Warpaint Live in Jakarta: Malam Sempurna dari Kuartet Berusia 13

If we’re not excited, there’s something wrong here,” ujar salah satu perempuan diantara empat. Entah siapa yang berbicara, Emily atau Jenny, yang pasti di antara kedua orang ini. Ia memberi jawaban ini setelah sebuah pertanyaan tak spektakuler, mengenai antusiasme atas konser yang berlangsung pada malam harinya, diujarkan. Jawaban normatif/aman untuk pertanyaan standar. Tapi bisa saja mereka yang menamakan kolektifnya Warpaint benar-benar bergairah karena faktanya 17 Februari itu adalah panggung ketiga mereka di 2017, serta yang pertama setelah berusia 13 tiga hari sebelumnya, juga yang perdana di Indonesia setelah nyaris terjadi di 2011.

Jika yang terjadi perihal antusiasme berbalik dan pentas ini hanya dianggap sebagai sebuah konser yang biasa bagi mereka, beberapa orang tak menganggapnya demikian, penulis salah satunya. Bisa menyaksikan Warpaint secara langsung membuatnya menjadi seorang bocah empat tahun yang mendapat sepeda roda tiga pertamanya. Dengan kata lain, sangat bahagia.

Entah sengaja atau kebetulan, Wire It Up! selaku promotor memberi tiga hindangan pembuka dengan komposisi yang seimbang. Terdiri dari grup musik yang biasa saja, cukup bagus dan luar biasa bagus. Tebak di mana septet yang terdiri dari Trou, Diocreatura dan Kimokal ini berada. Yang pasti penulis hanya menyaksikan aksi Kimo Rizky dan Kalula, melewatkan dua aksi sebelumnya tanpa penyesalan.

warpaint1Sekitar pukul 21.30, kuartet yang menjadi alasan ratusan orang berkumpul di Parkir Selatan Senayan naik ke atas panggung. Membuka dengan intro yang dilanjutkan dengan “Keep It Healthy”. Dari kejauhan, nona Theresa terlihat mengenakan pakaian yang sama sejak pertemuan pers di pagi harinya: kaus Alienware dengan plaid skirt dan kaus kaki panjang. Perbedaan hanya ada pada Fender Mustang yang kali ini ia gantungkan.  “Terima kasih!” ucap band ini setelah mukadimah dan lagu pertama secara resmi selesai dibawakan.

Kemudian, mereka melanjutkan dengan “Heads Up” yang tak menghasilkan riuh begitu hebat. Lagu tersebut memang bukan yang terbaik dari album terbaru mereka dengan judul yang sama. Repertoar dilanjutkan ke “Krimson” sebelum akhirnya mengantarkan spektator ke “Undertow” dari The Fool. Salah satu lagu dan album terbaik dari kuartet bentukan California ini. Ketika nomor tersebut dibawakan secara langsung, reverb dari vokal yang dihasilkan jauh lebih melenakan dari versi rekaman.

Walau penulis melihat penampilan tepat dari depan F.O.H yang jaraknya lumayan jauh, hal itu tak bisa menyembunyikan ekspresi kepanasan Stella Mozgawa di beberapa kesempatan setelah membawakan lagu. Dari pagi, wajahnya memang terlihat memerah, khas warga negara asing yang tak biasa dengan suhu di ibukota negara dunia ketiga ini. Tapi hal itu tak membuatnya bermain melenceng. Ketukan yang rapat dan sesekali tak terduga tetap ditampilkan dengan prima.

Setelah dua lagu yang membawa penonton ke era awal septet ini mulai dikenal, mereka kembali ke 2016 dan membawakan “No Way Out” dan “The Stall”, sebelum melanjutkan dengan sesi terbaik di konser yang bagus: pertunjukan langsung atas rentetan lagu paling unggul dari katalog Warpaint. “Beetles” dengan dinamika yang menyenangkan menjadi pembuka, “Whiteout” mengikuti setelahnya.

“Bagus, bagus, bagus!” ujar Emily, dengan suara yang dibuat tinggi dan terdengar lucu. Mengingatkan akan racauan para bayi yang populer di media sosial. Dalam penampilan kala itu, kuartet ini memang tak banyak berbicara, namun sekalinya terjadi, ratusan mulut tertawa. Setelah itu, mereka langsung membuat hadirin bersorak karena kala itu “Elephants” mendapat gilirannya. Apalagi “Love Is to Die” yang menjadi lanjutannya.

Teriakan lebih keras muncul saat salah satu lagu yang bisa diselundupkan di perpustakaan  musik populer top 40 dibawakan, “New Song” judulnya. Di lagu ini tak sedikit penonton yang membantu Emily bernyanyi.  Mereka yang mengangkat gawai untuk merekam lebih banyak lagi (tentu saja). Bahkan salah satu penonton terlihat menggunakan fitur Instagram Live Stories, melakukan pekerjaan mulia dengan membagikan konser itu ke seluruh pengikutnya di jagat Instagram. Tapi bisa saja ia sekadar ingin memamerkan kegiatannya di media sosial sekaligus menganggu penonton lain dengan acungan gawainya. Semua hal memang bisa dilihat baik-buruknya. Entah ia ada di sisi yang mana.

Pada kesempatan kali itu juga,  satu celah kecil muncul karena Theresa Wayman khilaf menekan satu not. Tapi hal itu tidak menganggu impresivitas Warpaint dan segala hal besar yang mengiringnya. Lagipula penonton bukan lah konduktor perfeksionis yang siap memberi cambuk jika suatu kesalahan minor terdengar. Bisa menyaksikan Warpaint dengan tata suara yang menunjang saja kami sudah bahagia. Tata visual tak perlu disebut karena sisi itu tampil biasa saja.

“This is the last song,” ujar Theresa. Tentu saja banyak orang tidak percaya. Entah sejak kapan encore bukan lagi barang yang mengejutkan, “Disco//Very” pun dibawakan. Sedikit rasa khawatir muncul karena Warpaint’s evergreen rata-rata sudah dilantunkan. Bisa saja mereka tak akan naik lagi ke atas panggung, walau kemungkinannya kecil.

Dan benar saja, layaknya berbagai kecemasan yang ada dalam hidup, hal itu muncul atas suatu alasan yang tak perlu karena Theresa Wayman, Jenny Lee, Emily Kokal dan Stella Mozgawa kembali ke atas pentas dan benar-benar menuntaskannya dengan   “So Good” dan “Bees”. Saya sulit menilai konser itu dengan adil karena saat itu sedang menjadi bocah empat tahun yang mendapatkan sepeda pertamanya. Saya terlalu bahagia.

 

Teks: Rayan Rushdi

Foto: Wire It Up

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)