul “Senjata Pemuas Massal”. Seketika muncul hasrat ingin tanggah sambil mengumpat dan mengacungkan jari tengah. Hasrat yang sama seperti saat sedang memutar Penicillin on Wax milik Tim Dog.

Sampai pada trek kolaborasi bersama Morgue Vanguard yang berjudul “Saga Malam Sabbath”. Saling lempar sahut-sahutan rapalan rima storytelling serampangan di atas layer down tempo doom metal bangkotan. Repertoar milik Black Sabbath. Sound gitar fuzzy. Bajingan. Gatal ingin memberi istilah “doom bap” untuk trek satu ini sejak pertama kali mendengarnya. Anjing. Jika tebakan saya benar, mereka berdua berakhir dipukuli. Dihujam tendangan dan kepalan tinju. Awut-awutan. Seperti Liu Kang dan Kung Lao di-gangbang satu batalyon oni di Netherrealms, seperti dalam Mortal Kombat: Shaolin Monks.

Deskripsi

Pada deskripsi album ini, Grimloc menganalogikan Spazz bertemu MF Doom. Lirik satir sarkas seputar tetek bengek scene hip hop dan musik underground yang memang berkaitan satu sama lain semenjak Homicide lahir. Jika boleh mencuri judul lagu milik Spazz, mungkin ini adalah; a prayer for the complete and utter eradication of all generic hip hop, atau apapun itu. Terserah. Senyum sinis sekaligus mengiyakan akan timbul ketika mendengar setiap bar liriknya yang quoteable.

Seluruh trek di album ini menggunakan metode berupa mencomot potongan rekaman suara, lalu menggabungkan dalam karya artistik lain, atau lebih singkatnya sampling yang populer di produksian hip hop 80-90’s. Terhitung ada 27 bebunyian multi-genre yang jadi bahan sampling. Selanjutnya “Swagratul Maut” yang saya nobatkan sebagai trek terbaik album ini, entah kenapa. Dengan hook “Angkat gelas tarik satu shoot, ritual swagratul maut” yang cocok dirapal sambil melakukan ritus menuang air haram bernama tequila, atau wiski, atau vodka, atau apapun itu. Trek lainnya? Silakan dengarkan sendiri, bajingan!

Tentang Krowbar

Krowbar merupakan eks-vokalis grup thrashcore itu pun kalau ia tidak keberatan jika saya membahas hal ini yang ia gawangi bersama Sarkasz (eks-Homicide, Bars of Death), Anjing Tanah. Keberadaannya lebih mitos daripada album rap bagus yang bisa dirilis Pandji. Ya, komedian yang melucu sambil berdiri itu. Ini sudah paragraf sembilan, silakan kalian boleh ikut mengumpat. Sebut puluhan nama binatang. Kelamin. Sekaligus berbagai penyakitnya. Lewat album ini Krowbar ingin melupakan hal tersebut, lalu membangun dirinya kembali dengan tumbal-tumbal sejarah di atas altar persembahan usang bernama dunia.

Mirip kisah Dante Ross dan anak-anak Beasties yang ia dituturkan dalam tulisannya. Pada awalnya, trio Beastie Boys berisi MCA, Mike D, dan Ad-rock merupakan unit hardcore yang sempat merilis EP empat tahun pra-Licensed to Ill. Mereka muak akan punk dengan beragam kondisinya saat itu. Mungkin Krowbar merasakan hal yang sama. Ah, kontol. Hanya dia, sebotol jose cuervo, dan setan yang tahu. Andai Swagton Nirojim menjadi album terbaik di tahun ini, saya setuju. Tapi maaf, puja-puji hanya untuk Lucifer yang maha segalanya. Sekaligus YMS, Yang Maha Swag.

Saputra Dimas

Bangsat permanen! ⛧