An Intimacy Vol. 13 – Assembling Afterwards: Keintiman Terbaik Sejauh Ini

Sabtu 17 Desember itu, kerumunan manusia terbentuk di bekas gudang yang kini bernama Spasial, tempat diadakannya An Intimacy Vol. 13: Assembling Afterwards ini. Gelaran ke-13 dari An Intimacy ini merupakan terusan dari An Intimacy: Departure yang diselenggarakan April lalu  di New Majestic. Ada jeda yang begitu lama sejak gelaran terakhirnya. Dan kali ini, An Intimacy kembali ‘merakit ulang’ apa yang telah mereka bangun selama belasan jilid sebelumnya. Semangatnya kembali ada, senang-senang lagi, kesan intimnya akhirnya terbangun lagi (karena pada An Intimacy: Departure lalu, tak ada kesan intim di An Intimacy).

Hal pertama yang saya perhatikan dan beri acungan jempol dari penyelenggaraan kali ini adalah konsep stage yang berada ditengah-tengah ruangan Spasial dengan instalasi pencahayaan yang dramatis dan layar-layar bekas monitor yang menampilkan visual berupa artwork poster dan nama band yang tengah bermain –meskipun pada awalnya posisi ini agak mengherankan. Untuk perihal ini, Taufik Nofrizal, salah satu ‘petugas’ Spasial yang sejak pagi membantu persiapan acara, memiliki jawaban:

“Ini biar intim gitu sih. Niatnya biar penonton bisa nonton darimana aja. Dari depan, pinggir atau belakang,” ujarnya saat berbincang sejenak perihal konsep panggung ini.

Saya sendiri baru datang ketika The Schuberts mengakhiri set, tak lama jelang Peonies naik pentas. Saat itu akhirnya saya mengerti bagaimana konsep dari panggung ini.  Walau pada akhirnya, saat Peonies bermain, penonton masih berkerubung di depan stage. Mungkin hadirin belum tahu kalau mereka bisa menonton dari belakang alih-alih menyemut di depan. Padahal, bagi saya pribadi, menonton dari belakang penampil lebih menarik meskipun agak takut gendang telinga meledak karena suara hentakan drum lebih kencang terdengar. Saya sendiri berdiri di belakang set drum saat Peonies bermain. Memperhatikan layar laptop Citta yang menampilkan aplikasi Ableton Live.

peoniesDengan kostum berupa jas hujan, dan khusus untuk Citta yang mengenakan goggles yang biasa dikenakan pembalap motor cross, Peonies membuka set mereka dengan “Wednesday”. Perihal kenapa mengenakan jas hujan, Citta menjawabnya dengan simpel: “karena kehabisan ide kostum,” katanya. Peonies sendiri memang suatu unit yang sangat terkonsep. Pernah pada suatu panggung saat saya bekesempatan berbagi panggung dengan mereka, trio ini mengenakan kostum tokoh-tokoh kartun, sehingga membuat wajah Jodi makin terlihat sangat ‘anime’.

Peonies yang pada malam itu dibantu oleh Yovie dan Imam dari Lightcraft tampil tanpa celah meskipun ada sedikit insiden berupa laptop Citta yang jatuh. Total, kalau tidak salah, delapan lagu dibawakan malam itu. Ditutup dengan  “Zoo” yang mereka tasbihkan sebagai penutup set.

Selanjutnya kolektif nu-disco asal Bandung, Panda Selecta yang bersiap-siap. Sebenarnya saya penasaran dengan aksi live set mereka karena ini yang pertama kali bagi saya. Tapi semua rasa penasaran ini hampir hilang karena mereka menghabiskan waktu hingga lebih dari 30 menit untuk men-setting alat-alat mereka. Saya bisa memahfumi hal ini karena banyak gear yang mereka gunakan. Walau semuanya bisa saja dilakukan tanpa harus memakan waktu berlebih, sebuah hal yang dapat menurunkan mood penonton. Saya dan beberapa kawan mengalami penurunan selera ini.

Tapi pada akhirnya, toh Panda Selecta bermain juga. Saya tak ingat apa saja yang mereka bawakan. Yang jelas, walau tak begitu menikmati penampilan langsung mereka, bagi saya kelompok ini punya potensi untuk membuat banyak penonton menggerakan badan jika tampil dalam format DJ set atau minimalis. Dengan format full band seperti ini, bagi saya mereka terlihat seperti Rock N Roll Mafia dengan efek vokal yang berlebihan. Apalagi saat mereka mengajak Eky dari RNRM untuk bernyanyi di salah satu lagu mereka, hal tadi menjadi makin jelas.

