Liga Musik Nasional X: Jilid “Satu Strip”, Hura-Hura Kompatriot Heavy Metal.

Oleh: Saputra Dimas

Ada hal yang kurang efektif ketika menonton heavy metal daun hijau tanpa secuil kerajinan tangan dalam bentuk lintingan sedikit pun. Setidaknya itulah yang dirasakan Bangsat Permanen pada malam Sabtu (2/9) kemarin. Otak di dalam tempurungnya lah yang kurang efektif . Dasar junkie.

Beberapa waktu lalu saya sempat ditugaskan melakukan sebuah interview bersama Dody Hamson (Komunal). Ia sempat berujar akan membuat konser di IFI sehabis lebaran. Ya, tentu saja tebakan saya tepat. Liga Musik Nasional.

Liga Musik Nasional, sebuah kolektif penggiat acara yang selalu mengedepankan kepuasan penonton yang hadir, kini telah menginjak jilid ke-sepuluh. Satu strip. Jarak yang lumayan jauh dari jilid sebelumnya yang bertajuk “Program Party Seringai”. Hampir satu tahun lebih.

Seperti biasanya, pertunjukan digelar di dalam auditorium IFI Bandung yang terletak di kawasan Purnawarman. Unit grindcore hits dan super norak, Terapi Urine, mendapat tongkat estafet sebagai penampil pertama.

Saya tiba di venue ketika jeda antara penampil satu dengan yang lainnya. Melewatkan suguhan parodi lawak pinggiran yang di balut disonansi grinding senapan mesin ala Terapi Urine. Bangsat. Saya ingin menyaksikan kolaborasi di lagu “Panggil Aku Masboi” bersama Doddy Hamson.

Satu-satunya hal yang saya tau, mereka mengenakan kostum montir bengkel seragam layaknya Slipknot dengan warna hijau norak. Dengan menjunjung tinggi etos kitsch nan estetik, Terapi Urine merilis sebuah album dengan tajuk “Petenteng” dalam format akun instagram beberapa minggu yang lalu. Ya, saya bilang instagram.

Adalah suatu hal yang menarik perhatian ketika Bangsat Permanen yang terlihat kebingungan di selasar dekat pintu masuk. Dari gesturnya yang gelisah sambil menenteng plastik hitam, lengkap dengan sedotan, saya bisa menebak jika malam ini ia kekurangan substansi kimia. Serakah.

Sudah minum banyak masih merasa kurang. Lupa diri. Lupa rusa. Hasrat mencekok diri sendiri termasuk kawan yang datang tak bisa diredam. Dasar keparat. Permanen. Saya merasa jadi korban.

Tak banyak meracau. Stimulasi tengik slora fauna mulai bekerja. Rusa makan anggur. Transformasi glukosa menjadi energi seluler. Respirasi anaerob. Etanol. Bedebah. Matanya terlihat sayu dibalik kacamata minus yang memantulkan cahaya pentas.

Menyeringai tajam pada Mooner yang sedang tampil, sebuah supergrup lokal yang tak lain merupakan kongsi antara Marshella Safira (Sarasvati), Absar (The Slave), Rekti (The Sigit), dan Tama (Sigmun).

Selain apotek resmi dan perseorangan, salah satu yang jadi favoritnya adalah A.K.A. Sebuah akronim dari Apotek Kali Asin. Musik rock purba. Mooner berhasil menarik perhatiannya. Namun, ia masih terus berharap akan ada keajaiban.

Ia menelan ludah, seraya Mooner memainkan “Serikat” dan “Gelar”. Sigaretnya tertinggal diluar. Mampus. Rasakan tengik dan asamnya flora fauna di dalam mulut yang tak pernah sekolah. Entah sudah berapa kali melirik ke arah Rickenbacker yang digunakan orang berambut panjang di atas panggung.

Peduli setan seri berapa yang dipakai. 4001 atau 4003? Otaknya disfungsi. Stimulasi audio visuali berlajut. Ia tersadar. Sialan, itu nomor milik The Slave. Bagaimana nasib komplotan rock linting itu? Entah. Pertanyaanya perlahan pudar ketika set ditutup dengan “Ingkar”.

