Konser Sarat Emosi HMGNC

Teks Oleh: Java Anggara*

Lima hari sebelum konser berlangsung, saya dimintai untuk datang ke jumpa pers perihal perilisan album ke-5 HMGNC. Setibanya di lokasi yakni di sebuah cafe kekinian sekitaran Jalan Bahureksa, saya bergegas karena merasa terlambat datang. Konferensi pun dimulai dengan pembahasan mengenai isi dari album yang akan dirilis bertajuk self titled tersebut. Para pentolan HMGNC Dina Dellyana, Grahadea Kusuf dan Amandia Syachridar menjelaskan perihal ‘keintiman’ dalam pembuatan album ini. “Konser nanti seperti rangkuman 15 tahun perjalanan HMGNC. Kami bakal kolaborasi bersama teman-teman yang pernah terlibat sebelumnya,” Dina mencakel.

HMGNC memang tidak melibatkan label dalam proses pembuatan materi album, kecuali pada produksi fisik. Demajors mengisi celah tersebut. Seperti biasa di akhir konferensi diisi dengan sesi tanya jawab. Manajer mereka Angga Nugraha Pratama melontarkan candaan pada saya. “Mana pertanyaan kritisnya dong?” celetuk lelaki yang akrab disapa Badil itu. Saya hanya tertawa. Mungkin Ia lupa kalau saat ini, kritis sering dianggap sebagai tindakan provokatif. Memang keadaan yang menyedihkan.

Menapak Konser

Minggu malam yang dingin dan hujan, saya bergegas ke auditorium IFI Bandung dengan jalan kaki, layaknya kaum urban panutan. Hampir tiba di lokasi, saya sedikit belok kiri untuk membeli rokok di sebuah mini market sebagai bekal. Setelah registrasi, saya disambut oleh prelude tanda konser baru dimulai. Tepat waktu dan beruntung. Konser mulai berbinar lewat lantunan elektronik khas HMGNC berjudul “Today and Forever”.

Suasana seakan melayang ditambah dengan aksi sedikit teatrikal dari sang penyanyi Amandia. Desal, mantan fiil in drumer HMGNC mengisi posisi di enam lagu pertama. Hal menarik terjadi saat Amandia mengajak penonton untuk latihan vokal. Dirinya membagi tiga bagian penonton yang masing-masing diberikan interupsi suara yang berbeda. Lagu “Buka Hati Buka Kembali” menghantarkan penonton untuk turut berkolaborasi.

DSC_0078

Risa Saraswati naik sebagai kolaborator pada lagu ke tujuh. Satu buah hit dari kantung album kedua Echoes Of The Universe bertajuk “Utopia” dibawanya. Teriakan penonton mengantar Risa sampai ke microphone di tengah panggung. Penonton seakan merindukan sosoknya mengisi formasi awal grup yang terbentuk tahun 2003 itu. Teriakan kecil bersahutan memanggil namanya.

Risa memang tampil berbeda seperti biasanya, mengenakan balutan sandang model hijab merah hitam terkini. “Tenang, saya akan joget untuk Homogenic,” teriaknya. HMGNC dan Risa kemudian membawakan repertoarYang Terpisah”, dan dua lagu di album pertama Epic Symphony yang saya lupa judulnya.

Amandia  kembali naik panggung, dia pun mempersilakan Ujang Rahman alias Gebeg untuk memainkan piranti drum. Teriakan penonton langsung terdengar ramai. Gebeg mengisi posisi andalannya selama ini. Ya, dia adalah penggebuk drum serba bisa dan memiliki banyak entitas bermusik di berbagai warna. Tembang “Radio” melantun di malam itu.

Sementara saya harus beranjak keluar demi rehat sejenak dan berbincang dengan rekan media lain yang baru datang. Tepat di depan wall of fame terdapat lapakan merchandise dari HMGNC termasuk rilisan CD album teranyarnya. Saya pun kembali masuk ke venue setelah menghabiskan tiga batang sigaret dan sebotol bir dingin.

Di dalam, saya mencoba menerobos ke tengah penonton dan mencoba merasakan emosi mereka. Belum sampai ke tengah, aroma alkohol kelas menengah menyeruap masuk ke hidung. Sepertinya vodka hahaha. Lagu “Takkan Berhenti di Sini” sedang dibawakan. Irama bernuansa trippy dengan dentuman khas Gebeg seakan kawin. Saya dan penonton diingatkan dengan satu film. Demi Ucok (2013). Lantas, Gebeg turun dari panggung setelah sang vokalis, Amandia berteriak, “Hatur nuhun, Beg!”.

Sang empunya hajat kembali melanjutkan sajiannya. “Delusional menjadi lagu kelima belas di konser ini, disusul lagu “Sedikit waktu”. Hal lain yang menjadi daya tarik yaitu penerangan yang berbinar tegas dan penuh warna. Terkesan lumayan halusinogen. Ah!

Hampir di penghujung konser. Penonton terlihat meresapi lagu “Kisah Kita”. Tak mau kalah, Amandia ikut sejiwa dengan lirik yang sendu. Seakan menaruh harapan di sana.

Don’t give up on us / don’t stop believing!

We can make it right

Amandia membawakan lagu sambil mengusap air mata. Terdengar pula percakapan singkat dari penonton yang berdiri di belakang Saya. “Baper gitu ya!” ucapnya. Mereka larut terbawa ke masa lalu lewat reuni singkat HMGNC.

Lagu pamungkas yang dibawakan hari itu adalah “Memories That Last A Dream”. Kolaborator sebelumnya (Desal dan Gebeg) kembali naik panggung untuk ikut meramaikan penutup konser HMGNC yang sayangnya terkesan kurang pecah. Mungkin trik encore sudah terlalu mainstream atau tertebak.

HMGNC mengganti sesi encore-nya dengan ucapan terimakasih yang tak cukup untuk mengobati birahi penonton yang tak kunjung terpenuhi. Sepertinya delapan belas lagu belum cukup. Konser pun selesai setelah HMGNC beserta kolaborator berfoto dengan penonton sebagai latarnya.

DSC_0091

Foto: Java Anggara*

*Kontributor

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)