Gunblasting: Tentang Musikalitas dan Gebrakan Album Perdana

Lampu halogen menyala begitu terangnya, berpadu padan dengan deru distorsi yang cukup gahar. Orang-orang saling sikut dan menubrukan diri satu sama lain. Sebuah pemandangan yang terlihat seperti keributan, namun tentu saja bukan. Mereka, kawanan liar tersebut, tengah memberi respon positif terhadap dentuman musik hasil racikan sebuah band yang menjadi salah satu line-up di hajatan rutin Riverside crew, Riverside Fest VIII, pada Minggu, 25 Januari silam. Perkenalkan, mereka bernama Gunblasting. Pada penampilannya tersebut, grup tersebut membawakan tiga nomor berjudul “Poor Living is Not a Curse”, “Starved Have Their Own Charm”, dan “Luminal Lullaby” yang sudah pasti menjadi alasan atas memadatnya crowd di lantai dansa.

Band dengan formasi Syafri (vokal), Pranadipa (gitar), Gegy (gitar),  Aping (bass), dan Sony (drum) ini, terbentuk di akhir tahun 2009. Gegy dan Aping adalah dua orang yang memprakarsai pembentukannya. Pada awalnya, mereka mengacu pada musik rock macam Maylene & The Sons Disaster. Namun, gitaris Pranadipa yang mendominasi pembuatan materi lagu, sepertinya memiliki referensi berbeda dalam bermusik sehingga menciptakan aransemen yang terbilang jauh dari ekspektasi di awal.

Sialnya (atau baiknya), Sony sebagai drumer memiliki sifat yang dianggap buruk oleh personil lainnya setiap proses recording berlangsung. Misalnya saja saat perekaman materi EP pertama South Side From the East di tahun 2010. Tiba-tiba, Sony menambahkan beberapa ketukan drum yang belum disepakati sebelumnya dan hal itu berimbas pada perombakan ulang materi-materi lagu yang sudah kepalang dibuat.

Hal tersebut juga terjadi di perekaman nomor-nomor pada EP kedua Protagonist pada tahun 2012. Sony rupanya adalah sesosok pribadi yang senang bereksperimen, namun tidak pada waktu yang tepat. Kendati demikian, hal tersebut pada akhirnya hanya dianggap lucu oleh personil lain. Karena mau bagaimana pun juga, sifat tersebut telah membawa Gunblasting pada tingkat musikalitas seperti sekarang ini.

Dalam pengkategorian musik, rupanya mereka lebih setuju bila disebut sebagai rock. Dalam hal ini, mereka berujar bahwa Gunblasting tidak mau terjebak oleh pagar yang diciptakan sendiri hingga memilih istilah rock dalam pendefinisian musik karena pada kenyataannya, mulai dari sentuhan mathcore, chaotic-metal, noisecore, sampai progressive-hardcore, nyatanya sangat kentara dalam jati dirinya. Para personil Gunblasting  juga mengaku terinspirasi oleh banyak musisi dari genre musik yang beragam seperti Havok, Maylene & The Sons Disaster, Norma Jean, Slipknot, Every Time I Die, hingga Kla Project. Untuk yang disebutkan terakhir tadi, itu merupakan inspirasi Syafri dalam bernyanyi (menurut penuturannya sendiri).

Tahun 2016 ini merupakan tahun bersejarah bagi sekawanan Gunblasting. Pasalnya, album pertama mereka berjudul Memoar yang terdiri dari kompilasi materi dari dua EP mereka sebelumnya ditambah nomor baru, akan segera dirilis oleh Wasted Rocker Records. Kerja sama diantara keduanya dimulai pada saat penggarapan EP Protagonis. Awalnya Syafri meminta tolong pada Wasted Rocker Records untuk membantu mempromosikan EP tersebut. Alih-alih begitu, pihak Wasted Rocker Records bahkan tertarik untuk membuatkan Gunblasting sebuah album perdana.

poster-coming-soon-gunblasting-memoar
Sumber: https://wrrecordings.wordpress.com/tag/gunblasting/

Lewat album pertamanya ini, Gunblasting akan bercerita tentang banyak hal, mulai dari Devadasi dari India hingga permasalahan insomnia. Nama Memoar sendiri dipakai karena para personil Gunblasting merasa bahwa terlepas dari pendapat orang nanti, album tersebut akan tetap menjadi semacam pengingat bagi mereka bahwa Gunblasting pernah menciptakan sejarahnya sendiri lewat album tersebut. Proses penggodokan materi sendiri menghabiskan waktu hampir 6 bulan lamanya. Saat ditanya perihal itu, mereka mengatakan bahwa Gunblasting ingin serius dalam menggarap materi-materi pada album ‘Memoar’ ini.

Setelah materi rampung, kendala juga datang pada saat pembuatan artwork untuk cover Memoar. Pada awalnya, proses pengerjaan dilakukan oleh pihak Wasted Rocker Records. Namun karena dirasa kurang pas, Gunblasting akhirnya menyerahkan pengerjaan gambar sampul album tersebut kepada seorang teman bernama Topan Akbar, dan dalam pembuatan font untuk credit album, mereka meminta bantuan kepada seorang rekan bernama Ricky “Musang” untuk mengerjakannya. Selain itu, pada salah satu lagu di album terbarunya nanti, akan ada Andre Tiranda (Siksakubur) yang mengisi suara gitar.

Selain pemaparan diatas, dibawah ini saya sertakan juga teaser album ‘Memoar’ dan satu materi lagu lama mereka yang telah di publish oleh Wasted Rocker Records. Penasaran dengan hasil albumnya? Mari kita tetap sabar dalam menanti.

 

Contact:

PN: +6281214571118

Twitter: @Gunblastingfaxx

Reverbnation: gunblastingstonerrock

Instagram: Gunblasting

Email: Gunblatingfaxx@gmail.com

 

Foto: Gunblasting

Rizki Firmansyah

sarat misteri dan penuh gairah. sedang belajar menulis di surnalisme.com