We The Fest 2017: dari Jokowi sampai Muda-mudi Penuh Gairah

Perhelatan musik berskala internasional, We The Fest (WTF), kembali diadakan pada 11-Agustus 2017 kemarin di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Sesuai dengan data yang dipaparkan pada konferensi pers, ia kali ini menghadirkan 26 penampil luar dan 44 asal Tanah Air.

Musim panas memang tidak terjadi di Indonesia, bila pengertiannya merujuk pada empat cuaca di luar daerah tropis. Oleh karenanya, festival ini dirancang sedemikian rupa berdasarkan segmentasi penikmat musik lintas negara. WTF 2017 mengusung tema “A Summer Festival of Music, Arts, Fashion and Food.

Hari pertama dimulai, Jumat, 11 Agustus 2017, saya telah berada di venue. Panggung dibagi tiga dengan nama “WTF! Stage,” “This Stage Is Bananas,” dan “Another Stage.” Masing-masing punya kategori dan peruntukannya sendiri, tergantung minat penonton. Untung, jarak ketiganya masih logis.

Hadirin didominasi oleh muda-mudi dengan tampilan yang betapa “indie darling” sekali. Lewat gaya kekinian dan amat summer vibes betul, saya seperti berada di dunia situs Pinterest.

Mereka semua menikmati acara dengan ragam genre musik tersajikan. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, peta venue disusun secara strategis lewat jarak yang terjangkau, sehingga memudahkan akses dari satu tempat ke tempat lain. Mujurnya lagi, WTF 2017 hadir dengan cuaca cerah dan tidak hujan seperti tahun sebelumnya.

Satu yang juga berskala internasional di sini adalah harga—selain tiket. Pembelian makanan, minuman serta pernak-pernik lainnya, dilakukan dengan memindai ID berbentuk gelang. Untuk melakukan top-up, pengunjung diharuskan antre di loket dengan menebus Rp30 ribu per satu token. Minimal pembelian minum baik itu air mineral, berasa, atau soda, dipatok 1 token.

Setelah sibuk mencermati keadaan sekitar, termasuk para indie darling, saya mencoba fokus dengan keberlangsungan acara secara teknis. Keragaman musik ini begitu indah dan berjalan seiringan, semoga segala macam perbedaan di Indonesia bisa seperti itu.

Menonton Konser Bersama Jokowi

Ada banyak sekali pilihan musikus yang dapat dilihat di WTF 2017. Terkhusus buat hari pertama, nama besar seperti Charli XCX, Kodaline dan The Kooks menjadi incaran mayoritas penonton. Hal yang sama pun terjadi pada saya.

Sebelum menyimak ketiga nama di atas, ada baiknya perhatian ditaruh terlebih dahulu pada yang lokal. Aksi The SIGIT di WTF! Stage ditonton sedikit massa, padahal penampilannya baik-baik saja. Sejumlah faktor seperti jadwal tampil, sedikit banyak mempengaruhi hal ini.

IMG_20170811_202018_HDRDari sekian banyak sajian musik, saya menyempatkan diri menuju Another Stage untuk melihat solois yang tengah naik daun belakangan ini, Jason Ranti. Ia memainkan lagu-lagu dari album semata wayangnya, Akibat Pergaulan Blues (2017).

Manusia ini jenius, jenaka dan aneh di waktu yang bersamaan; pantas kalau penikmat musik berbondong-bondong menyukainya. Terkadang, Jason seperti canggung ditatap penonton WTF 2017 yang teramat indie darling.

“Selamat malam. Semoga berkah, iman semakin tebal, tetek semakin besar,” kata Jason, orangnya memang begitu. Dari “Stephanie Anak Senie,” “Suci Maksimal,” “Bahaya Komunis,” “Variasi Pink” hingga yang tak terdapat di Akibat Pergaulan Bebas macam “Kafir” dan “Lagunya Begini, Nadanya Begitu,” ia bawakan.

Jason menutup penampilan lewat tembang “Doa Sejuta Umat” sambil mendedikasikannya buat Fidelis Arie Sudewarto, pria asal Sanggau, Kalimantan Barat yang menanam ganja demi mengobati istrinya, Yeni Riawati dari penyakit langka syringomyelia. Sang istri telah meninggal dunia dan Fidelis divonis bui selama 8 bulan serta denda Rp1 miliar subsider satu bulan penjara.

Puas mendengar racauan Jason Ranti, kini saya bergegas menuju panggung utama yakni WTF! Stage untuk menyaksikan Charli XCX. Baru satu dua lagu berjalan, tiba-tiba ada kerumunan mencurigakan tepat di belakang. Ah, Presiden Indonesia Joko Widodo!

Tanpa tedeng aling-aling, saya menghampiri Jokowi. Beberapa pertanyaan singkat pun dilontarkan, begini isinya:

B: Datang ke sini bersama siapa dan tujuannya apa?

J: Ya saya pengin melihat tren saja, kalau saya kan sukanya metal. Tapi tadi saya lihat Shura, ya bagus lah.

B: Ada yang pengin ditonton?

J: Saya mau lihat dulu, sampai seberapa jauh.

B: Ada rencana undang band metal?

J: Saya mau lihat-lihat dulu. Ini pertama kalinya saya ke sini.

Seperti biasa, raut wajah orang nomor satu seolah menyimpan banyak pikiran. Mengurus Indonesia memang tak semudah bermain game PC Civilization, sehingga saya mewajari hal itu.

