Wreck: Sepak Terjang, Memaknai Punk, dan “Hey, Tolong Ambilkan Saya Satu Batang Rokok!”

Waktu menunjukan pukul setengah enam dini hari. Saya baru saja terbangun dari tidur yang singkat, dan pemandangan pertama pagi itu adalah sebuah hiruk pikuk persiapan keberangkatan menuju Bogor. Selepas mandi, semua orang sudah siap untuk pergi. Mesin mobil pun tengah dipanaskan. Setelah menghabiskan sebungkus kupat tahu untuk sekedar mengganjal perut, dengan mantap saya masuk mobil untuk melakukan kunjungan ke Kota Hujan bersama rombongan unit post-punk Bandung bernama Wreck, demi menghadiri acara Kandang Kandung Kuda, di pelataran parkiran RRI, Bogor. Perjalanan kami pun dimulai pada Sabtu, 27 Februari 2016, pagi hari.

***

Jumat, 26 Februari 2016. Saya baru saja mendarat di kediaman Ipul, sang pembetot bass Wreck di Kiaracondong pada pukul delapan malam. Saat itu, hujan sedang deras-derasnya. Saya tiba disana dengan kondisi kebasahan. Ipul sendiri tengah asyik bermain game kala itu, dan baru berhenti saat saya sudah  beres mengeringkan badan.

Kumaha pul, sehat?”

“sehat dong,” ucapnya seraya beranjak ke dapur untuk membuat secangkir kopi susu.

Dengan ditemani putaran film anime serial Prison School yang sebelumnya sudah direkomendasikan Ipul lebih dulu, kami habiskan malam itu dengan berbincang panjang lebar.

“Aing nteu nyangka siah (saya nggak nyangka),” Ipul kembali mengawali obrolan.

“Si Killeur Calculateur, band Malaysia nu baheula ka Bandung, salah seorang personilnya bilang kalau Wreck itu salah satu inspirasi si Killeur Calculateur untuk membuat lagu dalam bahasa lokal”.

Cerita itu berawal dari Second Combat, eksponen hardcore dari  Malaysia yang sempat melakukan show di Cipanas dan Cianjur pada tahun lalu. Mereka rupanya membawa pula EP self-titled dari Wreck saat kepulangan mereka ke negeri jiran pasca rampungnya permainan mereka di dua kota tersebut. sesampainya di kampung halaman, para personil Second Combat memberikan kabar tentang musik Wreck kepada rekanannya. Salah satunya kepada para punggawa Killeur Calculateur, yang entah kenapa, menurut penuturan Ipul, mereka terasa terilhami untuk membuat lagu berbahasa lokal akibat mendengarkan debut EP pertama Wreck tersebut.

“si gitaris Killeur Calculateur-nya bilang sendiri, pas aing nganterin dia jalan-jalan,” kata Ipul sambil meminum kopinya perlahan.

Bagi saya pribadi, saat karya sendiri berhasil menginspirasi, tentunya itu akan menimbulkan suatu kepuasan tersendiri, dan mereka, Wreck, jika benar telah melakukannya, mereka pantas berbangga hati. Saya dan Ipul masih ngobrol hingga larut malam, sambil menunggu kedatangan Dikdik sang gitaris Wreck, dan juga Dally Ambar ‘Muchos Libre’ yang esok hari, di gelaran Kandang Kandung Kuda, dia akan melakukan kolaborasi bersama kawanan liar penggagas event tersebut, The Kuda. Firman, penabuh drum Wreck juga mampir ke rumah Ipul meski hanya sebentar. Tersisa saya, Dikdik, dan Dally yang bermalam di kediaman Ipul. Oke, kami harus tidur, karena besok akan jadi hari yang melelahkan.

***

Rombongan Wreck sudah menepi di  pelataran RRI. Cuaca segar khas Bogor menyambut kami dengan ramah. Venue masih sepi, karena acara sendiri akan dimulai pada jam empat sore, dan kami, terlalu cepat untuk berada disana, jarum jam masih menunjukan jam 12 siang. Namun, memang ada baiknya untuk hadir lebih awal. Wreck, jadi kedapatan waktu untuk bisa melakukan check sound, karena bila melihat setelahnya, banyak juga yang tidak mendapat waktu untuk hal tersebut.

