Fazerdaze Live Jakarta: Tenggak Anggur dan Bersatu dengan Penggemar

Teks Oleh: Daniet Dhalua G.*

Demi Fazerdaze, Sabtu (21/10) sore itu, saya sudah menginjakan kaki di Rossi Musik, kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tanpa berlama-lama, diri ini langsung menerobos kerumunan yang tengah mondar-mandir di depan pintu masuk. Mereka merokok, berceloteh serta tertawa. Ketika itu prioritas utama saya segera menyiapkan aplikasi Goers, kemudian mengantri di barisan yang masih sedikit. Guna menukarkan tiket dari sebuah kertas yang ditujukan untuk ditempel menjadi gelang.

Saya datang sendiri, maka untuk membunuh waktu, mengisap rokok dan menenggak minuman segar adalah pilihan tepat. Sedikitnya membantu melawan hingar bingar panasnya cuaca ibukota, jelaslah perbedaan cuaca antara kota yang saya tinggali, Bandung. Layaknya suku Eskimo yang hijrah ke daerah suku Indian, cuacanya memang kentara. Sudah tak lagi memikirkan bagaimana bentuk muka karena  badan ini sudah terlanjur basah dan lengket karena kucuran keringat. Oh Jakarta!

Ah sial! Spidol saya tertinggal, rasanya kurang pas bertemu the new queen of jangle pop ini tanpa membawa alat tersebut untuk meminta sebuah memori secara simbolis yang entah akan dicoretkan dimana. Kebingungan ini membuat saya bertanya pada ibu kios dimana sekiranya ada jongko fotokopi atau toko penjual ATK di sekitaran tempat acara. Lantas, saya ditunjukkan satu tempat tidak jauh dari venue, lalu tanpa tedeng aling meluncur menggunakan transportasi online dan akhirnya kembali lagi ke Rossi.

Saya pun masuk ke lobi lantai pertama Rossi dan duduk secara lesehan sambil membakar kembali tembakau asal Negeri Paman Sam dan sebotol teh dingin produk asli Negeri Ibu Pertiwi. Satu setengah jam dibuat menunggu karena panitia belum memperbolehkan para penonton untuk naik ke lantai empat dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Semua penonton mengantri dua barisan untuk menaiki tangga secara perlahan.

Setibanya di lantai tersebut, lanjut merangsek ke dalam hall yang dijadikan panggung utama. Saya sedikit menengok dan berjalan secara tergesa-gesa, tepat ke sebelah kiri dari pintu masuk tersebut untuk membeli kaus resmi Fazerdaze. Rasanya kurang afdol, jika pulang tak membawa sebuah cinderamata dari band yang ditonton. Satu bentuk apresiasi tatkala mendukung sebuah grup musik.

Tak berselang dari sana, saya menuju ke barisan paling depan dan duduk menunggu acara dimulai. Setelah beberapa lama saya terduduk dan tak sabar untuk memulai acara, lampu akhirnya dimatikan. Hanya tersisa lampu panggung saja yang tetap menyala. Kemudian, naiklah Sharesprings ke atas panggung. Shoegazer Jakarta itu memulai intro terlebih dahulu sebagai warming-up untuk pengunjung.

Saya tak ingat mereka membawakan lagu apa saja dan berapa lagu, karena itu pertama kali saya melihat mereka pentas secara langsung. Jujur, saya tertegun tak menyangka. Mereka membawakan musik pop bising yang khas. Sekelumit basa-basi mereka diatas panggung pun terkesan lucu. Celotehnya terkesan kikuk nan polos, Namun, membuat saya tertawa kecil. Cocok dengan selera humor saya yang receh.

Tonggak estafet Sharesprings ditindaklanjuti grup muda asal Yogyakarta, Grrrl Gang. Kuartet ini menggetarkan panggung dengan karakter goth-rock ala The Cure yang menyelimuti lantunannya. Dalam waktu yang sama juga saya merasakan aura rock bising seperti Sonic Youth. Praduga saya terbukti, Angee cs membawakan “Just Like Heaven” milik The Cure sebagai penutup. Catatan sedikit, bila melihat sang vokalis, dirinya sering menyisipkan candaan. Jika saya melihat di akun instagram pribadinya, @spongebobsensual, gaya bercandaannya terkesan garing dan lagi-lagi saya tertawa dibuatnya.

Usai Grrrl Gang, mata ini berfokus pada Amelia Murray, Gareth Thomas, Benjamin Jack dan Andrea Holmes bersiap dan saling berpelukan, sehingga tampak seperti lingkaran. Memanjatkan doa terlebih dahulu. Keempatnya tengah memanaskan diri untuk naik podium. Sekejap grup dari Selandia Baru bentukan 2014 itu naik ke atas beriringan teriakan dari para penonton laki-laki yang terdengar sangat nyaring. Sudah pasti karena terkagum-kagum kepada sosok blasteran Indo-Selandia Baru, Amelia. Cantiknya sungguh sempurna dengan bibir merona oleh gincu merah menyala, kaus lengan panjang berwarna biru tua, rok diatas lutut, pergelangan kaki sampai paha yang dibalut oleh stocking hitam. Tidak lupa sepatu Doctor Martens tiga lubangnya adalah alasan kenapa teriakan kaum adam terdengar sebegitu nyaring. Termasuk saya yang ikut andil dalam berteriak sekeras mungkin. “Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?”

