Maliq & D’Essentials – Senandung Senandika (Organic Records, 2017)

Kami mencoba meyakinkan, akan ada banyak sekali penggemar Maliq & D’essentials (selanjutnya akan ditulis Maliq saja) yang mengernyitkan dahi saat mendengar album teranyar bertitel Senandung Senandika ini. Namun bagaimanapun, sepenting apapun penggemar bagi para penggawa Maliq, idealisme bermusik mereka tetaplah akan selalu menjadi yang dinomorsatukan. Titel ketujuh ini adalah pembuktian dari Angga Puradiredja dan kameradnya.

Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin beberapa dari kalian yang masih rajin mengecek website musik kesayanganmu ini akan bertanya-tanya, kenapa media seperti kami mau menulis ulasan tentang band pop papan atas seperti Maliq? Jawabannya: Coba dengarkan dahulu album ini, maka kalian akan mengerti. Lagipula, terlepas dari jenis musiknya, apa yang membedakan Maliq dengan..katakanlah, Sigmun? Toh mereka sama-sama mencipta karya. Persetan dengan dikotomi arus utama-arus pinggir. Apa kalian tidak jenuh dengan omong kosong itu? Ah sudahlah,  ini adalah resensi teranyar kami semenjak beberapa bulan silam. Rasanya sudah lupa bagaimana para awak penulis website ini menulis dengan ‘benar’—jika dengan bagus akan terdengar sangat ceroboh karena kami mencoba menuangkan tulisan dengan bagus.

Lain lagi dengan Maliq. Melalui Senandung Senandika, mereka tidak hanya memainkan musik pop dengan benar, tapi juga dengan bagus. Lebih dari itu, mereka memainkan musik pop dengan begitu brilian. Masih dengan lirik-lirik simpel namun tepat guna dan tidak kacangan. Musik mereka kali ini agak berbeda. Lebih rumit. Eksperimentil dengan kadar dosis yang bersahabat. Meskipun ada banyak pertanggungjawaban yang harus dibuktikan dalam mengemban kategori eksperimental. Sepertinya Maliq bisa menjawabnya satu persatu. Dengan orang-orang sekaliber Angga dan Widi Puradiredja hingga Lale dan Jawa. Kita pasti akan selalu dibuat percaya dengan hasilnya. Meskipun tidak dalam ideologi tentunya, karena orang-orang kadung mencap Maliq adalah grup musik R&B/Jazz. Argumen ringan seperti itu tidak sepenuhnya salah, toh Maliq tidak lupa dengan musik yang mengantarkan mereka menuju rimba musik papan atas nasional. Dalam track berjudul “Kapur” misalnya, mereka masih dengan sadar memasukan saksofon di setengah akhir total durasi untuk sedikit kembali menyadarkan pendengar. bahwa “Bagaimanapun, kami masih Maliq yang dahulu kalian dengarkan.” Mungkin saja Angga akan berkata seperti itu sambil membenarkan letak kacamata minusnya. Dalam nomor “Idola” pun, Maliq masih bermain di wilayah pop ringan meskipun dengan lirik yang sedikit kontemplatif dan menggugah tentang orang tua. “idola, sepanjang masa dia yang selalu menjadi bintang/ di malam yang tergelap dia selalu terang,” lirih Angga seakan menelanjangi lagu dengan sentimentalitasnya.

Tapi jika kalian mendengarkan “Sayap” sebagai pembuka album ini, kalian akan dipaksa terdiam sejenak. Intro-nya dimulai dengan perpaduan antara suara synthesizer dengan sitar yang kemudian dilanjut dengan choir orkestral yang menandakan perubahan akan dimulai bersamaan dengan perpindahan tempo cepat. Suara Angga kemudian muncul. “sayap-sayap terbangkan aku/ jiwa raga bebaskan aku,” lirihnya. Entah ingin terbebas dari apa. Namun jelasnya, mereka kali ini telah bebas untuk terus bereksplorasi. Buktinya saja tak ada yang menghentikan suara lead synth yang menggelegar dan synth bass yang berdistorsi di lagu ini. Setelah Angga dan Indah meneriakan suara hati dan panggilan hati secara repetitif di akhir lagu, lagu ini berakhir dengan menyisakan sebuah rekahan senyum di bibir. Simpul senyum yang sebenarnya menutupi keinginan untuk berkata kasar karena lagu ini bagus sekali!

