Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan (Moso’iki Records, 2015)

Ode dan Elegi Bagi Surabaya.

Silampukau-Dosa-Kota-Kenangan Cover

Surabaya dikenal sebagai kota metropolis paling ramai dan penuh hingar-bingar selain Jakarta ataupun Bandung. Berada di timur Jawa dan memiliki cuaca sama gerahnya dengan Jakarta–malah lebih panas— ini memiliki banyak cerita, kesibukan, hingga lika-liku kehidupan yang tak kalah kerasnya. Begitu banyak makna tersirat di tiap ribuan sudut yang mengapit kota ini. Sebuah band yang lahir di sana, tumbuh membawa nafas folk dan balada sederhana nan berani bersuara dengan itu semua.

Sebut saja mereka Silampukau, dipimpin oleh dua pria berusia 30 tahunan lebih yang senang bersenandung maupun bercerita panjang yakni Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Pesan sentimentil terhadap kota yang mereka dicintai hingga mendarah daging, dituangkan dalam album penuh bertajuk “Dosa, Kota & Kenangan”. Duo Kharis-Eki menggambarkan bagaimana situasi yang benar-benar tak tepikirkan dari Surabaya. Sisi lain yang cenderung slengean mulai dari tidak bisa bermain sepak bola secara leluasa, jalan-jalan ke tempat prostitusi sampai menjadi bandar alkohol.

Balada Harian menjadi nomor folk pertama yang catchy dengan nuansa sedikit country dan menjadi sambutan selamat pagi yang penuh rasa gundah gulana. Sedikit maju untuk menuju yang kedua Si Pelanggan, lagu ini bercerita ihwal seluk-beluk sekaligus telusur tempat prostitusi paling ‘terbaik’ di Surabaya ataupun Indonesia, Doli. Pada trek ketiga, awalan dari bebunyian saxophone bernada alto, trumpet, desiran drum, sampai sepasang vokal sengau, tertuang pada senandung bernama Puan Kelana yang terdengar epik.

Bertemu dengan lagu selanjutnya, Silampukau sangatlah maram atau geram karena tidak bisa menyepakkan bola dan mencetak angka di tempat yang seharusnya. Titel Bola Raya  yang terasa muram, mengharuskan mereka bermain di jalan raya karena lapangan sepak bola telah dijadikan gedung-gedung tinggi. Emosi sesaat biarlah menjadi cita rasa di lagu tadi; sekarang, mari kita berlibur dengan biaya murah yang berdempetan dengan tempat remang-remang di Surabaya dalam irama lagu Bianglala.

Setelahnya, kekejaman Kota Surabaya dan kehidupan teramat sulit di Lagu Rantau (Sambat Omah) menjadi trigger bagi mereka untuk setidaknya merindukan atau pulang ke kampung halamannya sendiri. Karena Silampukau adalah grup berisikan manusia biasa yang tak akan pernah puas, puji syukur dan keluhan yang cukup absurd dan konyol pun mereka panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan balada bernama Doa I. Nomor kedelapan, Malam Jatuh Di Surabaya adalah umpatan habis hehidupan malam di kota tersebut yang terlihat super keras. Sama dengan suasana trek di nomor delapan, Sang Juragan punya cerita akan seseorang yang bertindak sebagai penjaja minuman keras dan harus bersikap sabar menghadapi banyak rintangan (seperti razia, orang pinggiran, sampai pejabat kota) untuk berdagang cairan nikmat berkadar alcohol—mau itu anggur merah, segepeng vodka, atau arak beras.

Dosa, Kota & Kenangan harus ditutup dengan sebuah tembang berjudul Aku Duduk Menanti. Bahwa Surabaya, dalam tembang penuh kilau tersebut, layaknya dapat dinikmati bak seorang pangeran yang memakai mahkota emas sambil menanti putri pujaannya berdandan sesolek mungkin. Dan sebagai pelengkap untuk bergumam featuring tembang Silampukau, siapkan sebatang kretek lantas bakar secara asal, penutup kepala yang lebar, kaus putih tipis, celana sontok, lalu panggillah pengayuh becak untuk mengelilingi seantero Surabaya yang sangat ‘panas’ itu di siang dan malam.

Oleh: Karel

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)