Mahidhara 2017: Gemuruh di Tengah Kota yang Padat

Oleh: Aldi Faturahman

Sabtu (26/8) cuaca cerah di Kota Bandung dihimpit kebisingan oleh salah satu Pentas Seni (Pensi) yang diadakan oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Bakti. Sayang, cuaca yang bagus pada hari itu seolah timpang dengan kondisi jalanan yang macet dari Jalan Suci. Kami sempat menyusuri gang-gang kecil untuk menghindari macet yang diakibatkan oleh Karnaval Kemerdekaan. Sial, kemacetan merayap hingga di depan SOR Taruna Bakti, Jl. Surapati No.155, ditambah lagi dengan biaya parkir yang terbilang mahal.

Sesampainya di tempat, kami diantar oleh Liaison Officer (LO) menuju venue pensi tersebut. Terdengar dentuman musik dari band Fourtwenty. Sang vokalis, Ari Lesmana, sedang melantunkan lagu andalan mereka Fana Merah Jambu, dengan tarian khasnya.

Waktu menjukan pukul 17.40, kami berkeliling Venue acara bertajuk Mahidhara itu, sembari menunggu penampil selanjutnya naik panggung. ‘Bergengsi ’ mungkin kata yang pas untuk menggambarkan Acara tersebut. Selain dari guest star yang edan untuk seukuran Pensi, stage yang yang besar dan sound yang  memadadai, namun terdengar noise beberapa kali. Di tambah dengan hadirin yang didominasi Siswa SMA dengan tampilan kekinian dari brand-brand mahal saat ini, membuat kami berasa tua.

Selepas break maghrib,giliran Hotma “Meng” Roni Simamora dkk untuk menghibur penonton. Lagu berjudul The Prophecy membuka penampilan apik mereka. Riuh penonton bergemuruh selepas lagu tersebut. “Sementara, sementara,” ujar hadirin di barisan depan. Namun Float tetap pada set list yang telah di tetntukan. ‘3 Hari Untuk Selamanya’ menjadi lagu kedua yang mereka bawakan. Hadirin dan hadirot pun hanya bertepuk tangan tanpa bernyanyi. Hingga lagu ketiga sampai kelima dari mereka masih belum bisa membuat semarak penonton membuncah.

_MG_9833

Float

Sang vokalis pun berujar “Pulang dulu yah, habis itu Sementara,”. Float pun membawakan lagu berjudul Pulang yang menjadi salah satu lagu andalan mereka. Beberapa penonton yang sempat pasif ikut menyanyikan lagu tersebut. Dahaga penton pun terpuaskan, ‘Sementara’ yang di dambakan penonton pun hadir. Diawali dari petikan gitar akustik Meng, Float memberikan satu sampai dua bait untuk dinyanyikan penonton, sampai bagian reff pun penyimak bernyanyi bersama sang penghibur. Aksi Float ditutup dengan Lagu ‘IHI’ dan mengakhiri pertemuan mereka dimalam yang dingin itu.

Pada perempat akhir Lagu ‘IHI’, terlihat sekumpulan gadis belia seperti memakai jas hujan berbaris di depan panggung. Barisan gadis tersebut berjalan menaiki panggung setelah Float meninggalkan arenanya. Dengan membuka ‘jas hujannya’ para gadis itu  berlenggak lenggok di atas panggung layaknya model dalam perhelatan Fashion Show. Memang benar Fashion Show menjadi jembatan antara Float dengan penampil selanjutnya, Kunokini. Cukup bagi kami untuk menyegarkan mata sesaat.

Maaf saya hanya bisa menceritakan sedikit tentang Kunokini, karena band tersebut asing bagi kami, begitu juga dengan penonton yang tampak pasif menyaksikan penampilan mereka. Meskipun musik yang disuguhkan cukup unik, dengan sentuhan reggae, musik tradisonal, dan EDM yang sedang di gemari muda-mudi zaman sekarang. Tampaknya si vokalis yang atraktif belum bisa membuat seluruh hadirin berjoget ria, sisanya hanya mengobrol dan berduduk sila di lapang berumput hijau tersebut.

Sesuai dengan rundown acara, penampil selanjutnya adalah Polka Wars yang berkolaborasi dengan Sore. Kami sangat antusias menantikan penampilan Band kidal asal Jakarta tersebut. Para penonton pun memprediksi bahwa Sore akan langsung menaiki panggung, ternyata penampilan mereka dibuat bertahap. Polka Wars yang bermain terlebih dahulu, dengan dua buah lagu bertajuk Obese Elves, dan Seek yang merupakan lagu teranyar mereka.

Tahap selanjutnya adalah datangnya dua personil Sore Yaitu Ade Firza dan Reza Dwi. Bersama Polka mereka membawakan tembang berjudul Mokele dan Terangkum yang dua-duanya milik Polka Wars. Pada tahap akhir seluruh personil Sore berada dalam stage. Membawakan Bogor Biru, Preman dan Ssst.

_MG_0022

Sore

Kolaborasi yang aman-aman saja, ketika Polka Wars dan Sore membawakan lagu dari Polka, hanya sentuhan vokal dari Ade saja yang jadi pembeda. Begitu pula sebaliknya Polka Wars belum menjadi pembeda di lagu Sore malam itu.

Hajatan pun berlanjut, kali ini giliran grup musik yang ditunggu-tunggu siapa lagi kalau bukan band yang beranggotakan David, Jarwo, Emil dan Pepeng. Riuh suara teriakan penonton yang didominasi kaum hawa, tampak wajar mengingat ketenaran band tersebut. Singkat cerita, Naif pun menaiki paggung. “Mau lagu apa?,” teriak David kepada penonton. “Kita simpen dulu aja lagunya buat minggu depan,” lanjutnya menanggapi request dari penyimak.

Naif
                                                                                                                          Naif

Lagu romantis berjudul Piknik ’72 menjadi pembuka, dilanjutkan dengan tembang dari album Titik Cerah ‘Jikalau’ dan ‘Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat’ membuat penonton bernyanyi. Senang bersamamu menjadi lagu berikutnya, ciamik penampilan Naif. Sound yang baik membuat mereka menikmati pesta malam itu bersama para hadirin. “Kita kasih dulu Rock N Roll malam ini yah,” ucap David mengawali lagu Televisi.

Lagu-lagu mellow mereka seperti, Karena Kamu Cuma Satu, Dimana Aku Disini, dan Benci Untuk Mencinta pun turut dibawakan. Di pertengahan pertunjukan seorang penonton wanita berteriak “Mobil Balap, Mobil Balap,” dengan sangat keras. Beruntung sang wanita tersebut, Mobil Balap menjadi lagu penutup penampilan band yang bergaya old skull malam itu setelah lagu Air dan Api yang di medley dengan Aku Rela, menjadi kado manis dari Naif untuk penonton.

Foto: Muhammad Dzikri

Septian Nugraha

Mencari uang dengan menulis sepakbola dan bersenang-senang dengan menulis musik.