“Untuk teman-teman Wreck, diharapkan segera check sound”  kata sang manusia gua, Adipati, vokalis The Kuda saat band-nya usai melakukan pengecekan di atas panggung.

Waktu itu, gerombolan Wreck belum siap. Mereka harus menunggu Acil, si vokalis terlebih dahulu. Dia berangkat dari Jakarta karena memang sedang menetap disana akibat pekerjaannya. Acil tiba pukul dua siang kala itu. Saat Firman melakukan check sound untuk bass drumnya dengan beat konstan, Acil terlihat melakukan dance yang mengikuti ketukan drum.

“Maneh kayanya ada passion di dance, ya, cil?” Tanya saya.

“Aslina,” ujarnya sambil tetap mempertahankan gerakan. Jawaban “aslina” menunjukan bahwa dia sedang menjawab “ya” dengan tegas.

Tepat pukul lima, setelah penampilan dari The Draguars, Wreck mendapatkan gilirannya untuk melancarkan aksi. Dua MC, dengan jokes serta nasehat-nasehat basinya seperti “jangan pernah masuk major label”, “pertahankan jadi band indie,” dan sebagainya, mengajak Firman dan Acil bercanda terlebih dahulu sambil menunggu persiapan dari Wreck.

Death metal” jawab Acil, ketika MC bertanya tentang genre musik Wreck.

Kumpulan Wreck sendiri memberikan suguhan musikal catchy yang berisikan nomor-nomor  seperti “Attentat”, “Tanpatuan”, dan “Nyanyian Kosong”. Entah gugup atau kenapa, Acil sebagai frontman tampak tidak begitu interaktif di sela-sela pergantian lagu. Tidak banyak dialog yang dilontarkan pada penonton.”Hmm, ngomong naon nya?” kata Acil di salah satu jeda, lantas setelahnya langsung melemparkan candaan pada Adipati.  Bagi saya, Wreck saat itu membawakan tujuh tembangnya dengan rapi. Namun setelah show berakhir, Ipul sedikit mengeluh dengan tempo. Terlalu cepat katanya. Namun, saya rasa hal tersebut malah membuat lagu-lagu mereka semakin berenergi.

Setelah break maghrib, acara dilanjutkan oleh penampilan dari Bequiet. Saya memutuskan untuk mengajak Acil, Firman, Dikdik, dan Ipul untuk minggir sebentar ke area parkir. saya ingin berbincang tentang Wreck lebih dalam. Tentang apa saja yang telah mereka lakukan, dan planning mereka di hari mendatang.

“Capek dan nervous, soalnya ini kita baru main lagi setelah gigs terakhir lima bulan yang lalu,” pungkas mereka saat saya tanya kesan-kesannya setelah beres tampil di Kandang Kandung Kuda ini.

Agak penasaran dengan sejarah pembentukan Wreck, saya juga bertanya tentang hal itu. Ide pembuatan Wreck digagas oleh Ipul dan Acil pada awalnya. Saat itu, Acil sempat stuck untuk menentukan siapa lagi yang akan diajak bergabung mengisi posisi bass dan drum. Ipul dan Acil akhirnya mengajak Dikdik, teman satu tongkrongannya yang emang sedang galau dengan band lamanya (Straightback/Ejakulasi Dini), untuk mengisi posisi gitar.

“Dikdik efek gitarnya kan banyak, tuh, sayang kalo nggak dipake” sembari terkekeh-kekeh, Ipul menjawab. Lalu, saat Ipul sedang membuka timeline Twitter-nya, muncul nama Firman, dia tengah ‘berkicau’ kala itu, dan kebetulan, Firman juga diketahui bisa bermain drum. Firman pun masuk ke dalam barisan Wreck untuk menempati posisi drum. Maka, Wreck terbentuk pada akhir tahun 2013. Tepatnya, di bulan November.

