Santikarisma: “Band-band di Semarang Belum Bisa Branding Image dengan Baik”

Berawal dari angkringan tempat berkumpul di daerah Semarang yang berisi karyawan bernama Santi, Ika, dan Risma, mereka lalu menggunakan gabungan nama tersebut untuk diusung. Walau terkesan sederhana, namun mereka tahu caranya bersenang-senang. Atraktif, liar, dan tahu  cara kerja meliarkan kerumunan penonton adalah penggambaran yang tepat untuk menjabarkan apa itu Santikarisma.

Perkenalkan Santikarisma, grup musik pengusung stoner rock yang baru merilis album perdana bertajuk Sugestivisi di bawah naungan Dsstr Records. Unit beranggotakan Rio (vokal), Isa Pradana (gitar), Riki (gitar), Okky (bass) dan Sofyan (drum) ini, tampil di Bandung untuk pertama kalinya pada acara ulang tahun Maternal Dissaster ke-14 yang diadakan di Spasial, pertengahan Desember 2017 silam.

IMG_1433Beruntung bisa merasakan bagaimana liarnya Santikarisma, meski mereka hanya memainkan empat lagu dengan tata suara yang agak sedikit pecah. Alhasil, suara vokal, gitar dan drum jadi tumpang tindih sehingga membuat saya kurang puas. Apalagi, materi album mereka seharusnya bisa menjadi sesuatu yang bagus jika dimainkan secara langsung.

Saya bertanya kepada Rio, apakah dia merasa kurang puas dengan aksinya sesaat setelah mereka selesai bermain; jawaban yang diberikan malah sebaliknya. Dia berkata bahwa kerumunan penonton di Bandung adalah kerumunan sangat menyenangkan, adapun ketidaksenangannya muncul karena mereka masih merasa lelah akibat perjalanan jauh dari Semarang ke Bandung. Para personel baru sampai sehari sebelum acara, jadi masih belum memiliki waktu yang cukup untuk istirahat.

Saya mengobrol banyak dengan mereka, terlebih soal album perdananya Sugestivisi yang baru saja dilepas beberapa bulan kemarin saat perayaan Record Store Day. Simak di bawah ini.

***

Mengapa album Sugestivisi dirilis dalam bentuk boxset (kaus, dan kaset pita) serta hanya format kaset pita saja?

Album perdana ini sangat penting bagi karier musik kami yang telah dimulai sejak tahun 2012 lalu, pengerjaannya juga menghabiskan waktu sekitar dua tahun. Album ini kami kerjakan di beberapa studio berbeda dan menempuh mixing serta mastering oleh dua orang berbeda pula, sehingga menghabiskan waktu sampai sekitar satu tahun hanya untuk melakukan proses mixing dan mastering. Kami merasa album perdana ini sengaja dibuat agar menjadi collectable item dan eksklusif untuk fans yang memang sangat menggemari musik Santikarisma. Tentang kaset pita, itu adalah tawaran dari label.

Itu juga alasan kalian tidak memasukkan lagu-lagu yang album ini di Soundcloud, Bandcamp dan baru dirilis di Spotify?

Sebenarnya bukan tidak mau, tapi kami awalnya hanya ingin menggunakan Soundcloud dan Bandcamp untuk ajang promosi saja. Makanya, kami hanya merilis single Sugestivisi pada April 2017 kemarin. Materi lewat Spotify pun belum dirilis resmi, kami hanya menggunakannya sebagai sarana promosi album agar banyak orang yang mendengarkan album ini dan lebih tertarik untuk membeli rilisan fisiknya nanti.

Apa arti dari Sugestivisi sendiri? Apakah ingin memberikan sugesti pendengar musik Santikarisma untuk terus mendengarkan albumnya?

Arti Visi-nya sendiri adalah untuk bersenang-senang di atas panggung dengan musik yang mereka suka dan mereka mainkan, lalu membuat orang tersugesti secara positif untuk datang ke gigs, membeli merchandise dan bersenang-senang.

Mendengarkan lirik di lagu–lagu kalian, apakah ini salah satu alat untuk mensugesti pendengarnya untuk mendengarkan album ini ?

