Kelelawar Malam – Jalan Gelap (Lawless Records, 2017)

Jeda setengah dasawarsa lebih dua tahun dari debut album Kelelawar Malam yang fenomenal itu bukanlah waktu sebentar, ada hal yang dipertaruhkan: “Bagaimana kalau album selanjutnya kurang memuaskan pendengar yang sudah lama menunggu dan berekspektasi jika album selanjutnya akan lebih bagus dari album pertama?”

Jujur saja, pertanyaan itu selalu muncul di benak saya.

Kelelawar Malam, sebuah grup horror metal punk klenik asal Jakarta, akhirnya memuntahkan kumpulan nyanyian kultus kepada setan (dalam artian yang sebenarnya) dengan judul Jalan Gelap yang dirilis via Lawless Records, label yang sedang produktif merilis roster-roster berbahaya. Bicara aliran musik jenis ini memang tak jauh dari The Misfits, The Cramps, The Damned, dan kroninya. Dengan formula peleburan antara heavy metal dan horror punk, Kelelawar Malam tak layak mendapatkan sebuah gelar yang memalukan sebagai ‘The Misfits-nya Indonesia’, musik mereka lebih dari itu, akulturasi mutakhir antara budaya luar dan lokal. Musik heavy metal/punk dengan lirik bertema horror lokal yang sangat kental (masih ingat komik dan film tentang hantu lokal tahun 90-an?). Eksplorasi musik di album ini pun lebih beragam, mulai dari NWOBHM, (tentu saja) punk rock, blues, folk, sampai black metal yang dikemas dalam kengerian dengan durasi kurang lebih dua puluh lima menit.

Formasi teranyar diisi oleh Sayiba “Ibay” Von Mencekam (vokal/gitar), Fahri Al-Maut (lead gitar), berpindahnya posisi Deta Beringas yang sebelumnya mengisi departemen empat senar ke enam senar (dan vokal), masuknya Uri Pembantai dari Mongol (yang juga tergabung di duo post-metal, Ghaust) pada bass, dan Hafidh Buto (drum) yang posisi sebelumnya sempat diisi oleh Apin Kiamat. Urusan artwork sampul digarap oleh Dani Tremor (Milisi Kecoa) yang memang tema tiap artwork-nya sangat cocok dengan musik Kelelawar Malam. Sekilas terlihat seperti sampul komik horor lokal lawas atau cover buku ‘siksa neraka’. Sosok dukun santet, pocong, jelangkung, kuntilanak, wajah  yang sangat ketakutan, dan (yang paling saya suka) seorang pria yang mencabut kepalanya sendiri sampai putus. Copot. Bangsat, ngaco.

Tak hanya sampai situ saja, artwork pun bertebaran di tiap lembar lyric sheets yang mewakili tiap lagunya. Kengerian yang murni dimulai dengan track ber-titel “Jalan Gelap”, terasa balutan sound sedikit raw ala punk rock 70/80-an. Liriknya bercerita tentang orang-orang putus asa yang menggadai keyakinan (sial, junkie seperti saya ngerti apa soal keyakinan?) kepada setan dan antek-anteknya yang biasa disebut ‘ahli supranatural’ demi sebuah kejayaan dan kekayaan, tak peduli nyawa anggota keluarga yang jadi tumbalnya. Fenomena standar di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi individu yang mengaku modern dan futuristik atau mereka yang sering berkoar tidak mempercayai hal yang patut dipertanyakan eksistensinya (semacam Tuhan dan hal bersifat gaib lainnya) gara-gara kekenyangan pemikiran para filsuf, saya yakin masih ada sedikit rasa percaya kepada mitos dan takhayul di dalam dirinya. Tidak akan bisa hilang begitu saja, layaknya paganisme di Skadinavia. Artwork untuk lagu ini pun masih merupakan garapan Tremor, terlihat seperangkat perkakas pesugihan, santet-menyantet, pelet-memelet. Awas! Ada jenglotnya!

Selanjutnya “Desmodus Rotundus” yang merupakan nama ilmiah dari salah satu spesies kelelawar penghisap darah. Ini sebuah lagu tentang siluman dengan sebuah artwork karya Rukmunal Hakim, licks vokal yang khas milik Ibay menambah kesan gelap dan dingin, juga mudah menancap di kepala bagaikan paku kuntilanak. Saya tak sabar ingin singalong di moshpit sambil mengangkat tinggi-tinggi hantu pocong yang stagediving ketika mereka membawakan lagu ini. Sebernarnya saya tak terlalu banyak referensi mengenai aliran musik seperti ini, paling hanya Blitzkid yang berhasil nongkrong di alam bawah sadar, mentok-mentok hanya Misfits dan band bangkotan yang seangkatan. Untuk kancah lokal pun tak banyak, hanya si Kelelawar Malam ini lah bajingan yang paling sering diputar karena formula musiknya yang unik, memainkan horror punk tanpa harus terdengar seperti ‘KW super para dedengkotnya’.