“Pada saat membentuk Wreck, sepengetahuan saya, itu lagi rame banget bermunculan band-band yang mengusung tema kegelapan atau apalah itu. Lalu kami pun mencoba membentuk band dengan mengangkat genre berbeda dari tren saat itu, dengan harapan bisa timbul sesuatu yang baru dan bikin ‘kacau’, istilah kerennya mah. Wreck sendiri itu artinya kekacauan. Ya walaupun sebenernya intinya kita pengen main musik yang kita suka aja. Sesederhana itu. Nama itu terlintas pas saya kebetulan lagi nonton film animasi Wreck It Ralph, nah saya comot dari sana.

Sebenernya, dulu ada beberapa opsi buat nama band, tapi yang dipilih Wreck karena lebih singkat dan gampang diingat” ucap Acil, memberitahu asal muasal dari nama Wreck. Jawaban mereka membuat saya puas, karena sebelumnya saya pernah menyaksikan beberapa kali interview mereka dengan berbagai media mengenai pembahasan arti nama tersebut. jawaban mereka di sana selalu mengatakan “tidak ada artinya”.

Agak aneh juga menurut saya, bila memberi nama sesuatu tanpa harapan-harapan yang jelas. Seperti memberi nama pada anak, misalnya. Para orang tua akan menyelipkan doa pada nama anak-anaknya, bukan?

“Kekacauan yang kami maksud disini lebih bermakna mendistraksi orang dari genre musik yang lagi nge-trend waktu itu sih. Walaupun sebetulnya gak peduli juga mereka mau main musik kayak gimana juga ha ha ha. Cuma ya itu dia, saya cuma bosen aja.” Acil menambahkan lagi penjelasannya.

Dalam segi musikalitas, pada awalnya Wreck benar-benar membuat materi layaknya band asal Amerika, Fugazi. Namun saat menggarap lagu-lagu di EP self titled, mereka mulai bereksperimen menggabungkan banyak sentuhan musik lain; dari sentuhan Frightened Rabbit hingga Bloc Party. “Malah materi awal kita kaya sampah pas mempertahankan konsep musik kaya Fugazi. Rasanya masih kurang pas” Firman tertawa seraya menjelaskan.

“Jadi gini…. dulu waktu saya dan Dikdik punya materi, saya langsung kasih ke Firman di studio, dia malah ngasih ketukan-ketukan yang terlalu powerful ala band metal. Kurang cocok dengan materi yang saya dan Dikdik kasih. Disaat mentok itulah kita dengerin album Silent Alarm milik Bloc Party dan merasa ada beberapa part mereka yang cocok buat dimasukin di lagu-lagu kita,” jelas Ipul dengan diiringi pergerakan kumisnya yang jujur saja, agak lucu hingga membuat saya banyak tertawa di sepanjang wawancara ini.

“Saya lebih suka mendefinisikan musik Wreck sebagai band punk. Kalau kata orang lain band post hardcore, itu biar aja gimana orang itu. Bebas, haha” jawab Acil saat ditanya tentang genre dari musik Wreck.

EP pertama mereka, Self-Titled, dirilis berbarengan dengan perayaan hari Record Store Day di tahun 2014. Album format cassette yang dibanderol dengan harga dua puluh ribu tersebut, setelah beberapa kali dicetak ulang, akhirnya bisa diunduh secara gratis berkat bantuan Tsefula/Tsefuelha Records. Perihal produksi rilisan kasetnya, mereka memilih untuk melakukannya secara mandiri dengan modal awal kurang lebih empat ratus ribu. Dari uang produksi per-kasetnya yang mencapai sepuluh ribu, mereka sepakat untuk menjualnya di harga dua puluh ribu. lalu, keuntungan sepuluh ribu mereka putarkan untuk merilis ulang album dan beberapa merchandise.

“jadi, bagi yang punya band dan mau merilis album, kalau tidak ada label yang mau bantu, PD aja buat produksi album sendiri. Toh, kalau dipikir-pikir, kita bisa lebih untung juga.” Saya sepakat, Pul. Dengan cara begitu, keuntungan memang akan mengalir seratus persen ke kantong sendiri.

