Stars and Rabbit Asia Tour 2017: Puncak Tur yang Biasa Saja

Tampaknya, musik bagus, aksi panggung enerjik dan instalasi panggung ciamik tak cukup untuk membuat sebuah konser musik menjadi berkesan bagi penonton. Ada hal lebih yang harus dilakukan oleh musisi dan grupnya, terlebih bagi mereka yang telah mengunjungi satu pertiga negara di dunia untuk mengenalkan musiknya.

Malam itu, Minggu, 14 Mei 2017, Jakarta menjadi kota yang dikunjungi oleh Elda Suryani dan Adi Widodo yang tergabung dalam Stars and Rabbit, sebuah unit imaginary pop asal Yogyakarta. Sayangnya, Stars and Rabbit malam itu tak cukup membuat kami, tim Surnalisme yang hadir merasakan kesan membuncah. Mereka hadir dengan maksud menutup rangkaian Stars and Rabbit Asia Tour 2017, di mana sebelumnya Elda dan Adi telah berhasil melewati Tokyo, Hanoi, Palembang dan Kuala Lumpur. Apabila dalam rangkaian tur Constellation, Elda dan Adi memilih Jaya Pub sebagai lokasi puncak tur mereka, kini sebuah studio di bekas hanggar daerah Jakarta Selatan mereka tunjuk, yakni Lemon Studio.

Dari sekian banyak lokasi pertunjukan musik yang dimiliki Jakarta, entah mengapa Stars and Rabbit memilih Lemon Studio. Tempat yang menjorok ke dalam, cukup menyulitkan beberapa orang untuk mencari lokasinya. Mengingat Jalan Gatot Subroto dilalui oleh jalur tol dalam kota, maka apabila lokasi terlewat cukup membuat kepala pusing untuk mencari jalur putar kembali. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya penerangan dari mulai keluar jalan utama hingga ke lokasi pertunjukan. Satu-satunya penerangan yang menjadi petunjuk adalah lampu dari tenda pedagang yang berjualan di depan lokasi Studio Lemon.

Beruntung, pihak penyelenggara tidak menambah catatan buruk dari penyelenggaraan Stars and Rabbit Asia Tour 2017 di Jakarta dengan membuka gerbang pintu masuk ke venue pukul delapan malam tepat, sesuai jadwal yang tertera di poster. Orang-orang yang sejak pukul tujuh malam berkerumun di gelap sekitar, akhirnya berpindah ke dalam venue menikmati cahaya. Ukuran studio yang tak terlalu besar namun cukup untuk menggelar konser skala kecil tersebut, bernuansa hitam di sekelilingnya.

***

Seluruh dinding dibalut kain hitam, tiang-tiang atapnya melintang jadi tempat lampu-lampu panggung digantungkan; benar-benar seperti sebuah studio. Sedangkan di atas panggung berukuran empat kali enam meter sebuah instalasi berbentuk mata bayi tampak mencuri perhatian penonton. Setidaknya, keberadaaan embel-embel tersebut di atas panggung mempercepat penggunaan kamera ponsel penonton untuk melakukan swafoto sembari menunggu kehadiran Elda dan Adi.

Sekitar pukul delapan lewat dua puluh menit kemudian, Adi ditemani Alam Segara pemain bass, Andi Irfanto penabuh drum serta Vicky Unggul yang bertugas menjaga bebunyian keys, terlebih dahulu muncul di atas panggung dan diiringi tepuk tangan penonton. Tanpa basa-basi, Adi memainkan gitarnya memulai intro, sebelum akhirnya Elda yang mengenakan busana biru bertelanjang kaki (tentu saja) menaiki panggung dan memulai lagu pertama “I’ll Go Along”, salah satu nomor dari album Constellation.

Lagu pertama berhasil dibawakan tanpa ada kendala. Suara yang keluar cukup baik meski di awal, keluaran suara gitar Adi cukup tajam. Usai “I’ll Go Along”, Stars and Rabbit sedikit memelankan tempo dengan membawakan “Catch Me” yang berirama reggae. Ia sukses membuat penonton menggoyangkan badan di tempat, bahkan beberapa warga negara asing tampak menggoyangkan badannya dengan energi berlebihan; membuat Elda dan Adi sempat tercuri perhatiannya. Keduanya di atas panggung tampak mengulum senyum melihat aksi warga negara asing tersebut.

Ada kurang lebih dua belas lagu yang dibawakan Stars and Rabbit. “Kindred Soul” sebagai lagu teranyar, turut menggema pada malam itu. Seperti yang sudah-sudah, “Man Upon the Hill” kemudian dipilih menjadi nomor pamungkas aksinya. Bisa dikatakan, penampilan mereka jauh dari kata memuaskan. Pasalnya, untuk sebuah rangkaian tur dan konser, ia tak jauh berbeda dengan panggung-panggung yang digelar. Jika pun mesti disebut, penampilan mereka di Gudang Sarinah bersama Bottlesmoker atau saat konser di IFI Bandung jauh lebih baik dari sekarang ini.

Memang, Elda tetap enerjik dengan tarian-tarian janggal nan menggemaskan serta Adi yang jarang berbicara di atas panggung namun tetap mengesankan. Tapi dengan setlist yang monoton serta minim kreativitas, aksi Stars and Rabbit tak mampu menjadi suguhan segar yang ditawarkan kepada penonton. Satu-satunya usaha mereka berekplorasi malam itu yakni ketika Rizky dari Kimokal naik ke panggung untuk turut ambil bagian menyumbang bebunyian di departemen synthesizer/keys pada salah satu lagu di daftar setlist.

***

Tak jelas, faktor apa yang menyebabkan performa mereka kurang maksimal, entah kelelahan atau bosan. Yang jelas, seharusnya Stars and Rabbit bisa tampil lebih menjanjikan. Salah seorang pengunjung, Nila Kusumasari mengatakan meski secara keseluruhan ia menikmati penampilan yang intim tersebut merasa Stars and Rabbit malam itu tak menyajikan aksi terbaiknya.

“Kayak ada something yang seharusnya bisa lebih maksimal lagi. Kekuatan magis yang biasanya muncul dari mereka, kali ini kurang keluar maksimal,” ujar Nila kepada Surnalisme, usai acara.

Penampilan Stars and Rabbit di Jakarta dalam rangkaian Asia Tour 2017, menjadi catatan bagi Elda dan Adi untuk kembali meningkatkan daya jelajah kreativitasnya. Tak lupa, pengingat agar mereka tak letih menyusuri kembali gang-gang sempit di kepala masing-masing demi menemukan sesuatu yang baru, yang dapat ditawarkan kepada pengunjung di atas panggung agar aura magis tersebut kembali hadir. Tentu kita semua tahu, menolak berinovasi berarti mati.

Foto: Instagram Stars and Rabbit

Iksal R. Harizal

Bercita-cita memiliki rumah dan ladang untuk berkebun di pegunungan, ditemani wanita yang pandai memasak nasi goreng.