Membuat jinak libido dan hasrat untuk senang-senang adalah tujuan utama Bangsat Permanen. Selain bahan masturbasi, ia butuh alat bantu sekunder. Sedikit suntikan di hidung. Beberapa miligram di bawah angka satu. Boleh lebih. Padat. Cair. Atau apa saja. Ia tak peduli. Untuk saat ini, menjadi tenang adalah hal mustahil. Terus berharap.

Jeda beberapa menit ia pakai untuk membuka ponsel. Satu-satunya lubang kancing yang bisa dipercaya telah dilahap trend hijrah. Cari lubang lain. Ia tetap ngotot. Sembrono. Resiko dilumat kebengisan coklat dan kroco-kroconya jadi nomor tiga. Nomor satu dan dua adalah Komunal dan senang-senang.

Hingar bingar terdengar dari luar. Sial, itu Komunal gumamnya dalam hati. Tak perlu pikir panjang, lupakan substansi, ini waktunya heavy metal. “Ilmu Tentang Racun” didaulat menjadi pembuka. Bajingan Permanen sontak lari ke barisan depan. Tak ada lagi rasa “masih kurang” dalam diri.

Bersenang-senang dengan musik adalah kesukaannya. Kover album GMP dengan ukuran raksasa yang jadi dekorasi terlihat gagah. Tapi album favoritnya adalah “Panorama”. Tunggu sampai repertoar selanjutnya dimainkan. “Demi Kau dan Semua Mati”. Ia kegirangan. Tukar keringat. Melompat ke kerumunan. Bayar nyawa dengan belati, takkan cukup puaskan hati.

Bajingan Permanen belum puas. Ia keluar dari auditorium. Diiringi “Hitam Semesta” yang sedang dimainkan. Nomor yang jarang dibawakan secara live. Joe (Terapi Urine) ikut kolaborasi naik panggung. Bermain gitar. Sial.

Flora dan fauna membuat kepalanya berat. Bukan pilihan tepat. Kawannya datang dari arah pelataran parkir, membawa pesanan. Juru selamat. Untuk malam ini Bajingan Permanen boleh masturbasi. Harapannya sejak tadi dapat terpenuhi. Senang-senang, sampai mampus sekalipun. Ia mulai menenggak ganda sekaligus. Satu miligram. Anak setan.

“Higher Than Montain II” dari album kedua dimainkan secara full band. Lagi-lagi sebuah momen jarang. Bajingan Permanen boleh tenang kali ini. Sampai pada beberapa repertoar selanjutnya ia terus baris di depan. Mulai berani kurang ajar. Lepas kontrol. Naik pentas merebut mikrofon yang digenggam sosok Doddy Hamson yang telanjang dada. Lalu lompat ke kerumunan.

Bersama penonton lain yang tak kalah kurang ajar, ia berfikir jika malam ini adalah miliknya. Saya pun merasa begitu, malam ini adalah miliknya dan kerumunan orang disekitarnya. Tak ada hal yang lebih epik ketika “Dalam Kerinduan” dibawakan dua kali. Ini Heavy Metal. Yang kedua menjadi encore, sekaligus menutup penampilan Komunal.

Huru-hara. Hura-hura. Semuanya selesai. Batang hidungnya tak lagi terlihat. Bangsat Permanen. Saya pun duduk di di pinggiran bekas area moshpit, tiba-tiba Masdod menyapa. Ia baru keluar dari belakang panggung. Ucapan terima kasih keluar dari mulutnya, “Wah, Dimas! Terima kasih sudah datang, apa kabar?”

Jabat tangan. Mengobrol. Saya menanyakan perihal album baru Komunal. “Sabar aja, belum dapet waktu buat produksi,” ujarnya sambil tertawa. “Semoga bisa cepat-cepat.”

Itu memang sebuah keharusan. Tapi, semenjak sempat merasakan macam-macam kendala sebuah produksi album…ah sialan, baiklah. Sabar. Kemudian datang para bajingan yang tadi ikut pesta. Minta legalisir rilisan. Saya memilih beranjak untuk menyapa yang lain.

Sebelum meninggalkan venue, tujuan selanjutnya adalah toilet. Sepi. Tak ada orang. Bajingan Permanen yang tadi sempat menghilang terlihat lagi. Saya mencoba mendekati cermin. Sialan. Terpaksa meyakini jika hal itu memang benar.

Saya masih ingat wajah planga-plongo satu miligramnya. Dasar anak setan. Saya tak peduli. Yang penting, kali ini Liga Musik Nasional berhasil “menang” lagi. Telak.

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)