Mr. Sonjaya – Laras Sahaja (2015)

Kesederhanaan harmoni yang tak ‘sekedar’ sederhana.

IMG_6307

Oleh: N. Detti Sumyatty

Setelah mengalami beberapa penantian dan kepergian, Mr. Sonjaya menggelar konser bertajuk Laras Sahaja di mini amphitheatre Lawangwangi Creative Space, 12 Juni lalu, serta merilis album dengan tajuk yang sama. Paket manis ini merupakan bentuk respon sederhana dari kumpulan Dimas Kusdinar Wijaksana (vokal), Ridha Kurnia Waluya (gitar), Nuansa Gema Ramdhani (gitar, vokal latar), Andry Cahyadi (bass), dan Yaya Risbaya (perkusi), terhadap apa yang mereka lihat, rasa, dan dengar dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menjadi sebuah dokumentasi musikal tentang manusia, alam, dan sang pencipta.

Dari segi kemasan, Laras Sahaja disajikan sedikit rumit namun tetap unik. Dibentuk layaknya sebuah puzzle, berwarna cream dan coklat, dan sampul depan absurd bergambar seorang manusia yang sedang memainkan alat musik seperti ukulele dan berlatar alam sekitar. Ketika dibuka, selain CD dalam kemasannya, terdapat pula ucapan terima kasih para personil dan daftar orang-orang yang terlibat pembuatan album ini dalam bentuk digipack. Lirik disajikan dalam beberapa kertas yang dibentuk segitiga sama kaki.

Laras Sahaja berisi sepuluh lagu, yang tujuh di antaranya merupakan materi baru dan belum pernah diperdengarkan. Nomor pertama berjudul “Sang Filsuf”, terlihat catchy—berisikan tentang cinta serta ajakan kepada sesama manusia untuk bangkit dari sebuah keterpurukan. Lantas “ Langgam Suminem” merupakan curhatan penuh rasa gelisah dari seorang ibu kepada anaknya. Judul lagu ini diambil dari nama seorang wanita asal Flores yang membantu  nyinden dalam “Langgam Suminem” yakni Ceccilia Suminem.

“Part Time Lover”, lagu ketiga ini bercerita mengenai seorang pacar simpanan; kekasih yang sifatnya hanya sementara, sekedar berpegangan tangan, dan tak terlihat ada gombalangombalan. Selanjutnya yaitu “Berduyun-Duyun” seperti gambar mengenai ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan terhadap Kota Bandung, terlihat dari penggalan liriknya tetapi apa dinyana mendung menggelayuti Bandung tercinta”. Lantas ada juga ajakan untuk sama-sama peduli terhadap lingkungan sekitar dalam tembang “Gadis Bersepeda”. “Bani Adam”  merupakan lagu keenam dari album Laras Sahaja ini, kondisi mengenai kerinduan terhadap kenangan masa lalu.

Lagam ketujuh yaitu “Kawan Sekampoeng” berisi tentang cinta terhadap indahnya sebuah persahabatan. “Penjaringan” merupakan lagu kedelapan yang menceritakan mengenai makna luas tentang cinta terhadap karya seni yang di daerah penjaringan utara Kota Jakarta. Dan untuk lagu “Terjun Bugi” di nomor kesembilan, terdengar seperti kecintaan terhadap keadaan alam di kawasan Pulau Natuna yang letaknya strategis dan serangkaian potensi sumber daya alam yang ada di kawasan tersebut. Sampailah kita di lagu terakhir yaitu “Girl Behind Coffe,” bingkisan unik dan sulit untuk dideskripsikan. Kurang lebih bermakna tentang seorang wanita yang gundah terhadap perasaan yang tak beralamat.

Berkolaborasi dengan seniman ternama seperti Ary Juliant, Agus Roekmana, dan Ahmad Murfid Sururi, serta masukan dari Satrio Wibowo selaku “el presidente” dari Sadda Recording Studio, Mr. Sonjaya menambah manis daftar jajaran musikus folk akustik yang merilis album pada 2015, Laras Sahaja merupakan album ungkapan sederhana rasa cinta manusia terhadap lingkungan, alam, ataupun pemilik manusia. Patut dicoba.

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)