Keriaan Sonicfair, Festival Rock Antiklimaks

Oleh: I Made Yana*

Cuaca yang mendung menjadi penanda minggu ini akan hujan seperti apa yang ditunjukkan dalam penanda cuaca yang ada di gawai yang saya pegang dan saya cek sebelum menaiki motor untuk hadir ke Sonic Fair 2017, yang bertempat di Lapangan Pusdikku Kodiklat TNI AD, Kota Bandung, Minggu (22/10) lalu.

Kalau boleh jujur sebenarnya saya sudah lama mengurangi intensitas kehadiran ke sebuah festival musik, baik itu festival musik pop ataupun festival musik metal seperti ini. Selain durasi antarband yang mengisi acara terlalu singkat, banyaknya band yang mengisi acara dan jumlah panggung yang lebih dari satu, lalu jarak antarpanggung yang agak jauh satu dan lainnya membuat saya sering merasa linglung untuk berpindah menikmati band yang saya ingin tonton.

7

Alasan lainnya adalah saya sekarang lebih menjadi pemilih dalam menghadiri suatu acara musik, dengan band yang ingin saya dengar. Nasib menjadi budak korporat yang hanya libur di hari Minggu membuat saya agak ogah-ogahan untuk bangun pagi dan bersiap-siap datang ke sini dan membuat saya melewati beberapa band pembuka yang tampil semisal Lose it All, Low Dick, Rosemary, dan Kaluman.

Sonic Fair tahun ini menyediakan dua panggung yang terdiri dari Black Stage dan Death Stage yang lebih besar namun becek karena berada tengah lapang lalu, jarak main antarband pada dua stage itu pun sangat rapat hanya berbeda kurang dari 10 menit mungkin karena acara molor beberapa menit dari jadwal.

Saya masuk ke area stage saat Koil baru memulai set-nya di Black Stage, selalu menyenangkan menyaksikan penampilan Koil secara langsung meskipun mereka sudah lama sekali tidak merilis album baru. Satu hal yang membuat saya rindu adalah melihat aksi Otong (vokalis) membanting gitarnya. Hari itu, Otong membanting dua buah gitarnya yang membuat saya dan penonton terkesima dan bersorak.

6

Selesai menikmati penampilan Koil saya pindah ke Death Stage untuk menyaksikan Guttural Disease yang sekilas dari musiknya mereka membawakan genre deathmetal yang masih banyak peminatnya. Sedikit gambaran, Death Stage tidak terlalu besar namun mampu membuat para penonton rusuh se rusuh-nya. Keasyikan menyaksikan penonton yang menggila membuat saya lupa diri untuk melihat Deadsquad yang juga bermain di Black Stage beberapa menit setelah Guttural Disease memasuki lagu ke 2. Tapi taka pa karena setelah penampilan Guttural Disease, Lumpur, Savor of Filth, dan Mesin Tempur menyambar dengan alunan distorsi tingkat tingginya. Tapi karena saya penasaran melihat Revenge The Fate maka saya kembali ke Black Stage dan menikmati mereka dari dekat FOH sambil mencari kolega yang bisa saya ajak mengobrol.

Setelah break Maghrib saya menuju ke Death Stage untuk menyaksikan Turbidity, tapi hanya sebentar karena menurut rundown di depan venue akan main Ring Of Saturn setelah saya buru-buru kembali ke Black Stage ternyata Beside yang naik ke atas panggung, setengah set Beside sudah bermain dari arah Death Stage terdengar MC memperkenalkan band yang terakhir bermain di stage itu yakni Jasad.

Saya tidak lama menonton penampilan Jasad karena saya kembali lagi ke Black Stage untuk menonton Rocket Rockers yang memulai list dengan lagu “Ingin Hilang Ingatan”, lalu dilanjut dengan dua lagu baru milik mereka, “Reuni”, “Ingin Menjadi Sarjana”, “Bersama Taklukkan Dunia”, dan “Dia”. Di tengah lagu “Dia”, Aska sang Vokalis juga menyelipkan “Numb” dari Linkin Park dan “Black Hole Sun” dari Soundgarden dan menjadi penutup set mereka.

Tepat pada pukul 20.30 Seringai akhirnya naik ke atas panggung, kembali mengajak Yaii Item sebagai additional menggantikan Ricky Siahaan yang sedang berhalangan tampil bersama kawanan serigala asal Selatan Jakarta itu. Memulai set dengan lagu “Akselerasi Maksimum” yang menjadi aba-aba hulu ledak para Serigala Militia untuk bersenang-senang dimana semua orang saling bernyanyi, teriak, dan bersenang-senang maksimal, di moshpit saya senang melihat banyak perempuan yang ikut moshing dan crowdsurfing.

Sekilas mereka tampak bersenang-senang namun sayang masih ada saja copet yang beraksi dikerumunan seperti ini. Set panas terdiri dari “Amplifier”, “Persetan” yang merupakan lagu baru Seringai, “Tragedi”, “Serigala Militia” yang ditengah lagu diselipkan cover riff gitar nan anthemic “Iron Man” milik Black Sabbath, “Program Party Seringai”, “Mengadili Persepsi (Individu Merdeka)”, lalu mereka pun mengajak Ebenz dari Burgerkill untuk menggeber lagu “Dilarang di Bandung” dan menutup set denga mengcover “Ace Of Spades” milik Motorhead.

4

Namun acara menjadi antiklimaks karena setelah Seringai beres memainkan setnya MC langsung mengumumkan bahwa acara sudah selesai menyisakan Ring of Saturn dan Devourment yang tak jadi manggung, menurut salah satu panitia yang berhasil saya wawancarai mengatakan bahwa acara harus dicut akibat rundown acara yang sudah melewati izin yang diminta. Keadaan juga sempat diperparah oleh beberapa oknum penonton yang tiba – tiba berkelahi, namun keamanan cepat tanggap dan langsung membawa oknum tersebut untuk dimintai keterangan.

3

Akhirnya nada kekecewaan menjadi penutup yang antiklimaks dari acara ini, hingga liputan ini diposting kami masih menunggu statement resmi dari pihak Revision selaku penyelenggara acara, dari obrolan via whatsapp dengan salah satu perwakilan Revision di Jakarta mengatakan bahwa pihak Revision sedang menyiapkan statement resmi untuk penyelenggaraan Sonic Fair ini.

Berbeda dengan apa yang ditulis di laman resmi Facebook Devourment, Rabu (25/10) kemarin, mengatakan bahwa alasan utama mereka tampil adalah karena adanya ketegangan antara pemerintah negeri ini dengan Amerika Serikat. Yakni, akibat salah seorang jendral aparatur dari Indoensia yang tidak diizinkan memasuki wilayah Negeri Paman Sam. Hal tersebut berimbas kepada izin Devourment gagal menyapa penggemarnya di Sonic Fair. Dan tidak lama dari itu Devourment pun menggunggah lagi statement bahwa mereka diminta untuk membatalkan show nya di Tiongkok dengan alasan kurang jelas.Kita doakan supaya hal ini tidak membuat Devourment ataupun Ring of Saturn kapok untuk bermain lagi di Indonesia. Semoga juga tahun depan Sonic Fair bisa berjalan lebih kondusif dan tidak ada lagi acara yang di-cut.

1 2

Foto: Andre Febri Syam *

*Kontributor

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)