Beda halnya dengan keterlibatan mereka di dua album kompilasi Grimloc Records. Awal mulanya adalah saat kompilasi Memobilisasi Kemuakan di tahun 2014. Mereka diajak langsung oleh sang empunya label tersebut, Ucok, alias Morgue Vanguard (ex-Homicide). Nomor Wreck bertajuk “We Drift Like Dandelions” terpilih oleh para personil untuk mengisi daftar putar kompilasi tersebut karena lirik lagu dirasa merepresentasikan isu yang diangkat oleh kompilasi bebas unduh itu, yakni tentang pesta pemilu capres, atau, pesta persaingan alot antara Jokowi dan Prabowo.

Sekedar intermezzo, masih hangat di pikiran saya, betapa memuakkannya persaingan dua kubu tersebut. Padahal, cih, bagi saya kedua calon itu tak jauh beda. Maaf, Lihat saja sekarang. Sang pemenang yang cenderung terlalu ramah terhadap investor dengan ide pembangunan infrastrukturnya, malah kerap kali mengorbankan nasib rakyat kecil. Sebegitu urgent-kah, masalah infrastruktur?

Lanjut di kompilasi Organize. Dalam press release, pihak Grimloc berkata bahwa ide dan semangat awal pembuatannya, lahir dari komunikasi intens dengan beragam komunitas di Bandung  yang konsisten membangun inisiatif dan otonomi aktivitas warga kota. “Kita tertarik ikut kompilasi itu karena nanti, beberapa persen dari keuntungan hasil penjualannya akan disalurkan ke beberapa komunitas otonom salah satunya ke Rumah Bintang, plus banyak harapan temen-temen dari sana. Semoga itu kompilasi bisa jadi titik awal di mana setiap tongkrongan yang beda-beda itu bisa bikin sesuatu sama-sama.” Acil menjawabnya jelas. Di kompilasi yang akan dirilis dalam wujud fisik tersebut, Wreck ikut berkontribusi dengan menyumbang lagu berjudul “O’ Heaven, I Am Bored!”. Organize sendiri mulai digagas pada tahun 2015, dan sampai hari ini, belum rampung juga.

Asa nteu rilis-riliis, euy. Didagoan. Tapi pas saya nanya ke Ucok langsung, agak maklum juga. Soalnya secara konseptual, Organize itu bener bener digarap sendiri sama dia, terus Ucok juga kebetulan punya pekerjaan lain selain mengurus Grimloc-nya. Saya sebenernya pengen bantuin sebisa saya, tapi apa daya sekarang saya tinggal di luar kota Bandung” tutur Acil, menjelaskan.

Full album pertama pun, kini tengah Wreck siapkan. “sejak bayi udah cita-cita pengen punya album,” kalau kata Ipul. proyeksi mereka, album itu akan selesai di tahun depan. Kini mereka sedang mencicil materinya. Beberapa lagunya sudah dibawakan di panggung Kandang Kandung Kuda barusan. Lagu yang lumayan menyenangkan untuk disimak dengan masih mempertahankan warna musik punk seperti materi-materi lagu mereka sebelumnya. Entah judulnya apa.

“Ngomong atuh, anjing, Dik, barudak wae nu ngomong” hardik Ipul, sambil tertawa kepada Dikdik yang sedari awal memang banyak diam. “Untuk yang terdekat, dalam beberapa bulan ke depan, kita bakal ngerilis split album Wreck bersama salah satu band dari Malaysia,” Dikdik lalu menjelaskan tentang isu split album mereka. “kita masih belum bisa ngasih tau nama band malaysianya. Barkan jadi kejutan aja,” Firman lalu menambahkan jawaban. Katanya, rekomendasi untuk melakukan split album dengan band Malaysia itu datang dari para awak band Killeur Calculateur. Sampai tulisan ini dituliis, mereka masih enggan untuk menyebutkan nama band Malaysia tersebut. Sial (ternyata nama band Malaysianya adalah Janitor. Saya mendapatkan informasi ini dari kicauan akun twitter @ruangkecilrecs Tanggal 7 Maret, Pukul 06.45 WIB).