Lirik dari album ini kebanyakan menceritakan segala hal sekitar kami seperti ajakan bersenang-senang di lagu “Ber-Rasa”, tentang alam yang semakin tua dan rusak di lagu “Kembalikan Derajat” dan “1 Dari 7”, hingga tentang matinya keinginan bermain band kami di Kota Semarang yang tertuang dalam lagu “Bukan Asal”.

Kota Semarang unik karena yang dikenal kebanyakan bukan grup musiknya, tapi pentolan dari satu atau dua band besar. Kalah dari kota sekitarnya semisal Yogyakarta dan Solo. Menurut kalian, mengapa hal seperti ini bisa terjadi ?

Band-band di Semarang kadang masih belum bisa mem-branding image-nya dengan baik, jadi saat band-band tersebut besar atau sering manggung di Semarang, terkadang mereka sudah merasa menjadi band yang sangat bagus namun tidak mencoba untuk bisa lebih dikenal di kota lain. Hal itu harusnya bisa dilakukan lewat tur hingga promosi yang lebih masif lagi.

***

Santikarisma mengajak teman, Rifqi Fadhlurrahman, dari Homesick Magazine. Ia turut menjelaskan bahwa band-band baru yang bermunculan di Semarang rata-rata masih diisi oleh orang lama yang telah malang-melintang di kancah musik lokal. Adapun sosok-sosok baru, mereka dirasa masih kurang berani sehingga berdampak pada regenerasi yang kurang hidup.

Ia melanjutkan bahwa Santikarisma fokus dengan kondisi tersebut yang dibuktikan lewat lirik lagu Bukan Asal: “Bukan sekadar menciptakan, bukan sekadar memasarkan, lihatlah sekitar banyak band lokal pun tidak digerakkan, putar otakmu kawan, sejentik karya lalu menghilang, mana mungkin kau terus bersinar, asal karya mencari tenar.

***

Sekarang, banyak acara musik sidestream yang digelar oleh brand rokok ataupun brand besar lain, namun hanya mengundang band-band tertentu sebagai pengisi acara dan dibayar lebih mahal. Di sisi lain, acara kolektif semakin banyak bermunculan dan mengundang banyak band untuk tampil, namun dibayar secukupnya. Bagaimana tanggapan kalian soal ini?

Kami sangat mendukung dan senang diajak manggung di acara kolektif, di mana banyak band-band baru yang bisa menunjukkan musiknya ke khalayak ramai dengan atmosfer acara yang berbeda. Menurut kami, acara kolektif akan menghilangkan gap dengan band-band lain yang kebetulan diajak bermain di acara kolektif tersebut, karena menurut kami acara dengan sponsor rokok atau brand terkenal biasanya hanya digunakan untuk promosi karya saja. Untuk atmosfer, crowd, dan kepuasan panggung, acara kolektif tetap menjadi pilihan nomor satu meski kami tidak menampik keberadaan acara musik dengan sponsor besar. Justru dengan adanya acara musik bersponsor besar, itu berguna untuk meningkatkan gairah bermusik anak-anak muda di sini, Semarang.

Terakhir, agar pembaca Surnalisme bisa lebih mengenal band-band berbahaya dari Semarang dengan baik, sebutkan beberapa band yang harus ada di daftar putar?

Menurut kami, ini beberapa nama band lokal semarang yang patut diwaspadai: Olly Oxxen, Yellow Jet Club, Rubber Heat, Glasstrick, dan Pyongpyong. Cocok untuk masuk ke dalam daftar putar yang harus kalian dengarkan.

***

IMG_1418Akhirnya perbincangan harus disudahi karena tengah malam tiba. Saya lantas meminta personel Santikarisma untuk melegalisir kaset yang dibawa dari rumah, sebuah ritual wajib yang harus dilakukan apabila bertemu dengan band idola.

Saya menutup hari dengan mendengarkan album mereka lewat volume maksimal dalam perjalanan pulang menggunakan motor. Di jalan, saya mensyukuri dua hal: melihat penampilan Santikarisma dan hidup pada zaman di mana saya bisa menikmati akses internet dan menemukan band berkualitas. Mengutip lirik lagu “Rima Renjana” milik Santikarisma, “Awas, siap? Yeah!”