[Resensi Buku] Apa Itu Musik? Kajian tentang Sunyi dan Bunyi Berdasarkan 4’3’’ Karya John Cage

apa itu musik

Oleh: Fazar Ramdhana Sargani*

 

Judul               : Apa itu Musik?

Penulis             : Karina Andjani

Penerbit           : Marjin Kiri

Terlepas dari definisinya, sudah merupakan faktisitas bahwa musik kini menjadi teman sehari-hari manusia dalam menjalani kehidupannya. Di toilet, di bawah guyuran shower atau gayung, di pojokan kamar yang temaram, di arcade sebuah mall, di lapangan tempat apel TNI; semua spasialitas yang dekat dengan kehidupan kita telah disusupi oleh sejenis bebunyian yang disebut musik. Dalam tugas akhirnya, Karina Andjani nampaknya kembali memproblematisasi hal yang ia sukai, hal yang kita sukai juga. Inilah yang membedakan Karina dengan kita, ia menelaah yang ia sukai saat kita hanya ‘menikmatinya’ saja. Karina tak hanya mencoba menjawab definisi musik, tetapi juga mencari ontologi musik itu sendiri. Intensi Karina itu disebabkan oleh karya John Cage berjudul 4’33’’. 4’33’’menjadi semacam test case untuk Kania dalam merumuskan ‘apa Itu musik’.

Dalam karyanya itu, Karina mencoba memberikan definisi filosofis dan penjelasan ontologis mengenai  musik. Definisi filosofis didasarkan pada ‘kondisi yang dibutuhkan untuk memenuhi sebuah kriteria’. Atau dengan kata lain, syarat-syarat apa saja yang perlu dipenuhi agar sesuatu disebut musik. Sedangkan ontologi, ontologi bukanlah subdisiplin filsafat yang mudah (ya, memang segala dari filsafat itu sulit, itu mengapa kita sering menghindari filsafat secara keseluruhan). Ontologi berurusan dengan dasar-dasar sesuatu (Being), eksistensi dan realitas atau lebih jelasnya studi tentang ‘natur’ sesuatu. Sebenarnya Karina telah mengantisipasi kesulitan mencari ontologi musik. Ia katakan bahwa musik mungkin diartikan sebagai buatan manusia, dan usaha pencarian ontologinya dapat mengantar pada praktek lain yang absurd, seperti pencarian ontologi karcis parkir atau ontologi es krim. Namun jika kita membaca uraian dalam buku tersebut terlihat usaha sungguh-sungguh pencarian Karina itu, jauh dari kata absurd.

Buku ini berevolusi di sekitaran karya John Cage 4’33’’, sebuah karya avant garde yang seperti karya avant garde lainnya, bikin dahi kita berkerut sembari menggerutu, merasa tertipu. Cage, seorang komponis kontemporer yang mendalami Zen Buddhisme, menyebut 4’33’’ sebagai karya musik, kendati selama 4 menit 33 detik tak terdengar suara apapun. Karya tersebut ditampilkan perdana tahun 29 Agustus 1952 di Living Theater, New York. Pianis kenamaan, David Tudor, dimintai Cage untuk menampilkan karyanya tersebut. Sontak, karena alpanya bebunyian dalam penampilan itu, penonton malah jengkel lalu mencemooh sambil meninggalkan ruang konser. Selama penamilan Tudor hanya melakukan gerakan membuka dan menutup piano sebagai penanda perpindahan movement saja, tiga kali lebih tepatnya, jumlah movement standar pada sebuah sonata. Kontan karya Cage tersebut menjadi kontroversi tak hanya di dunia musik tetapi juga merambah ke dunia filsafat.

Buku ini dibagi menjadi lima bab. Bab pertama mengenai hal-hal umum, seperti semacam pengantar. Bab kedua mengenai lanskap historis seni secara avant garde umum dan permusikan kontemporer dan, juga mengulas Cage berserta karyanya sendiri. Bab ketiga berisi penjabaran konseptual dari filsafat musik dan ontologi musik, yang pada bab keempat diterapkan untuk kasus 4’33’’. Bab kelima merupakan bab kesimpulan Karina dari studinya tersebut.

