Barefood – Milkbox (Anoa Records, 2017)

Kotak bernutrisi baik sekaligus awet dari duo pop kebanggaan Bekasi.

 

Jika ‘sebuah grup musik yang telah memberi kesan baik di awal, tidak melimpahkan materi lebih menakjubkan di karya selanjutnya’ hukumnya haram. Maka Barefood sedang tak berdosa. Mereka berhasil melewati pantangan melalui album penuh pertamanya. Sebelumnya duo pop alternatif asal Bekasi ini telah berhasil membuat kancah lokal terkagum-kagum, terlebih ketika mereka menelurkan album mini Sullen di 2013 silam.

Maju empat tahun (bergandengan kembali dengan label Anoa), Barefood kembali menjadi berlian mengkilau sekaligus kandidat kuat untuk kategori album terbaik 2017 di ranah altenatif. Bahkan, sampai beberapa tahun ke depan (menurut kacamata saya tentunya). Terbukti di album yang diberi titel Milkbox, mereka melimpahkan suguhan musikalitas yang ciamik. Kasarnya, mereka menaikan level setinggi mungkin untuk terdengar lebih intelek juga berkelas dari sebelumnya. Wahid.

Bila dibandingkan dengan era Sullen yang gaspol, duet Ditto Pradwitto-Rachmad Triyadi kala itu, bermain cukup brutal untuk ukuran unit pop atau semacamnya. Di mana nomor-nomor didalamnya sanggup memanaskan crowd di pit hc/punk sekalipun. Paling terakhir, mereka terlibat keringat di lantai dasar Rossi Musik Fatmawati, untuk lawatan Asia grup shoegaze Nothing (AS), bersama Modern Guns, Total Jerks, dan Collapse.

Ketika kita membicarakan Milkbox, lain ceritanya. Masih dengan bumbu indie rock 90’an, namun mereka membiarkan serbuk manis power pop berhamburan hampir di semua trek. Sesuai dengan tajuknya yang merujuk kepada minuman sehat, nutrisi baik a la Teenage Fanclub, The Lemonheads hingga Pavement mereka takar dengan sedemikian rupa baiknya. Sebenarnya liukan gitar dan ketukan drum semacam ini, sempat saya temukan di kuintet asal Yogyakarta, Skandal beberapa bulan lalu dari EP-nya. Tapi untungnya Barefood memberi dosis yang lebih gurih dari apa yang Siddha cs tampilkan. Porsinya begitu seimbang; teruntuk vokal, gitas, bas maupun drum yang tak saling kejar-kejaran satu sama lain.

Dalam hal penulisan lirik, hampir semua berbahasa Inggris dan dikemas cukup rapi. Chord maupun chorus masing-masing lagu, beriringan tepat dan tanpa cela. Kebanyakan lirik berbicara perasaan semisal jatuh hati karena hanya dengan sekotak susu (“Milkbox), senjakala remaja tanggung menuju kedewasaan (“Grown Up”) sampai lanskap muda-mudi kekinian (simak “Candy”, “Amelie” atau “Sugar”), walaupun tidak tercantum daftar lirik di lembaran sampul album.

Keunikan sekaligus hal baru di album ada di dua judul nomor mereka yang  berbahasa Indonesia. “Hitam” contohnya yang terdengar menawan, di mana lagu ini memiliki pesan kalut yakni ditinggal seseorang yang entah pergi ke mana. Begitupun dengan accoustic section di “Biru” yang mempunyai makna kesepian menunggu yang tak pasti. Curahan hati dengan bahasa Ibu, memang cukup memberi kesan yang personal dan juga relevan.

Keseluruhan sembilan trek dalam Milkbox tidak sia-sia untuk diperdengarkan, ketika kalian terlambat beberapa detik saja ke kantor maupun kampus. Atau sedang menikmati kesendirian diantara semakin riuh rendahnya metropolis kota hari ini. Bila kalian yang berpasangan, sudah saatnya mendengarkan dengan volume besar di ruang tengah saling rangkul sambil berjingkrak-jingkrak  seperti bola pantul, layaknya menonton live Foo Fighters era dua album awal mereka.

Foto: Dokumentasi Anoa Records.

Karel Trinov

Baba Babi Bubuk