Kejutan yang lain muncul lewat nomor “Maya”. Dimulai dengan intro berisi iringan nyanyian kasidah dengan ketukan gendang ala musik tradisional melayu, lagu ini dilanjut dengan dentuman disko yang bersahabat. Dan semua kejutan itu adalah musik pengiring untuk bernyanyi tentang krisis identitas di era media sosial! “Mencoba terus ikuti arus, penuhi haus perhatian/ penuh filtrasi untuk mencitra, bagai ilusi tanpa logika/ hilang peduli siapa melihat selama kita bisa terlihat,” ujar Angga dan Indah secara satir. Dan oh, betapa lirik ini sangat tepat sekali jika dinyanyikan didepan remaja-remaja tanggung yang menganggap bahwa kehidupan di dunia maya itu lebih penting. Tapi kegilaan mereka tidak hanya berhenti disini, coba simak solo gitar dengan efek yang absurd di menit 03:25. Dan kegilaan itu terus berlanjut hingga lagu berakhir. Maaf jika kali ini saya tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara kasar. Tapi Maliq memang brengsek. Rasanya seperti mereka berevolusi di setiap albumnya. Peningkatan kualitas terus terjadi sejak album Sriwedari dan Musik Pop, dan mereka mencapai puncaknya lewat album Senandung Senandika ini.

Satu track semi-ringan yang merupakan single dari album ini adalah “Senang”. Tembang ini memiliki semuanya, sensibilitas pop dalam koridor aman, eksplorasi synth yang berkilauan dengan lirik romantis tanpa banyak metafora menjemukan. Suara efek dari synth di intro pun terdengar sangat dewasa namun nakal. Entah bagaimana Angga bisa muncul dengan semua ide musik di album ini. Tapi jika meminjam lirik lagu “Senang”, percaya tak percaya, caranya yang dirahasiakan. Meskipun memang tak semuanya dirahasiakan, namun setidaknya kita tahu bahwa di usianya yang ke-15 ini, Maliq telah tumbuh menjadi kolektif yang dewasa dan bijak. Dalam artian mereka tetap memberikan porsi yang sama antara idealisme dengan selera pasar hari ini. Mereka sadar bahwa perubahan total secara mendadak akan mengagetkan dan hanya akan membikin kehilangan sebagian penggemar. Tapi dengan cara seperti ini—masih memberikan ruang untuk penggemar lama mereka yang masih menginginkan mereka untuk membikin lagu serupa “Untitled”, “Pilihanku” atau “Dia” kembali—Maliq masih bisa memanjakan para penggemar lamanya, sekaligus mendapatkan penggemar baru.

Pun, sebagai penutup, kami menilai posisi kakak beradik Angga dan Widi laiknya otak dari kejeniusan Maliq. Kedua sosok ini sahih dilabeli sebagai musikus terbaik yang pernah dimiliki kancah musik papan atas nasional. Semakin tak terbendung. Lewat album ini, mereka benar-benar mengeluarkan segala kegilaan musikal di otak mereka yang sepertinya tertahan selama bertahun-tahun. Baik dari segi aransemen hingga lirik, mereka seolah sedang menampar banyak band dan musisi yang tengah stagnan dan tak pernah bergerak dari zona nyaman mereka. Terakhir, Maliq & D’Essentials, dalam perjalanan mereka, pada akhirnya telah berhasil keluar dari zona itu. Mencoba untuk perlahan mencapai langit ketujuh.

“Datang hilang berselang hari berlalu/ jejak langkah menapak harapan baru/ bertahap menanjak tangga menuju/ hingga langit ke tujuh terbanglah aku.”

Foto: Net.

Mirza P. Wardhana

"Menulis adalah sebuah proses mengetik." - Caca Handika.