Secara singkat buku ini merupakan sanggahan Karina terhadap argumen atau pretensi Cage yang menganggap karyanya tersebut adalah karya musik. Menurut Cage, tidak ada diam yang absolut. Sediam-diamnya suatu kondisi, selalu ada bunyi yang merasukinya. Contoh sederhanyanya, walaupun kita diam, kita sering bermonolog atau mendengarkan ‘suara hati’. Jika itu contoh mental, Cage juga dapat membuktikannya secara material/fisik. Jika kita pergi ke ruang kedap suara atau anechoic chamber, lalu kita diam, kita masih akan bisa mendengarkan bunyi kerja biologis yang terjadi di dalam badan kita. Itu sebabnya menurut Cage, selalu ada bunyi bahkan dalam diam; kosong adalah isi, isi adalah kosong….diam adalah bunyi, bunyi adalah diam, kira-kira begitu jiga kita tirukan pepatah Zen.

Menurut saya, yang paling penting dari sebuah karya akademis adalah bagian konsep dan proses analisisnya. Karena di sanalah bahan (konsep dan kasus) kemudian diolah (dianalisis), terlepas dari kelak simpulannya kita setujui atau tidak. Untuk itu, saya pribadi akan menitikberatkan pada pembahasan bab 3 dan 4. Pada awal bab 3,  Karina menjelaskan mengenai definisi filosofis musik yang terbagi jadi tiga: intrinsik, subjektif dan intensional. Intrinsik berkaitan dengan muatan musik formal yang kita tahu, misalnya bunyi yang ada dalam tangganada, ada tempo, dan sebagainya. Sedangkan subjektif, simpelnya ‘ya menurut saya ini musik, maka ini adalah musik’. Jadi buat pengertian subjektif, apapun adalah musik selama ada seorang yang menyatakan itu musik. Sedangkan intensi berkaitan dengan niatan sebuah suara agar terdengar musikal.

Sama sekali tidak berniat mereduksi, sebenarnya ontologi musik yang terdapat dalam buku ini sedikit banyak dapat terwakili oleh kutipan dari rockrstar filsafat Indonesia, Rocky Gerung, di cover buku tersebut: “Musik adalah konser. Tapi lebih dari itu, musik adalah konsep. Juga ketika tak ada nada di ruang konser.” Kutipan tersebut dapat mengantar kita untuk melihat lebih dekat usaha Karina dengan penjabarannya yang filosofis –yang ini sedikit bermasalah untuk pembaca awam seperti saya. Secara umum Karina melihat musik dari perdebatan tradisi filsafat Barat, seperti universal vs partikular, mental vs fisikal. Apakah musik itu adalah sesuatu yang lepas dari dimensi spasio-temporal (universal) ataukah partikular? Apakah musik itu nyata di tataran mental, yakni ketika kita sedang melantunkan Gymnopedie No. 1 dalam hati ataukah nyata di atas kertas yang  berisi partitur yang ditulis Erik Satie? Selain itu juga ada beberapa konsep turunan yang, menurut saya, konsekuensi dari perdebatan tadi semisal masalah type dan token. Sonata merupakan sebuah type, sedangkan Sonata for Cello and Piano No. 1 in E Minor, Op. 38 karya Bhrams merupakan token dari sonata. Twelve bar blues merupakan type, sedangkan For You Blue-nya The Beatles merupakan token. Ada transmisi properti yang sama disalurkan dari type ke token. Pada contoh For You Blue, properti yang ditransmisikan dari type ke token adalah struktur 12 barnya. Walaupun begitu, terbuka beberapa derajat perbedaan antara type dan token. For You Blue dan The Thrill Is Gone, kendati sama-sama twelve bar blues, bervariasi satu sama lain. Ini menyangkut dengan perdebatan lainnya, apakah, katakanlah saya memainkan Claire de la Lune tetapi meleset satu nada saja, bisa disebut karya yang sama atau karya yang benar-benar baru? Tak hanya berkenaan dengan type dan token, ini juga menyinggung mengenai musik sebagai performance atau penampilan/konser.

Selanjutnya, Karina juga menyinggung musik sebagai event atau kejadian yang dapat diulang tetapi tiap usaha (instance) pengulangannya itu masing-masing berbeda satu sama lain. Perbedaan dan persamaan sebuah penampilan musik berkaitan dengan otentisitas atau orisinalitas. Apakah ada permainan seorang cellist yang sama dengan apa yang tertulis dan dimaksudkan oleh Bach dalam Cello Suite No. 1, sehingga yang ia mainkan dapat disebut otentik memainkan karya Bach? Atau apakah mungkin Dave Brubeck Band memainkan Take Five, yang merupakan karya mereka sendiri, dengan cara yang sama persis tiap penampilannya? Ini, menurut Karina, juga berkaitan dengan identitas musik; musik yang dihasilkan oleh seorang komponis di satu sisi dan tampilan karya tersebut oleh seorang musisi di sisi lain memiliki perbedaan, dan itu adalah keniscayaan.