Uniknya, saya melihat Amelia menenteng botol gelas bening berisi anggur merah. Cairan memabukan dalam botol itu tampak sudah habis setengahnya, Lalu menyimpan tepat disebelah efek pedal gitarnya. Tak ayal juga, menyapa penonton menggunakan Bahasa Indonesia dengan aksen Inggrisnya, “Hai! Selamat malam! Apa kabar?”, sembari mengeluarkan simpul senyum manis, ibarat bulan sabit yang sempurna berbentuk melengkung.

“Half-Figured” menjadi lagu pembuka, dan sing along pun dimulai. Berbeda rasanya ketika saya mendengarkan lagu-lagu hasil rekaman Fazerdaze secara audio dibandingkan dalam format live. Jika saya mendengarkan lagunya semisal dari gawai pribadi, bawaannya ingin merokok,menyeruput kopi dan selonjoran di kasur seperti lagu mereka bertajuk “Bedroom Talk”. Sementara jika mendengarkan lagu-lagu sekaligus menatap secara langsung, membuat saya loncat-loncat terbawa euforia dari aksi panggung mereka yang enerjik dan menarik.

Saya lupa setelah lagu apa tepatnya, tapi selesai membawakan lagu itu Amelia sempat berkata, “Saya terkesan, kalian menyanyikannya dengan sangat indah, bermain disini rasanya seperti mimpi!”

Lagi dan lagi. Amelia kembali menenggak anggur merah produkan cap kakek janggut itu, “Ini sangat enak, saya suka ini!” serunya. Dan meminta Gareth Thomas untuk mencicipi minuman tersebut, dan akhirnya pemain gitar itu pun ikut mentotor minuman tersebut  “Oh man! Its very nice!”

Dua belas lagu pun berlalu dengan crowd yang semakin heboh mengekspresikan masing masing dari diri mereka sendiri, dari bau alkohol murahan hingga bau badan tak sedap tercium disana-sini. Namun itu  tidak menyudutkan saya untuk terbawa suasana untuk mengekspresikan diri saya sendiri jua. Hingga tiba “Lucky Girl”, tembang andalan Fazerdaze dibawakan.

Geliat penonton pun semakin pecah. Beberapa orang hingga melakukan crowdsurf dan saya yang berada didepan semakin terdorong ke arah panggung. Seketika Amelia melihat beberapa orang melakukan crowdsurf, lantas dia tak mau tinggal diam diatas panggung. Dirinya melompat turun kebawah dan memainkan “Lucky Girl” diantara kerumunan yang kadung padatnya.

Hingga akhirnya pihak panitia penyelenggara mengamankan kembali dara asal kota Wellington ini untuk kembali ke atas panggung. Selepas itu, Amelia dan kolega sempat turun beberapa menit dari panggung menuju titik semula sebelum mereka naik ke atas panggung untuk rehat sejenak. Tapi, tidak lama kemudian mereka menaiki panggung kembali dan membawakan lagu “Little Uneasy” yang didaulat sebagai penutup. Crowd penonton semakin tak beraturan, hingga saya sama sekali hampir tak bisa bergerak tertekan bagian depan dari panggung.

Fazerdaze berhasil mengemas total 14 lagu yang dibawakannya dengan apik, enerjik, dan luar biasa menarik. Aksi mereka didukung oleh soundman yang berhasil membuat setiap lagu mereka mengiang ditelinga dengan merdu dan menjadi ajang untuk mengekspresikan kegilaan dari para penonton.

Setelah turun dari panggung, Amelia terlihat berpelukan bersama kawan-kawannya sebagai bentuk rasa gembira dan bersyukur karena telah menyelesaikan tur bagi Fazerdaze.

Tidak langsung pergi dari tempat konser, Amelia dan kawan-kawannya berbaur terlebih dahulu di dalam hall dan menongkrong di kafe Mondo. Tidak segan-segan, mereka berfoto bersama, memberi beberapa gores tanda tangan, berbincang-bincang atau hanya sekedar saling bertukar sapa dengan para penggemarnya. Mereka terlihat akrab dengan para fansnya, walau akhirnya Amelia menolak untuk diajak berfoto karena sudah kelelahan dan mungkin masih merasakan jetlag.

Ya, sialnya saya termasuk orang yang tak bisa meminta foto bersama Amelia, uang yang telah saya belikan spidol pun terbuang sia-sia. Benar-benar tidak beruntung. Sabtu malam itu bukan harinya saya, mungkin. Tak dapat memori simbolis dari Amelia, tak membuat saya kecewa. Malah saya sangat terpuaskan oleh mereka yang mampu mengekspresikan perasaan diri ini secara pribadi.

Foto oleh: Iva Nurul Syifa*

*Kontributor

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)