Mabuk Circarama dan Musikalitas Khas Sigmun Freud

Oleh: Hasbi Ilman Hakim*

Tidak, tidak habis-habis Jakarta yang gemerlap itu dalam menampung “hasrat bermusik” setiap manusia. Dari ranah populer hingga alternatif barang tentu disikat. Maka karenanya, tak heran bila kita melihat begitu banyak persekongkolan musik yang melangkah cepat; tak terkecuali Circarama, komplotan Psychedelic Rock yang tempo hari masuk dalam kompilasi digital Hard Rock International Hotel and Casinos.

“Awalnya dari surat elektronik,” mereka mulai berceloteh. “Kemudian mereka minta lagunya yang berjudul ‘Sweet Shining’ untuk dijadikan playlist perwakilan dari Indonesia.”

Bertajuk Sound of You Stay, lagu “Sweet Shining” bersanding dengan sembilan tembang band lainnya dari delapan negara berbeda. Melalui rilisan persnya, disebutkan bahwa mereka bisa memamerkan single terbaru kepada pengunjung hotel serta kasino milik Hard Rock yang berada di berbagai negara. Pengunjung nantinya berhak mendapatkan kode mengunduh lagu yang tertera pada kartu akses hotel.

“Awalnya ragu soalnya (gak tahu) apa ini beneran atau bercanda. Pas kami coba-coba ngobrol sama talent recruiter-nya lewat e-mail, akhirnya kami kirim demo lalu sudah ada di website,” ungkap Jugo, dikutip dari Rollingstone.

Merumuskan komplotan psikedelia

Band ini digawangi oleh vokalis sekaligus gitaris Jugo Djarot, lengkap dengan backing vocal plus lead guitar Faiz Mochammad, pembetot bass Teuku Rifaldi, dan penabuh drum Eki Yuda. Konon, nama Circarama sendiri diambil dari beberapa pilihan, dan artinya adalah “Cinema 360 derajat”, berharap nama tersebut luas dan tidak terpaku kepada sudut pandang tertentu.

All you need is The Beatles!” Seru mereka. Membentuk Circarama, rasa-rasanya tidak perlu muluk untuk membingkainya menjadi suatu yang khas. Ditanya tentang pengaruh, mereka mengakui bahwa racikan utamanya adalah The Beatles. “Kita juga suka Pink Floyd, Blind Faith, Traffic, Lunar Dunes, The Kinks, banyak deh pokoknya.”

Selain itu pengaruh dari musisi idola, mereka juga mendapatkan inspirasi ketika membayangkan situasi dan adegan tertentu ketika proses pembuatan lagu berlangsung. “Tapi kadang lagu muncul tiba-tiba pas lagi latihan, misalnya kalo anak-anak nemu nada dan licks yang enak di gitar, langsung kita ulik bareng,” ungkap mereka. “Tapi inspirasi utamanya tetep datang dari bunyi-bunyi yang pernah kita dengar dan suka.”

Circarama sendiri dahulu pernah memainkan garage rock, namun berujung memilih arus psikedelia, karena setiap personil memiliki kesamaan rasa suka terhadap genre terkait. Hal tersebut terjadi secara alamiah karena banyak mendengarkan musik di aliran psikedelik.

Musikalitas Alam Bawah Sadar

Musik memang sangat spiritual; ia mampu menerobos dan mengonstruksi ulang alam bawah sadar secara tidak langsung. Seperti yang telah diakui Circarama, bahwa sumber musikalitasnya kebanyakan berasal dari alam bawah sadar.

“Memang sudah di bawah pengaruh sadar kita,” tukas mereka. “Kita pun sebenarnya gak memberi patokan atas musik yang kita mainkan. Namun psikedelik memiliki eksplorasi musiknya luas. Kami berusaha membuat musik yang jujur dari hati, dan mungkin psikedelik adalah salah satu detak jantung kami.”

Hal tersebut menjadi petanda bahwa terdapat pengaruh-pengaruh khusus dari alam bawah sadar ini. Bila mengikuti pernyataan Sigmun Freud, ia berpendapat bahwa alam bawah sadar kaya akan pikiran dan emosi terpendam. Sewaktu-waktu dapat mengekspresikan diri dalam bentuk slips of tongue dan halusinasi. (Herlin, 2008)

Apalagi dalam metafora “gunung es”-nya Freud, yang menurutnya, alam bawah sadar merupakan gudang-gudang konflik terpendam dan mempengaruhi perilaku individu. Musikalitas juga memiliki peran dalam menciptakan “konflik” dan kenangan, sehingga mampu memberi andil besar bagi seseorang untuk melakukan sesuatu; salah satunya adalah komplotan psikedelia, Circarama, dalam menciptakan dua single “Sweet Shining” dan “Empty Room.”

Berkarya, sebar!

Disinggung mengenai “Sweet Shining” dan “Empty Room” yang telah mereka cipta, mereka mengatakan bahwa setiap lagu ada “maksud” yang ingin disampaikan, namun sesuai dengan vibe musik. “Sweet Shining” meditatif tentang meditasi, sedangkan “Empty Room” hanyalah imajinatif belaka. “Berhubung otak manusia berbeda, silahkan tafsirkan sendiri. Sambil ‘ngapain’ pun terserah. Tugas kita cuma nulis lagu.”

Dalam hal distribusi pun, mereka mempercayakan rilisan fisik mereka kepada label yang telah memiliki jalur sendiri. Contohnya seperti kaset Limustaqarrin Laha EP yang bekerja sama dengan label independen ibukota, Helat Tubruk dan Nanaba Records.

Limustaqarrin Laha sendiri diambil dari Bahasa Arab yang memiliki arti perjalanan atau peredaran sesuatu menuju tempat dan waktu yang ditentukan; menuju tempat matahari beristirahat dan tak bergerak. Filosofi tersebut dianggap sesuai dengan tema album Circarama, yakni matahari dan bulan.

“Mungkin nanti akan rilis single, rilis LP pertama kita, bikin album religi, main di festival internasional,” mereka berharap. “Juga kita selalu bermimpi untuk menjadi best poketrainer, seperti Ash!”

Soundcloud: https://soundcloud.com/circarama

Twitter: https://twitter.com/circarama

Facebook: https://www.facebook.com/circarama64

Foto: sixxpax.co

*Penulis terdampar di salah satu fakultas Unisba, dan aktif pula menggerutu di media Suara Mahasiswa. Kadang-kadang meracau pula melalui komik di @islamincomic dan @hasbenisme.

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)