Sejauh pembacaan terhadap buku ini, saya menyetujui definisi yang dipegang oleh Karina mengenai musik yakni “suara yang diproduksi dengan intensi, yang memiliki ciri musikal maupun yang didengarkan untuk mendapati ciri musikal”. Dengan pengertian itu, Karina bertolak belakang dengan definisi subjektif dan tak membatasi musik pada pengertian intrinsik saja. Faktor intensi menjadi penting untuk melihat sekumpulan suara sebagai musik atau bukan. Definisi musik yang menekankan pada intensionalitas, saya kira, cukup inklusif untuk merangkul segala jenis karya termasuk karya musik avant garde. Namun, menurut Karina, bahkan dengan definisi yang telah luas itu pun, 4’33’’ bukanlah musik. Memang dalam karya musik ada musical silence, ada tanda berhenti atau istirahat, tetapi apakah disebut musik sebuah karya yang isinya semua tanda istirahat?

Bunyi, sebagai medium, tetap sentral dalam musik. Bayangkan saja, sebuah puisi yang tak berisi satu hurufpun. Memang dalam puisi perlu ada spasi untuk kepentingan pragmatis maupun estetis. Namun apakah sebuah puisi, jika saya tak menuliskan apapun, dengan pleidoi bahwa tanpa adanya spasi maka tak dimungkinkan adanya kata? Menurut Karina, 4’33’’ bukan karya musik melainkan ‘pertunjukan konseptual dan teatrikal’ –mengenai bunyi atau musik. Status musik 4’33’’ tak hanya gagal secara definitif, tetapi juga secara ontologis. Jika musik adalah Universalime Aristotelian—yang artinya, entitas abstrak yang tertambat pada sesuatu yang konkrit (partitur, penampilan, dst.)—apakah abstraksi 4’3’’ dapat memanifestasi di kepala kita sehingga ketika kita sedang menyenandungkannya, dan ada orang lain yang bertanya lagu apa itu, kita bisa jawab lagu tersebut adalah 4’33’’? Ataukah ketika kita tertidur kita bisa disebut sedang melagukan 4’33’’? Tentu tidak. Dilihat lagi dari segi type dan token, karya yang diam sepanjang durasi tertentu akankah ia memiliki token? Bisa saja saya membuat karya 3 menit 44 detik tanpa bunyi lalu saya beri judul ‘Lirih’, misalnya. Menurut Karina, 3’44’’ karya saya tersebut bukan token dari 4’33’’. Karena 4’33’’ lebih cocok dilihat sebagai event tunggal yang telah terjadi dan tak dapat diulang, tipikal karya-karya yang mengusung avant gardisme. Lalu segala usaha pengulangannya lebih tepat jika dilihat sebagai reproduksi event saja.

Secara keseluruhan buku ini telah komprehensif memberi penjelasan tentang musik. Dengan membaca buku tersebut, memungkinkan kita untuk merenovasi konsepsi musik di benak kita. Namun untuk kita yang mencari penjelasan mengenai ‘asal-muasal’ musik, baik dari segi psiko-sosio-kultural, paleoantropologi, pun filsafat, buku ini tidak menyediakannya. Saya paham betul pembahasan semacam itu jelas di luar niatan Karina. Karena bagi saya, sekalipun argumen Karina sangat meyakinkan, buku tersebut belum bisa menjawab satu pertanyaan setelahnya, yang justru menuntut studi lebih jauh sebelum pertanyaan/judul karya Karina, yakni: Mengapa manusia bermusik? Apakah bermusik adalah sebagai menifestasi élan vital yang bekerja pada kita? Apakah bermusik merupakan intensionalitas kita terhadap pengalaman kita hidup di dunia? Ataukah musik tak lebih sebagai instrumen untuk memperoleh pasangan hidup sehingga kita selamat dari seleksi alam? Untuk itu, saya pribadi, sangat menantikan karya sarjana-sarjana Indonesia lainnya meneruskan tongkat estafet dari tangan Karina.

*penulis adalah mahasiswa Sosiologi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri, dan anggota Koperasi Riset Purusha. Mendengarkan musik secara serampangan, dari yang pretensius sampai yang aduhai.

 

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)