Silahkan putar tiga track selanjutnya, dimulai dengan “Setan Jalanan” yang bagian vokalnya mengingatkan saya kepada wajah Iwan Fals di sebuah iklan kopi (mohon lupakan lagu cinta-cintaan miliknya). Hasilnya tepat seperti ini kalau seandainya dia keracunan dan terobsesi film-film yang dibintangi Suzzanna. Lalu intro bluesy terdengar membuka sebuah track berjudul “Babylon” dan dilanjut heavy riff yang amat destruktif, sangat headbangable. Heavy Metal. Dilengkapi gaya vokal Deta Beringas yang sanggup mencapai nada-nada tinggi. Selanjutnya sebuah repertoar berjudul “Horror Metal Punk” yang sempat dirilis sebagai single (juga dalam format 7” oleh Stockroom Recordings beberapa waktu lalu), namun saya baru sempat mendengarkan sekarang karena kebiasaan buruk saya yang tidak pernah mendengarkan tiap single yang dirilis oleh sebuah band, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan…saya suka bagian akhirnya! Sebuah anthem!

“Ordo Vampir”, sebuah single yang sempat diluncurkan tepat pada malam halloween tahun lalu, dilengkapi artwork wajah seorang tokoh vampir bernama Kurt Barlow dari film horor fiksional yang diangkat dari sebuah novel karya Stephen King dengan judul ‘Salem’s Lot. Bercerita tentang bangsa vampir yang berusaha mengubah semua manusia menjadi bagian dari bangsanya dan ingin menguasai dunia. Dilanjut dengan “Sang Pembantai”, intro-nya bluesy sekaligus catchy dan sangat familiar di telinga. Liriknya masih terdengar ngeri, walaupun suasana ceria terasa sampai akhir lagu. Lagi-lagi lagu ini berhasil menjadi favorit saya selanjutnya.

Saya baru sadar, kemana lagu dengan label ‘malam’ (seperti album pertam)a pergi? Tentu masih teringat lagu “Malam Terkutuk”, “Malam Jum’at Kliwon”, dan “Malam Mencekam”. Sudah terlalu banyak suasana malam hari yang mereka jadikan sebuah lagu. Kini eksplorasi mereka tidak mentok cuma sampai disitu, tembang penutup yang berjudul “Merapi” memang cocok disimpan di akhir repertoar album ini. Alam pun bisa murka karena tindak tanduk manusia. Dibuka dengan intro folk epik yang mengingatkan saya pada sebuah musik di pertunjukan wayang kulit, tentu ini sangat tidak asing di telinga, saya tumbuh besar di sebuah keluarga keturunan Jawa yang sangat lekat dengan budaya pertunjukan tersebut, sepertinya orangtua saya masih mempercayai kekuatan magis dari sebuah keris dan wayang kulit (yang katanya jika nonton pertunjukan wayang itu harus sampai beres, tidak boleh pulang di tengah cerita kalau tidak ingin celaka). Kemudian masuk ke sebuat part yang diberi sentuhan unsur black metal, maaf, maksud saya true Norwegian black metal, sebuah crossover yang unik. Waktunya melakukan pose ala black metal yang terlihat seperti sedang meremas biji peler sang udara.

Satu hal yang kurang dari album ini adalah tracklist yang hanya berisi delapan lagu, plus durasi total yang hanya dua puluh lima menit, durasi tiap lagu yang sebagian besar hanya tiga menit terasa sangat kurang bagi saya, tak seperti lagu-lagu di album pertama mereka yang durasinya di atas tiga menit. Namun bagi saya pribadi, banjirnya artwork maut dalam album ini dapat melengkapi kekurangan tersebut, dan saya sangat setuju jika komposisi di album ini lebih berbahaya dari album awal, sepertinya membuat karya yang repetitif memang tak ada dalam kamus Kelelawar Malam. Oh ya, album ini didedikasikan untuk mendiang penggebuk drum Ghaust, Edo Pedrico (1981-2016). Sekali lagi saya ingin bilang kalau Jalan Gelap adalah sebuah album yang layak dijadikan pakem teranyar untuk musik jenis ini di skena musik lokal. Adiktif. Haram hukumnya jika mendengarkan hanya sekali balikan. Dan yang terakhir, untuk para anggota Kelelawar Malam, saya menjanjikan sebuah pengabdian sampai mampus untuk menjadi budak kalian.

 

Teks: Dimas Saputra

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)