Lagu terakhir sudah selesai. Akhirnya. Rombongan ‘super group‘ bernama Collapse yang berawal dari side project Andika Surya dari A.L.I.C.E langsung bersiap di belakang panggung. Sebenarnya mereka lah yang ingin saya saksikan di gelaran An Intimacy kali ini setelah dua kali gagal menyaksikan penampilan mereka. Tanpa banyak basa-basi, “Prologue” mereka mainkan, dilanjut dengan nomor favorit saya, “Cathedral”.

Melihat langsung penampilan mereka merupakan sebuah pengalaman yang lain. Jika mendengarkan lagu mereka adalah sebuah pengalaman yang intens, maka menyaksikan langsung penampilan mereka adalah lebih dari itu. Bagaimana gempuran distorsi dengan sedikit delay dari gitar Dika dan Aldead yang menusuk gendang telinga dalam taraf yang bersahabat ini terasa sangat menyegarkan. Apalagi saat mereka membawakan “Blood Bank” dari Bon Iver dan juga “Chlorine” dari Title Fight. Pada malam itu, mereka juga membawakan lagu baru yang berjudul “Cold November” yang terdengar sedikit berbeda dari lagu-lagu pada mini album Grief. Set mereka kemudian ditutup oleh “Sleepless and Dreaming” yang langsung disusul oleh single pertama mereka, “Given”. Collapse benar-benar memberikan sebuah suguhan menarik pada malam itu.

Selesai Collapse tampil, saya langsung berjalan kesana-kemari untuk melihat sekeliling. Kegiatan yang menguak fakta bahwa di dalam kantor Spasial, Nanaba Records sedang membuat ‘pameran’ kecil berupa pajangan semua rilisan mereka sejak awal mereka berdiri 2014 silam. Saya masih bertahan di sana saat Rock N Roll Mafia mulai memainkan intro dari track “Never Give Up”. Bagi saya, meskipun sering ada rasa rindu saat mereka masih sering memainkan banyak repertoar mereka dari era Outbox, namun RNRM di era Prodigal adalah versi terbaik mereka. Musik yang dimainkan menjadi lebih fresh dan modern. Tapi entah kenapa, ada rasa malas untuk menyaksikan penampilan mereka malam itu, walau saya tetap menikmati suguhan musik mereka dari dalam ruangan. Sampai pada akhirnya mereka membawakan “Translove”, dengan penuh kesadaran akhirnya saya mendekati stage dan sedikit menggerakan badan. Saya tetap bertahan di sana sampai lagu “Stuck and Reverse” mereka bawakan.

Setelahnya, saya lebih memilih untuk berjalan ke belakang menghampiri beberapa kawan yang sedang berbincang. RNRM terus memainkan beberapa track yang semuanya berasal dari album Prodigal. Walau begitu, saya ingat kalau Rock N Roll Mafia menutup set mereka dengan nomor “Body Won’t Stop”. Penghujung yang mengakhiri gelaran An Intimacy Vol. 13: Assembling Afterwards.

Tak banyak kekurangan dari gelaran An Intimacy kali ini. Seperti yang saya tulis di atas, semangatnya ada lagi, senang-senang lagi dan kesan intimnya kembali terasa. Pemilihan Spasial sebagai venue pun menjadi sebuah pilihan yang tepat. Vibe-nya terasa, kedekatannya ada, dan yang paling penting, penonton tampak bersenang-senang dengan suguhan musik, lighting dan instalasi yang terasa pas. Tak ada kekurangan dari segi sound pun merupakan satu hal vital yang menjadikan gelaran An Intimacy kali ini adalah yang terbaik sejauh ini. Kekurangannya hanya penonton yang dibiarkan menunggu beberapa penampil yang setting alat terlalu lama. Seharusnya pihak crew maupun tim produksi bisa lebih cekatan karena selain waktu, mood penonton pun terganggu. Tapi lagi-lagi hal itu bisa dimahfumi karena menurut info, hanya ada satu orang yang bekerja di tim produksi An Intimacy kali ini.

Setelah acara benar-benar berakhir, salah seorang yang penggagas An Intimacy menghampiri saya,

“Mir, Surnalisme kan biasanya suka jahat* nih kalo nulis review. Menurut lo, gimana An Intimacy yang sekarang?” Tanya orang itu.

“Ini An Intimacy terbaik yang pernah gue tonton.”

Balas saya dengan singkat

 

——

 

Foto oleh Radovan R. Septyandi

*Semoga saja kata ‘jahat’ yang dilafalkan penanya itu berkonotasi baik. Mungkin maksudnya adalah jujur, bukan jahat. Amin

Mirza P. Wardhana

"Menulis adalah sebuah proses mengetik." - Caca Handika.