Synchronize Fest 2017: di Haribaan Musik dan Botol-botol Anggur

Beberapa waktu lalu, Surnal pernah mengadakan penghitungan suara singkat menggunakan Instagram Stories. Kami bertanya tentang sebuah pilihan yang biasanya sulit ditunjuk oleh beberapa kalangan: musik atau anggur.

Berangkat dari sana, ditemukan hasil bahwa 60% partisipan lebih memilih anggur daripada musik. Dengan demikian, kami berhasil menemukan fakta bahwa sebagian besar pengikut media sosial Surnal adalah pemabuk yang menyukai musik.

Mengapa tiba-tiba Surnal mengadakan polling? Selain iseng belaka hendak menjajal fitur baru Instagram Stories layaknya selebritas dunia maya, kami terpelatuk dengan bagaimana formula musik dan sebotol anggur dapat membentuk keriaan bernama Synchronize Fest 2017.

Sejauh mata memandang

Jauh sebelum perhelatannya digelar selama tiga hari pada 6-8 Oktober lalu, Synchronize Fest 2017 telah membuka lapak konferensi pers sejak pertengahan tahun ini. Pihak panitia menggembar-gemborkan soal tempat, konsep, hingga penampil yang membuat saya penasaran.

Menunggu beberapa bulan, festival musik ini kemudian digelar. Resminya, berdasarkan penghitungan saya dalam brosur petunjuk, terdapat 103 musikus yang hadir mengisi lima panggung berbeda; Forest Stage, Dynamic Stage, Lake Stage, Gigs Stage, dan District Stage.

Setiap panggung memiliki tipikalnya tersendiri dengan penampil yang berbeda. Tidak jelas spesifikasinya apa, namun saya selalu tertarik dengan Gigs Stage. Di tengah hamparan Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat yang begitu luas, ada ruangan kecil dengan skema interior menyerupai pub-pub minim ventilasi, penerang berdaya rendah, marak tempelan brosur-brosur konser dan coretan di tembok yang biasanya diisi oleh penampil segmentasi musik bawah tanah.

IMG_9158 (Copy)Bukan bermaksud untuk terburu-buru, namun saya menganggap bahwa penampilan ratusan musikus di atas panggung cukup memuaskan dan tak ada yang mesti disalahkan. Dua gadis asal Pamulang, Tangerang Selatan bernama Larasati Dewi dan Arum Dwi Astari, mengamini saya.

“Synchronize tahun ini lebih meriah dan gencar, mungkin lebih detail persiapannya. Pengunjung lebih gampang untuk menikmati semuanya,” kata gadis pertama, Laras, membandingkan dengan tahun lalu.

Disusul dengan sahabatnya, Arum. Ia hanya meminta satu hal, yakni pembaharuan daftar penampil yang mestinya lebih kentara dibanding Synchronize Fest 2016 kemarin.

“Sudah oke sih, mungkin line-up-nya bisa lebih dikembangkan lagi karena banyak yang sama seperti tahun lalu,” ujar Arum, kemudian dia meninggalkan saya entah ke mana.

Melawat sajian non-musik

Berpisah dengan gadis-gadis tersebut, saya lalu berusaha mencermati suguhan lain di luar aksi panggung. Konser, festival, atau perhelatan mana yang tidak menyediakan sosis bakar? Sebenarnya, siapa tren di balik penyebaran daging-daging tersebut? Synchronize juga ada.

Kuliner-kulinernya beragam dan tampak enak, meski saya bertahan dengan nasi kotak selundupan dari ruang media dan bergelas-gelas mie instan seduh. Dari departemen kudapan, saya larikan diri ke arena pemutaran film.

Synchronize Fest 2017, turut berkolaborasi dengan Kinosaurus dalam hal penyediaanIMG_20171008_192506 lapak tontonan film seperti Kuldesak, Badai Pasti Berlalu, Janji Joni, dan lain-lain. Kata Alexander Matius, Film Programmer, program ini merupakan percampuran budaya antara musik dan film.

“Toh, satu bidang kesenian itu pada dasarnya enggak eksklusif banget. Film, musik, dan teater bisa saling kerja sama di atas panggung, berbaur, lalu berinteraksi agar bisa memperkenalkan mediumnya masing-masing,” kata dia.

Pindah ke lain tempat, saya lalu menyambangi lapak penjualan pernak-pernik musik. Perbincangan lantas terjadi antar diri ini dengan Miko Andrean, biasa dipanggil Mikoasis, penggemar berat Gallagher bersaudara serta genre pop dataran Britania Raya sana yang punya bisnis rilisan fisik.

“Saya memulai semua ini sejak tahun 2011. Awalnya koleksi, tapi yang sekarang sudah barang dagangan. Genre rilisan yang saya jual sekarang ada jazz, pop, dan rock,” tutur Miko, lalu menunjukkan jualannya yakni piringan hitam hingga kaset pita kepada saya dan pewarta lain.IMG_20171007_172330_1

Sudah puas mengelilingi ragam wahana, kini saatnya menikmati sajian musik. Tunggu sebentar, saya enggan melewatkan lapak resmi anggur dan sejenisnya.

