Melihat Langsung Radiohead di Lollapalooza Berlin 2016

Oleh: Shahnaz Soehartono*

Bagi saya, menonton sebuah pertunjukan musik adalah bagian dari pengalaman dalam hidup yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Mengenal sebuah band hampir 20 tahun dan betul-betul tenggelam dalam musiknya sejak masih duduk di bangku SMP, membuat saya nekat untuk mengejar Radiohead sampai ke belahan dunia lain pada tahun 2016 kemarin.

Meski tak pernah menyukai Eropa saat musim panas, tapi saya pikir tidak jadi masalah asal bisa menonton Thom Yorke, Johnny Greenwood, Ed O’Brien, Colin Greenwood dan Phil Selway secara langsung.

Lollapalooza berlangsung selama dua hari, dan Radiohead menjadi penampilan pamungkas di hari kedua. Saya belum pernah mengalami excitement seperti yang dirasakan pada hari itu (kecuali pada hari pernikahan saya) dan kami bergegas ke venue acara di siang hari, karena takut tidak mendapat standing spot yang cukup untuk memandangi band pengubah hidup saya itu.

Ketika tiba di lokasi, yang saya takutkan terjadi dan kami harus berdesakan dengan begitu banyak orang sebelum Radiohead memulai pertunjukan. Kami menunggu hampir 3 jam sebelum Thom cs memulai lagu pertama. Tetapi it was all worth it. Perjalanan saya ke Berlin rasanya terbayarkan ketika mereka memasuki panggung dan mulai memainkan instrumennya masing-masing.

Dibuka dengan single andalan mereka dari album a Moon Shaped Pool, saya tidak percaya saat Radiohead berada di depan mata dan memainkan “Burn The Witch” yang membuat semua penonton bersorak gembira. Selama satu setengah jam pertama, mereka membawakan hampir semua nomor andalan dari era keemasan mereka yakni OK Computer hingga a Moon Shaped Pool, diakhiri dengan satu single jagoan yang juga menjadi lagu favorit saya dari album The Bends, yaitu “Street Spirit”.

Selama itu pula, saya hampir tidak berkedip menikmati pertunjukkan minimalis dari Band idola saya. Tanpa kehebohan lighting atau backdrop yang biasanya menjadi penentu atmosfer sebuah pertunjukan, Radiohead mampu membius penonton hanya dengan musik mereka. Selama jalannya konser, Thom Yorke sebagai frontman tidak banyak berkomunikasi dengan audiens, hanya beberapa kali menggoda Ed dan Johnny yang kemudian diberikan tepukan riuh oleh para penonton.

Encore pertama dibuka oleh “Let Down” dan diakhiri dengan “Weird Fishes/Arpeggi”. Saya sempat merasakan kesedihan luar biasa ketika mereka meninggalkan panggung dan menggantungkan rasa hanya dengan “Weird Fishes/Arpeggi”. Namun sesuai dengan ekspektasi, belakangan sebelum perjalanan ke Berlin, saya berulang kali menonton pertunjukkan mereka di Youtube dan sempat menjadi headline beberapa situs berita musik bahwa Radiohead sudah nyaman untuk membawakan beberapa lagu mereka terdahulu yang sempat tidak mereka bawakan selama 7 tahun terakhir.

“Creep” yang berasal dari album pertama Radiohead, Pablo Honey, menjadi pembuka encore keduanya pada malam itu. Hampir semua penonton yang berasal dari berbagai negara Eropa mengeluarkan gadget mereka masing-masing untuk mengabadikan lagu yang membuat mereka meledak di tahun 1992 itu.

I was so emotional when the concert was over. Saya merasakan kesenangan luar biasa, namun juga kesedihan karena usai sudah penantian saya untuk menonton Radiohead sepanjang hidup saya dan entah kapan bisa menonton mereka secara langsung seperti malam itu. Tetapi pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan, karena tidak hanya performance Radiohead yang membuat saya kagum, tetapi juga waktu 3 jam yang saya habiskan bersama dengan fans fanatik Radiohead dari seluruh penjuru Eropa.

Kami berbagi tempat duduk, berbicara satu sama lain, bahkan sebagian berbagi rokok dan bertukar referensi mengenai musik yang disukai. Hal ini menjadi pengalaman baru untuk saya dan merupakan kesenangan tersendiri untuk terus bertualang ke berbagai festival musik dunia. Meskipun cuaca Berlin di bulan September sangat terik dan kering, tetapi jika saya bisa membalikkan waktu, maka sudah dipastikan bahwa saya akan hadir 1000 kali di tempat itu untuk kembali menonton Radiohead dan menghabiskan waktu bersama sesama fans.

*Penulis adalah model, penyiar, presenter dan salah satu pembawa berita ternama asal Indonesia. Saat ini, ia memandu program Indonesia Morning Show di NET. 

Foto: Wall Street Journal & Dokumentasi Instagram @shahnaz_soe

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)