“Menurut maraneh kumaha, tah, pendapat tentang band punk yang anti bermain di acara dengan sponsor korporasi besar? Seperti acara dengan sponsor rokok misalnya,” saya iseng bertanya.

“dari dulu, punk itu sudah gagal,” saya mencoba mencermati jawaban dari Ipul.

“Pam (Runtah/Kontaminasi Kapitalis) pernah nulis di salah satu essay-nya bahwa dari zaman Sex Pistol, punk itu sudah gagal dalam merepresentasikan gerakan punk sebagai gerakan perlawanan,” Ipul kembali menjelaskan.

Pertanyaan iseng yang saya ajukan kemudian berubah menjadi obrolan pelik penuh lika-liku, yang sebenarnya saya tak mengerti arah penjelasan mereka. Terlebih lagi, saya tidak berhasil mendapatkan essay Pam yang mereka sebutkan. Komplet sudah, saya tidak bisa memahami mereka. Jadi, saya putuskan untuk tidak mengedit percakapan mereka mengenai hal ini agar Anda dapat menyimpulkan sendiri.

“Dulu kalau nggak salah di tahun 60-70an. pasar musik dikuasai oleh musik macam The Beatles. Di situlah lalu muncul The Stooges dan The Doors, atau Malcolm McLaren yang gabungin anak muda jadi Sex Pistols. Jenis musik yang mereka mainin adalah bentuk perlawanan terhadap industri musik kala itu, apalagi kalau baca liriknya. Itu mungkin salah satu contoh perlawanan pada industri musik yang tanpa disadari oleh mereka sendiri akan jadi salah satu sejarah terbentuknya musik punk,” Acil menjelaskan sambil tersenyum.

“kalau ada yang bilang punk itu identik dengan perlawanan, menurut saya itu mah sudah campur aduk sama politik dengan P besar. Misalnya saja, anarko-punk, itu punk yang sudah dicampur anarkisme. Bagi saya pribadi, punk mah cuma sebatas musik, tidak lebih” Ipul mulai berapi-api.

“Gak masalah sih kalau ada band punk yang anti atau mau bermain di acara dengan sponsor rokok. Cuma ya kurang efektif kalau mempermasalahkan itu sekarang, kalau kata saya. Tapi selama mereka percaya dengan apa yang mereka yakini, itu fine-fine aja. Malah saya salut, soalnya saya nggak bisa seperti itu. Saya cuma paham kalau punk gerakan anak bandel, itu saja.”

Acil menyanggah. “Definisi punk itu banyak, ya salah satunya mungkin kaya anak bandel, hehehe” jawab Acil. “Oh iya, buat band-band yang main di acara rokok, itu sih urusan mereka. Saya jujur aja gak peduli. Sekarang udah bukan jamannya mempermasalahin hal-hal macem; “lu sell-out, gak nge punk, dll”. Ada banyak hal yang jauh lebih menarik dibanding itu semua. Kita cuma bisa bilang, mungkin itu jalan yang mereka pilih. Cuma dulu ada satu cerita lucu: ada band mau kampanye anti-rokok tapi main di acara rokok. Itu lucu. Bikin bingung, tapi yaudahlah ya.”

Oke. Benar juga kata Acil. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dibicarakan. Apa pula pentingnya membahas keengganan sekelompok orang untuk bermain di acara dengan sponsor korporasi besar? Itu urusan mereka untuk memilih jalan perlawanannya sendiri. Mendiskusikan kejahatan perusahaan rokok sambil membakar sebatang rokok pun, saya rasa tidak masalah. Silahkan pilih cara paling nyaman dan cobalah jujur pada diri sendiri.

Saya selesai.

“Intinya mah kalo yakin sama sesuatu, gaspol aja. Eh, eta rokok aya keneh, nteu?” lalu saya menyodorkan sebatang rokok filter kepada Acil. kami masih di area parkir sampai Tarrkam meraih kesempatannya untuk tampil di panggung Kandang Kandung Kuda.

Rizki Firmansyah

sarat misteri dan penuh gairah. sedang belajar menulis di surnalisme.com