Piknik Senja: House Of The Rising (Or Hiding?) Sun

Kolaborasi terbaik adalah Minggu dengan cuaca yang cerah sejak pagi harinya, jam menunjukan pukul 12 siang, masih cerah, Gish yang dilanjut Siamese Dream konsisten berputar sejak beberapa jam lalu, entah sudah berapa kali saya mengelilingi kepala botaknya Billy Corgan dari pagi, setelah beberapa hari sebelumnya greatest hits Bob Dylan selalu berputar di PC yang berumur hampir satu dekade, saya sepertinya rindu pada empat album awal Smashing Pumpkins dan tentu saja repertoar klasik milik Dylan. Bagi saya kata ‘nostalgia’ tidak bermakna apa-apa, saya hanya sedang ingin ditemani playlist saat masih duduk di bangku SMP sampai awal masuk SMA, ada benarnya jika dibilang saya sedang melankolis dan murung akhir-akhir ini. Sama seperti cuaca di sore harinya, matahari bersembunyi dibalik awan mendung dan gerimis yang plin-plan.

Memang sudah ada rencana untuk pergi ke sebuah gigs bertajuk Piknik Senja yang awalnya akan digelar pada Minggu (22/1) di Bukit Bintang, Dago. Pemilihan tempat dan suguhan musik yang menarik, mulai dari proyek solo Haikal Azizi dengan moniker Bin Idris-nya, Alvin & I yang digawangi Alvin Baskoro, dan juga Parahyena. Ketiganya baru saja merilis album debutnya pada kuartal akhir tahun lalu, dengan musik yang tak jauh benang merahnya, folk. Tak lupa ada Anomalyst, Rahasia Viktor, dan Letare yang akan tampil juga. Dulu sempat beredar gosip hamparan tanah berumput itu jadi ajang tempat mesum muda-mudi, belum lagi fakta adanya pungutan tidak resmi alias liar (entah resmi atau tidak, saya lebih suka menyimpulkan-nya tidak resmi) oleh warga sekitar untuk masuk kesana. Anjing memang. Tapi beberapa hari sebelumnya ada kabar jika venue dipindah ke Bumi Sangkuriang.

Saya sampai di venue bersama seorang kawan wanita, sebut saja dia ‘indie bitch’ karena rela menjemput dan memberi tumpangan kepada bajingan bau kencur ini, saya melewati penampilan dari Alvin & I begitu juga Parahyena dan yang lainnya karena gegabah berangkat di jam-jam rawan macet. Hanya tinggal Bin Idris yang belum tampil, kebetulan baru kali ini saya lihat penampilan live-nya, baiklah, pria yang kerap disapa Pak Ustad oleh para jemaah Al-Freudiyah nya itu mulai naik ke stage yang sederhana dengan gitar kopongnya.

Membuka penampilan dengan “Dalam Wangi” yang terdengar seperti lagu religi, tak lupa favorit saya, “Tulang dan Besi” yang bluesy dan “Jalan Bebas Hambatan” yang mengingatkan saya saat berkendara melewati tol dalam kota bersama teman untuk menghindari ‘coklat berjalan karena kami akan menjemput substansi. Jika diperbolehkan, saya akan mengganti lirik bagian akhirnya jadi seperti ini: “Baca Bismillah, Alhamdulillah….tidak tertangkap”, semoga kalian tidak mengerti maksud saya. Bin Idris juga sempat membawakan cover version salah satu nomor milik The White Stripes dan sebuah repertoar folk yang  pernah dibawakan oleh Dylan, tidak asing di telinga, walaupun cuaca mendung dan gerimis, tentu saja itu adalah “House Of The Rising Sun”, dibawakan dengan gaya vokal milik Haikal yang sangat khas.

Sebenarnya tidak ada kendala teknis yang terlalu berarti, hanya cuaca yang tidak bisa diajak kooperatif kali ini (sepertinya akan selalu begitu) dan gitar yang tiba-tiba mati, namun bisa dengan cepat diatasi. Pengunjung yang hadir pun terlihat menikmati dan yang penting tidak banyak yang sibuk memotret dengan smartphone-nya, saya selalu benci hal itu. Oh iya, ini baru permulaan atau pre-event untuk sebuah main event lebih besar yang akan digelar dalam waktu dekat, semoga acara utama yang digelar Focal Point nanti akan memuaskan crowd yang hadir.

 

Teks: Saputra Dimas

Foto: Karel

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)