Senyum Jokowi karena citra

Pertemuan pertama kali saya dengan Joko Widodo, Presiden kita semua, adalah saat menyambangi We The Fest! 2017 kemarin. Saat itu, dia lebih mudah diajak berbicara dan mendapatkan pengawalan yang tak terlalu keras sehingga penonton dapat akrab dengannya.

Kini, dia datang berdua dengan Kepala Bekraf Triawan Munaf dan mendapat penjagaan yang  lebih posesif dari pengawal-pengawal bergaji entah berapa tersebut. Walau sulit, saya mampu berbincang lagi perihal beberapa topik soal musik dan genre metal yang dia suka.

“Deadsquad dan metal zaman sekarang agak berbeda ya. Anak muda sekali, ada gerak-gerak kepalanya juga,” kata presiden. Saya jadi meragukan kegemarannya akan metal sekaligus bingung; apa betul, headbang baru ada belakangan ini? Saya memastikan diri dengan menonton ulang beberapa dokumenter musik metal dekade 1980-an sambil membuat transkrip wawancara. Ternyata salah, headbang sudah eksis sejak dahulu. Jadi, ada apa antara presiden dan musik yang katanya kesukaan dia? Pembangunan persona semata? Kalian yang jawab.

IMG_8975 (Copy)Jokowi kembali berbicara. Kali ini adalah omongan yang saya tunggu-tunggu: menyebutkan grup musik metal yang ia gemari.

“Kalau saya, metalnya lebih suka metal yang lama ya. (Seperti) Guns N’ Roses, Lamb of God, gitu,” kata Jokowi. Oke.

Tak pelak, presiden mengungkapkan bahwa Synchronize Fest 2017 mendapat apresiasi dari dirinya karena mampu menjadi wadah buat penampil lokal beraksi. Merasa potongan omongannya hampir sama dengan pertemuan saat di WTF! kemarin, saya pilih untuk tidak berada di sisi kanannya dan berbaur bersama penonton untuk menikmati musik.

Senyum penonton karena anggur

Merujuk pada polling saya jelaskan pada pembuka tulisan, Synchronize Fest 2017 diketahui memiliki kerja sama dengan produk minuman alkohol sarat kearifan lokal yang bisa disebut-sebut kala scenester-scenester bergumul. Setor sana setor sini, ia bagai signature scene yang terus terngiang di otak saya: pemandangan pegiat musik yang saling mengumpan lambung gelas demi gelas.

Sedikit berjalan, terdengar tawa. Beberapa meter kemudian, ada lagi. Terus saja, sampai saya menyadari bahwa mereka berjalan seiringan dengan sebotol plastik anggur. Hampir seluruh kerabat yang saya kenal, tak luput dari tenggakan alkohol ramah masyarakat.IMG_8917 (Copy)

Pemandangan itu terbilang jarang ada di konser-konser. Minuman yang biasanya ditenggak habis sebelum masuk area festival, kini berkeliaran bebas di dalam dengan penyesuaian nominal. Tebakan saya, setidaknya ada 1 dari seluruh hadirin yang menggerutu agar harga anggur di Synchronize Fest tahun depan sedikit banyak dapat sentuhan elaborasi (baca: turun).

Kemudian semuanya terbiasa dengan ragam sajian musik dan menerima dirinya hanyut oleh ratusan penampil yang tak kalah memabukkan. Mulai dari barisan akustik, pop-pop penghias layar televisi, sampai metal penuh angkara murka, mereka ada di Synhcronize Fest 2017.

***

Apa yang kurang dari sini? Berdasarkan perbincangan kami dengan beberapa penonton, mereka mengeluhkan jadwal yang terlalu dempet hingga adanya satu dua pergantian penampil nan tak terduga. Lalu dengan rentang waktu sedari siang sampai dini hari, penampil-penampil yang main pertama agaknya kesepian penonton.

Namun singkat cerita, Synchronize Fest 2017 mengalami kemajuan berarti dibandingkan sebelumnya. Ada upaya pembangunan konsep lebih matang yang jelas terlihat; bentuk kedewasaan dari waktu ke waktu.

Sampai di kemudian hari, kita semua merekam pengalaman pribadi hasil tangkapan panca indera terkait kegilaan-kegilaan yang pernah terjadi. Secara subyektif, mungkin Synchronize Fest 2017 bisa jadi salah satu kegilaan yang terabadikan dalam benak.

IMG_9347 (Copy)..Kecuali buat seorang penonton pascapenampilan Naif yang tergeletak menolak sadar di sebelah pagar FOH, dan satu lagi yang muntah-muntah lantas tak berdaya usai Slank beraksi.

Penasaran dengan momen menonton Synchronize Fest 2017 Surnalisme? Simak gambar-gambar dalam tubuh tulisan serta media sosial Instagram kami.

Foto: Indra M. Suhyar

Bobby Agung Prasetyo

Kontributor. Merujuk pada tipe indikator a la Myers-Briggs yang banyak orang bilang palsu, Bobby Agung Prasetyo memiliki jenis kepribadian INFJ. Mengimani profesi sebagai seorang jurnalis, pengajar, dan sedikit-sedikit meneliti.