IMG_20170811_211817_HDRAda banyak pertanyaan yang ingin saya ajukan pada Jokowi, mulai dari ranah musik sampai yang lain-lain. Terlebih, beberapa jam sebelum sesi wawancara ini, saya mendengar kabar tentang kematian saksi kunci kasus korupsi E-KTP di Amerika Serikat, Johannes Marliem. Apa daya, sempitnya waktu membuat tanya jawab jadi terbatas.

Jokowi masih menonton dari VIB, semacam area eksklusif setara VIP. Dari panitia sampai Kodaline, mereka menyempatkan waktu untuk mengucapkan sepatah dua patah kata padanya.

“Senang sekali atas kehadiran Bapak Presiden Joko Widodo,” kata vokalis Kodaline, Steve Garrigan. Tak lama setelah itu, Jokowi dikabarkan meninggalkan JIExpo Kemayoran.

IMG_20170812_003143_HDRHari pertama WTF 2017 berlangsung penuh kejutan, apa lagi kalau bukan karena Jokowi. Para jurnalis sibuk mendahulukan berita tentang kehadirannya tersebut, sampai suasana mereda. Setelah Kodaline, giliran The Kooks yang menunjukkan taji.

“Terima kasih banyak. Kami The Kooks, kami akan membawakan lagu lama dan yang baru,” kata vokalis cum gitaris, Luke Pritchard. Ah, sungguh nostalgia yang manis dengan kehadiran band asal Brighton, Inggris ini. Mereka memainkan tembang-tembang khasnya seperti “Seaside,” She Moves In Her On Way,” hingga “Naive.”

Akhir Pekan nan Eksklusif di Kemayoran

Hari kedua WTF 2017 tampak  lebih ramai dari sebelumnya. Ini terjadi karena 12 Agustus 2017 adalah hari Sabtu, sehingga nuansa akhir pekan sambil menonton konser adalah kehakikian tersendiri buat insan musik.

Dari segenap penampil yang disajikan, saya sederhanakan ceritanya dalam fragmen yang singkat, padat, namun belum tentu jelas. Bukan, bukan karena kebanyakan mengonsumi asupan penggedor stamina dicampur alkohol murah seperti penulis musik lain yang terlalu dalam menyembah Hunter S. Thompson, tapi jadwal yang beririsan tipis membuat diri ini tak kuasa bolak-balik dari panggung sana ke panggung sini.

Hari kedua WTF 2017, musikus yang saya tonton adalah The Hydrants x Silampukau, Mondo Gascaro, Potret, Epik High dan Phoenix. Sayang, saya mesti melewatkan The Panturas, grup musik surf rock yang pernah masuk pada rubrik Potensial Surnal.

IMG_20170812_195343Setelah meyaksikan beberapa band, saya lantas menyoroti Epik High, trio hip-hop asal Korea Selatan. Aksinya enerjik, berlarian dari sisi ke sisi, dibarengi animo audiens yang kian meninggi. “Tablo! Tablo! Tablo!” Teriak penonton, saat ia bercerita tentang pengalamannya tinggal di Indonesia. Saya mengenal beberapa lagunya seperti “Eyes Nose Lips” dan “RICH”.

Saya masuk ke area VIB untuk menonton unit pop asal Prancis, Phoenix. Tempatnya eksklusif dengan setiap lounge berisi kursi dan meja. Tiket untuk berada di tempat ini jelas mahal, sila lihat di situs resmi wethefest.com.

Phoenix seperti sambil menyelam minum air saat konser di WTF, seolah turut mempromosikan album barunya bertajuk Ti Amo. Atau jangan-jangan, ini adalah rangkaian #TiAmoTour? Sementara itu, saya menikmati kualitas suara dan aksinya dari lagu ke lagu.

IMG_20170812_224509_HDRPenampilan Phoenix begitu membius, vokalis Thomas Mars sampai harus turun dari panggung dan bergumul dengan penonton. Yang jelas, beberapa panitia tampak repot menjulurkan kabel microphone mengikuti ke mana Mars menuju.

Saya tidak menghadiri hari ketiga WTF 2017 karena satu dan dua hal. Tapi, ketika mengamati timeline media sosial, Dua Lipa menjadi trending topic. Ia adalah penyanyi sekaligus model asal London, Inggris. Muda, beda, tapi semoga tidak berbahaya.

***

Secara teknis, WTF 2017 hadir sesuai ekspektasi: aroma festival musik di musim panas, penampilan mulus tanpa kecacatan teknis, dengan kegembiraan yang memancar dari muda-muda penuh gairah ini. Perihal tiket, makanan, minuman, serta pernak-pernik lain berdasarkan nominal harga, itu semua kembali pada penyelenggara. Bila segmentasi pasarnya tertuju pada masyarakat ekonomi menengah ke atas, maka hal di atas bukanlah suatu masalah.

We The Fest 2017 rampung dilaksanakan. Masih ada dua nama besar lain yang mengantre, seperti Soundrenaline dan Synchronize. Dengan kesuksesan dalam setiap acara, tentu hal ini dapat mengangkat martabat industri musik Indonesia di kancah internasional.

Ya, asal harga tiket terjangkau dan tak bikin pemilik dompet tipis meratapi nasibnya.

Bobby Agung Prasetyo

Kontributor. Merujuk pada tipe indikator a la Myers-Briggs yang banyak orang bilang palsu, Bobby Agung Prasetyo memiliki jenis kepribadian INFJ. Mengimani profesi sebagai seorang jurnalis, pengajar, dan sedikit-sedikit meneliti.