Mengenal City Pop ala Ikkubaru Lebih Dalam

Tulisan saya kali ini ada kaitannya dengan gelaran An intimacy Vol. 12 kemarin, tapi tentu saja takan ada lagi pembahasan soal keberlangsungan acaranya. Sekarang, saya tertarik untuk mewartakan pengalaman saat berbincang dengan para personil Ikkubaru, kuartet city pop asal Bandung yang menjadi salah satu penampil pada saat itu.

Waktu itu, mereka didaulat sebagai band penampil ketiga. Irama Jazz, pop, soul, retro-disco, dan funk yang berpadu padan pada musiknya, menjadikan Ikkubaru cukup menarik untuk disimak. Ditambah lagi, dengan informasi yang saya dapat saat menonton pertunjukan mereka, ternyata nama mereka sudah harum di Jepang sana. Entah karena kurang wawasan atau kurang pergaulan, saya bahkan baru mengetahui eksistensi mereka.

Atas dasar tersebut, sepertinya ada baiknya untuk mengobrol panjang lebar dalam rangka berkenalan lebih jauh dengan mereka. Setelah mendapatkan informasi yang cukup (dari zine An Intimacy), saya menyambangi mereka di area back stage. Saat itu mereka sedang makan dengan lahap, bagai menyiratkan sebuah pepatah: “habis manggung, terbitlah lapar”. Manusiawi.

Terdiri dari Muhammad Iqbal (vokal, keyboard, gitar), Rizki Firdaus (vokal, gitar), Muhammad Fauzi Rahman (bass), dan Banon Gilang (drums), di bawah ini merupakan hasil  obrolan saya dengan mereka:

Saya: seperti yang kita tahu, album pertama kalian ‘Amusement Park’ dirilis di Jepang pada tahun 2014. Kenapa kalian tidak memulai merilis album pertama di Indonesia terlebih dahulu?

Ikkubaru: ini karena mimpi kami yang tinggi. Kami ingin sekali bisa go international, seperti Mocca contohnya. Kebetulan juga, kami suka sekali dengan kebudayaan Jepang, maka saat kesempatannya sudah ada, kami tidak bisa menyia-nyiakannya.

Saya: bisa diceritakan mengenai latar belakang album itu bisa di rilis di Jepang?

Ikkubaru: pada saat itu kami baru saja menyelesaikan proses recording single pertama kita berjudul “Heart House”, lalu, ada seorang teman yang suka terhadap single tersebut, hingga kemudian dia iseng meng-uploadnya ke salah satu situs berbagi musik. Beberapa hari kemudian, teman kami itu menghubungi Iqbal bahwa ada orang Jepang yang menyukai lagu kami. Iqbal kemudian meng-follow up orang tersebut hingga berujung pada sebuah jalinan pertemanan. Dia mengatakan bahwa akan mensupport Ikkubaru dari Jepang. Lama kelamaan, dia malah bertindak seperti menjadi manager kita untuk di Jepang. Akhirnya, dia membuat sebuah record label bernama Hope Your Smile Records, dan merilis album pertama kita. Padahal, orang jepang tersebut tidak memiliki sejarah berbisnis musik sebelumnya. Ini adalah kali pertamanya.

Saya: dipertengahan show kalian tadi, kalian mengatakan akan segera merilis EP di Jepang pada bulan Desember ini. Kenapa lagi-lagi merilisnya di Jepang?

Ikkubaru: syukurnya, album ‘Amusement Park’ mendapat respon yang baik di Jepang sana. Maka dari itu, kami semua sepakat untuk menjajal Jepang terlebih dahulu sebelum fokus di Indonesia.

Saya: apa ada cerita menarik yang bisa dibagikan saat menjalani tour dalam rangka mempromosikan album Amusement Park di Jepang kemarin?

Ikkubaru: kemarin kita tur di empat kota yaitu Fukuoka, Kobe, Osaka, Dan Tokyo. Pengalaman paling berkesan menurut kami adalah saat bermain di Fukuoka. Waktu itu, kami sudah beres membawakan lagu terakhir, tapi para penonton meminta kami untuk terus bermain. Mereka terus berteriak “we want more” dan bertepuk tangan. Akhirnya, kami membawakan tiga lagu lagi, setelah beres membawakan sepuluh lagu. Itu merupakan pengalaman encore pertama kami, dan yang membuat senang adalah itu terjadi di Jepang.

Saya: karena Ikkubaru sudah merasakan panggung Jepang dan melihat secara langsung antusias masyarakat di sana, menurut kalian, apakah musisi Indonesia lainnya punya kesempatan yang besar pula untuk berkarir di sana?

Ikkubaru: tentu saja, selama musisi itu memiliki tekad kuat dan mau menjalankan usaha yang keras. Setahu kami, masyarakat Jepang sangat apresiatif dan memiliki antusiasme tinggi terhadap seni.

Saya: apa perbedaan yang kentara antara show di Jepang dan Indonesia?

Ikkubaru: yang pasti, perbedaan paling terasa adalah dalam hal berkomunikasi. Sebelum tur Jepang dimulai, Iqbal sebenarnya sudah menyempatkan waktu untuk mengambil les bahasa Jepang. Tapi tetap saja, saat Iqbal mencoba berkomunikasi pada penonton dengan memakai bahasa Jepang, dia masih ditertawakan oleh penonton. Padahal Iqbal hanya mengeluarkan kalimat sapaan biasa.

Saya: adakah kendala yang terjadi saat tur Jepang berlangsung?

Ikkubaru: kendala datang dari pihak EO penyelenggara tur kami. Awalnya kami dijanjikan akan dbelikan tiket pesawat untuk keberangkatan ke Jepang, tapi pada akhirnya, mereka menyuruh kami untuk memakai uang pribadi terlebih dahulu dan akan langsung diganti sesampainya di Jepang. Nyatanya, Uang kami  baru diganti dua bulan pasca tur berakhir.

Saya: kalian mendefinisikan musik Ikkubaru seperti apa? Siapa musisi yang paling mempengaruhi musik kalian?

Ikkubaru: kami mendefinisikan musik Ikkubaru sebagai city-pop. Musisi yang paling mempengaruhi musik kami adalah seorang legenda Jepang bernama Tatsuro Yamashita.

Saya: setelah An Antimacy vol. 12 ini, kapan dan dimana agenda show terdekat kalian?

Ikkubaru: belum ada

Saya: kalau untuk agenda tur ke luar negeri lagi? Apa ada rencana?

Ikkubaru: semoga saja setelah EP di Jepang sudah di rilis, kita bisa mengadakan tur di Jepang lagi. Sebenarnya kami juga menaruh harap untuk bisa melangsungkan tur ke negara-negara lain, khususnya di Indonesia. Tapi permasalahan di Indonesia adalah, sedikitnya gigs yang mau memfasiitasi musik seperti kami, dan mungkin, itu lah sebabnya kami masih sulit untuk bisa berkembang di Indonesia.

Saya: apa ada rencana untuk merilis album ‘Amusement Park’ di Indonesia?

Ikkubaru: semoga saja di bulan-bulan awal 2016, hal itu bisa direalisasikan.

Contact:

PN: +6281322247724

Twitter: @Ikkubaru

Soundcloud: http://www.soundcloud.com/ikkubaru

Foto: Ikkubaru

Rizki Firmansyah

sarat misteri dan penuh gairah. sedang belajar menulis di surnalisme.com