The Panturas: Surf Rock dari Jatinangor

Oleh: Edgar Nurhakim

Dick Dale, dengan Stratocaster andalan yang ia mainkan, akan membuat siapapun tak bisa berhenti untuk menari mengikuti teknik picking yang cepat dengan paduan scale middle eastern serta mexican. Sungguh sajian yang tepat untuk menghabiskan akhir pekan di pesisir selatan California pada dekade 60-an.

Genre surf rock berkembang dari daerah pesisir pantai, meski hal itu bisa ditentang oleh The Panturas; yang mana, secara geografis, mereka berada di dataran tinggi. Berasal dari kawasan Jatinangor, timur Kota Bandung, mereka siap membawa kita menikmati buaian pantai, mereka memainkan sihir-sihir surf rock yang mereka serap dari pendahulunya semacam The Ventures, Beach Boys, La Luz, Guantanamo Baywatch dan lainnya.

Di Indonesia sendiri, genre surf rock masih belum ramai, sebut saja Southern Beach Terror, Beer Tubes dan beberapa lainnya yang mungkin sama-sama kita lewatkan. Scene musik Bandung memang bisa menerima jenis musik apapun di tengah suburnya folk dan metal, termasuk The Panturas melalui kepercayaan diri yang mereka tunjukkan melalui single “Fisherman’s Slut.”

Siang itu di Jatinangor, saya dan Bobby berkesempatan untuk mewawancarai The Panturas seusai mereka latihan. Beranggotakan Abyan Zaki (vokal gitar), Rizal Taufik (gitar), Cecep Herdiana (bass), Abduu Al Aziz (keyboard) dan Surya Fikri Asshidiq (drum), simak perbincangan santai kami di bawah ini.

Awal mula terbentuknya The Panturas?

Surya : Sebenarnya saya sudah ngeband dengan Rizal dan Cecep ketika SMA, namun tidak terlalu serius. Waktu itu kebetulan saya lagi suka banget The Beach Boys pas pertama kali nonton video konsernya, juga dengerin Miserlou yang jadi soundtracknya Pulp Fiction, nah kaya gini nih musiknya. Menarik juga bawain surf rock, di Bandung juga jarang soalnya. Kemudian ngajak temen yang lainnya, Aziz pun masuk, masih teman satu permainan di Tanjung Sari. Awalnya instrumental aja, lalu nyari vokalis dan masuklah Abyan. Dia keren sih pas denger di soundcloud-nya, nge-cover Jimi Hendrix sama Oasis dengan gaya permainan gitarnya yang bossanova tapi vokal yang agak aneh. Kita ngerasa cocok dan terbentuklah The Panturas tanggal 1 Januari 2016.

Kenapa memilih nama The Panturas?

Surya : Waktu itu kita pernah pake nama Arabian Spring, Onta, terus apalah, pokoknya yang ada unsur padang pasir atau pantai, haha. Inspirasinya dari nama band The Ventures, kemudian jadi Project Ventures, lalu diplesetin jadi The Panturas karena lebih ada kearifan lokal aja sih. Selain itu, nama Pantura sudah identik dengan pantai.

Kenapa harus genre surf rock?

Rizal : Saya dicekokin Surya awalnya, saya mah ngikut ajah.

Surya : Tertarik banget dengan musiknya, juga masih jarang di Bandung. Saya sendiri ada band lain yaitu Alvin and I dan Soft Blood, tapi pengen buat yang urang pisan (gue banget) musiknya dengan surf rock ini.

Cecep : si surf rock ini enak aja dibawainnya, unik juga. Slow-nya dapet, goyangnya juga dapet.

Rizal: Banyak yang mendukung dan menunggu karya kami, terutama di lingkungan kampus termasuk dosen-dosen yang banyak memberi masukan dan referensi.

Apa kalian seorang pegiat pantai juga?

Rizal : Engga, cuma senang aja sama pantai. Bosen kita di gunung denger folk terus. Mainin surf rock aja jadinya, sambil berkhayal di pantai, haha.

Proses Pembuatan lagu dan cerita di balik “Fisherman’s Slut”?

Surya : Awalnya lagu ini cuma instrumen yang dibuat Abyan, dia jago kalau buat riff gitar. Aku coba pake lirik biar lebih bercerita. Sebenarnya ini karangan fiksi yang bercerita tentang pelaut yang memuaskan libidonya dengan jasa pelacur, kemudian nggak sengaja nemu berita yang mirip dengan karangan yang aku buat.

Melalui liriknya yang terkesan “seksis”, bagaimana tanggapan kalian sendiri?

Surya : Kita berada di ranah deskriptif saja sebenarnya, cuma ingin bercerita.

Abyan : Lagi pula seksis itu salahnya di mana, sih? Kalau ada yang bicara seksis atau apapun itu, sebenarnya bahasan-bahasan orang musiman, haha.

Cecep : Lagian juga musik kalau menurut saya mah bodo amat, lirik seperti apa itu bahasa Inggris jarang ada yang tahu. Pas denger musiknya, mabok terus joget, haha.

Kenapa genre surf rock indentik dengan gitar dari Fender seperti Stratocaster, Jazz Master, Mustang maupun Jaguar?

Rizal : sebelumnya pake gitar Epiphone, tapi kurang dapet karakternya. kemudian disaranin untuk pake gitar-gitar yang singe coil ala Fender yang memang cocok sound-nya. walau tanpa efek apapun, langsung colok ampli udah pas.

Materi yang bakal digarap selanjutnya bakal seperti apa? Apakah mengikuti pakem surf rock dengan instrumental atau mengambil ciri khas tersendiri?

Rizal : Belum terpikirkan sebenarnya. Ada kesulitan juga memasukkan lirik pada instrumen yang telah jadi, “Fisherman’s Slut” pun pada awalnya susah.

 

Kesibukan di luar The Panturas?

Surya : Saya masih kuliah  dan main di beberapa band lainnya.

Cecep : Saya kerja dan jadi MC juga kadang-kadang.

Aziz : Sibuk di karang taruna, haha.

Abyan : Kuliah. sama ada band lain juga, tapi sekarang lagi fokus sama The Panturas.

Rizal : Baru lulus kuliah, tapi masih suka ke kampus jadi instruktur radio dan lab audio.

Planning ke depannya dari The Panturas?

Rizal : Belum tau mau buat EP atau Full Album, tapi materi sudah ada 4 termasuk “Fisherman’s Slut”. Lewat single yang kemarin, kami mau tah­u antusias dari pendengar saja dulu.

***

Foto: Dokumentasi The Panturas

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)